[ISL] Bedah Strategi Dan Formasi Arema vs Persiba

Ditulis Oleh WeAremania     Selasa, 13 Desember 2011
( Dilihat Sebanyak 332 Kali )





Wearemania.net - Usai kalah melawan Persela Lamongan di kandang, Wolfgang Pikal melakukan sejumlah perubahan, Dudi Hidayat (tengah), Kery Yudi (tengah) Komang Arya (kiper), dan Charis Yulianto (bek) dimainkan sebagai starter menggantikan pemain yang menjadi starter di pertandingan pertama daripada Nurul Mauludi, Boy Jati Asmara, Dicky Firasat, hingga kiper Dian yang cedera.

Di sisi lain pelatih Hariadi, usai kekalahan melawan Persiwa, dia tidak memainkan Asri Akbar, sebagai gantinya, Sultan Samma dipilih untuk beroprasi di lini kanan pasukan Beruang Madu.

Babak Pertama

4-2-3-1 vs 4-4-2
Di babak pertama, terjadi pertarungan adu formasi, Arema yang pekan kemarin banyak lubang ketika memainkan 4-4-2. Kali ini memainkan permainan yang cukup ramai di tengah, pola 4-2-3-1 dipilih untuk menghentikan agresifitas formasi tuan rumah yang berbentuk 4-4-2 sejajar. Di lini tengah aliran bola Sohei Matsunaga tidak bisa menemui sasaran dengan bagus selama interval 15 menit pertama. Hal ini terjadi karena dia (bersama Sembiring Usman) harus menghadapi situasi 2 vs 4 di lini tengah. Keadaan itu membuat duet striker Aldo dan Kenji terkunci mati oleh 2 bek besar Arema, Charis Yulianto dan Seme Patrick.

Arema yang menang lini tengah justru beberapa kali melancarkan serangan kepada gelandang serang Fery Aman Saragih dan Firmansyah Aprilianto. Namun Marcio Souza yang dijadikan striker tunggal nampaknya untuk kesekian kali tidak punya kecepatan untuk menyambut derasnya aliran bola yang menuju kepada dirinya.

Sebagai bentuk pemahaman, anda bisa melihat grafis formasi pertandingan, Arema banyak menumpuk di tengah. Ramainya pemain di tengah membuat dua fullback Persiba Supriyadi dan Dwi Joko membantu serangan. Namun lini belakang Arema yang sudah bermain rapat membuat bola itu hanya berputar-putar di lini tengah Persiba.

Sembiring sendiri yang digunakan untuk membantu serangan lewat situasi tendangan jarak jauh justru sibuk menahan gemburan 3 gelandang serang Arema, baik Fery, Dudi maupun Firmansyah. Tentu saja ini membuat Sohei bekerja sendirian dalam membuat serangan.

Sebagai hasil terkuncinya Persiba dengan formasi 4-2-3-1, adalah sedikit mereka memperoleh kesempatan untuk melakukan shooting ke arah gawang. Selama 45 menit pertama. Tercatat hanya 3 buah saja tembakan selama babak pertama dimana seluruhnya tidak ada yang mengenai sasaran.

Dudi Sering Maju.
Dudi Hidayat berbeda tipe dengan Firmansyah Aprillianto di sisi kanan. Dudi adalah seorang sayap kiri yang bisa turun otomatis jika diperlukan untuk membantu pertahanan. Sedangkan Firmansyah adalah seorang tipe gelandang serang yang sangat mobile. Dibandingkan dengan Firmansyah, Dudi lebih punya power dan lebih berani membuka ruang.

Namun, Dudi lebih sering maju ke depan daripada turun ke belakang. Dibandingkan dengan posisi rekan dia di sebelah kanan yaitu Firmansyah, Dudi lebih jarang turun, padahal serangan Persiba lebih banyak dilancar di sisi dia. 5 buah umpan crosing diarahkan bergantian antara Sutan Samma dan Dwi Joko. Namun 3 orang pemain tinggi di lini belakang Arema membuat Persiba tidak bisa memenangkan adu kepala.

Tahu ada ruang kosong di sisi kiri. Membuat Matsunaga lebih banyak mengoper bola kepada Sutan Samma daripada Syaiful (kemudian Syaiful cedera, posisi dia digantikan Tomislov Labudovuic, dimana posisi Labudovic di belakang dan Supriyadi maju kedepan). Akan tetapi kesigapan Charis yang beroprasi sebagai libero di sisi kiri tidak membuat serangan yang dilancarkan oleh Persiba menjadi gol.

Posisi space itu membuat Kerry menjadi lebih maju dan posisi Kery diisi oleh Charis Yulianto.

Antara Keberuntungan Dan Kelengahan.
Persiba frustasi karena lini tengah Arema menumpuk banyak pemain yang membuat mereka kesulitan untuk menciptakan peluang berbahaya ataupun shoting langsung dari luar kotak pinalti.

