Kesadaran Asli Menuju Arema Asli

Ditulis Oleh WeAremania     Jumat, 13 Januari 2017
( Dilihat Sebanyak 5413 Kali )





Wearemania.net - Minggu pagi biasanya menjadi waktu yang menyenangkan, sedikit menghibur diri dari penatnya rutinitas dan pekerjaan, meskipun bagi ayas hal tersebut tidak berlaku karena berstatus sebagai pengangguran alias sedang tidak memiliki pekerjaan yang menghasilkan ojir (uang).

Namun pagi itu suasananya seakan berbeda dari pagi-pagi biasanya, bagaimana tidak, ketika masih di dalam kamar dan belum sepenuhnya sadar dari nyenyaknya tidur di malam Mingu, terdengar suara kawan dari kamar sebelah berteriak "PSSI pulihkan Status 7 klub yang terhukum, Arema Indonesia akan bermain di Liga Nusantara". Itu sepenggal teriakan yang ayas tulis di sini, walau sebenarnya kalau ayas tulis lengkap isinya penuh dengan update info seputar kongres (PSSI), dan sindiran yang cukup menohok hati. Wajar kawan saya tersebut bukan Aremania dan mungkin cenderung senang dengan hasil keputusan kongres, dengan suara mantap menunjukkan hati yang sumringah, hampir mirip dengan orasi ebes Ovan Tobing kala membakar semangat Aremania di Stadion Kanjuruhan.

Seketika itu juga ayas langsung mencari smartphone yang meski kata teman-teman dibilang jadul, biarlah yang terpenting kemampuan smartphone ayas dalam menyaring berita hoax dengan yang agak-agak fakta cukup mumpuni dan bisa diandalkan, hehe. Ayas duduk berselonjor kaki, nendes kombet tanpa oker (rokok) tanpa ipok (kopi) membuka semua akun medsos yang ada, mulai dari IG, FB, twitter, semua ayas ubek-ubek. Suasana di dunia maya sudah riuh penuh hiruk-pikuk, rasa syukur yang hebat dan terkesan ada makna kemenangan di situ hingga ocehan-ocehan ngece yang menyindir klub, mana lagi kalau bukan Arema!

"Arema berkembang biak", "Salamnya jadi salam dua jiwa ya?", "Terus suporternya gimana? Masih dukung Arema yang itu?". Tapi masih tetap ada yang seakan-akan adalah prestasi dengan menulis "Malang kota bola, nantikan derby Manchaster, Milan dan Malang", "Malang Raya Barometer sepakbola Nasional, luar biasa".

Khusus bagi mereka yang menganggapnya ini adalah sebuah prestasi entah serius atau sekedar guyonan orang-orang yang kecewa berat, ayas menganggap Kongres PSSI dan pengampunan klub-klub terhukum bagi warga Malang khususnya Aremania bukan lah hasil akhir dari kisruh dualisme yang selama ini mendera Arema. Hal ini justru menjadikan suasana di kalangan pecinta bola Malang Raya anget-anget yak opo ngunu, dilema dan bertanya-tanya, "Terus seng bener seng endi se iki rek?". Bukan pada masalah legalitas, sah tidak sah atau siapa yang benar-benar asli, tapi ini lebih pada masalah bagaimana kita semua Aremania ke depannya dalam mempertahankan dan membela harga diri dan jati diri kita yang sudah menganggap Arema sebagai identitas, kultur dan bahkan yang lebih ekstrim disebut sebagai Agama Kedua.

Jargon-jargon kebanggaan yang biasa diteriakkan Aremania akan hampa, kosong tak memiliki nilai jika Arema sebagai perwujudan Malang dalam Sepak bola masih ada dua, ini bagaikan seorang suami yang berkata "Saya mencintai istri saya lebih dari apa pun juga, saya rela kerja mati-matian asal istri saya bisa hidup bahagia", padahal suami tersebut berpoligami, memiliki dua istri yang dalam kesehariannya tidak pernah akur, saling menjatuhkan, saling klaim yang paling dimiliki suami dan saling berkompetisi untuk merebut hati sang suami dengan alasannya masing-masing. Istri pertama mengaku memiliki sejarah panjang yang tak terlupakan dengan sang suami, sementara si mbok enom berdalih bahwa dialah yang merawat, membantu, menghibur dan memberi suport kepada sang suami di kala terjadi kisruh dengan mbok tuwek. Sang suami pun pastilah menjalani keseharian dengan bimbang, si mbok enom selalu merayu dengan sekuat tenaga sementara si mbok tuwek terus menagih janji-janji manis yang telah diucapkannya dulu, "Janji sumpah setia istriku selamnya lalalalala hohoho istriku".

Ayas sebagai Arek Malang yang mengaku Aremania, asli Arek Malang