Hal inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh Arema untuk balik menyerang. Melalui Kim Yong Hee, bola Arema pertama dialirkan. Ketika Kim Yong Hee membawa bola, 2 pemain Arema Fery dan Firmansyah aktif bergerak untuk membelah pertahanan Persiba.

Di babak pertama pula, sudah mulai terkuak area kelemahan Arema, dimana Persiba banyak mengincar posisi di kiri Arema.

Babak Kedua.

Hesketh dan Fery Tidak Nyaman.

Di babak kedua formasi 4-2-3-1 yang diperagakan dengan sangat bagus di babak pertama tidak mengalami perubahan. Duet Hesket dan Kim tetap menjadi benteng sebelum bola melewati pertahanan.

Namun, Hesket adalah pribadi yang posisi sejatinya adalah bek tengah. Dia adalah sosok murni sebaga libero yang diposisikan sebagai gelandang bertahan, yang fungsinya adalah menjadi tukang angkut air atau peran keras di tengah lapangan. Akan tetapi karena posisi sejatinya adalah bek maka di babak kedua ini dia menjadi sosok yang bingung dalam menempatkan diri.

Seringkali ketika Sembiring memulai serangan, Hesketh terlampau jauh meninggalkan posnya yang berada di tengah belakang, akibatnya terjad space diantara Kim yang tentu bisa dimanfaatkan. Kim seringkali dalam situasi 'dikeroyok' oleh dua orang, Sohei dan Suttan Samma. Keadaan ini menjadikan lini tengah Arema kalah bola dari Persiba.

Di sisi lain peran Fery Aman Saragih juga tidak senyaman di babak pertama. Sebab dia kerap terjebak dalam situasi dikawal lawan ketika Arema menguasai bola, dan lambat turun ketika Arema diserang. Ketidaknyamanan 2 pemain inilah yang membuat Arema seperti kalah kelas.

Ketidaknyamanan itu bisa jadi dikarenakan kondisi stamina yang sudah tidak kuat lagi bermain 90 menit. Hal itu tidak bisa dipungkiri karena pemain-pemain Arema yang hanya dipersiapkan pendek oleh manajemen.

Posisi Kerry Yudi Yang Salah

Seperti lawan Persela lalu, Kerry Yudi adalah pribadi yang menggantikan peran Nurul Mauludi di sisi kiri pertahanan Arema, tidak mainnya Nurul karena secara statistik dia lebih banyak diserang di areanya, dan kurang bagus dalam melakukan intersep.

Bak seperti lawan Persela, Kery Yudi menjadi kartu mati bagi Arema. Jika di babak pertama peran dia ditutupi secara bergantian oleh Charis Yulianto dan Dudi Hidayat. Maka kali ini dengan stamina rekannya yang sudah habis, dia mau tidak mau harus menyelesaikan masalahnya sendiri.

Dalam 45 menit kedua. 89% umpan crossing dilakukan di wilayah kiri pertahanan Arema. Sedangkan di posisi Khusnul Yuli di bek kanan, hanya terjadi satu kali umpan crossing. Hal inilah yang menyebabkan 2 gol balasan Persiba. Dimana proses kedua gol itu terjadi akibat Kerry Yudi tidak bisa mengantisipasi umpan lambung yang dimulai dari area penjagaannya

Peran dia yang tidak maksimal sebenarnya sudah digantikan oleh Nurul Mauludi, namun stamina temannya yang habis membuat usaha Arema untuk menyamakan skor seperti menembus tembok yang sangat tebal.

Kesimpulan.

Perubahan formasi yang dilakukan oleh Pikal sangat bagus dan cerdas, formasi 4-2-3-1 berhasil diperankan oleh Arema dengan baik di babak pertama. Namun kendala stamina nampaknya menjadi sebuah masalah yang harus diselesaikan oleh tim ini jika tidak ingin menjadi bulan-bulanan di laga ISL selanjutnya.

Arema juga harus melatih finishing dan kerjasama para striker, sebab 5 kali on goal di babak pertama tidak bisa diselesaikan dengan bagus karena cara Arema dalam melakukan finishing yang kurang bagua.

Persiba bak mesin Diesel, nampak seperti bakal mengakhiri pertandingan dengan kekalahan karena melihat permainan di babak pertamam. Tim ini menjelma menjadi tim yang sangat kuat di babak kedua. Sebuah performa yang sama yang ditunjukkan di Jayapura pekan lalu, dimana anak asuh Hariadi ini juga dalam kondisi ketinggalan.

Eksplore Suttan Samma dan Dwi Joko di sisi kiri Arema menjadi sebuah senjata untuk memukul Arema di stadion miliknya yang membuat Arema pulang dengan nol poin.


Gunakan tombol ← → di keyboard Anda untuk berita lainnya














Asa Arema U-21 untuk mendapatkan predikat runner-up terbaik untuk lolos ke babak delapan besar makin sulit usai kalah melawan Persik Kediri U-21. (Foto: Antara)

 


Login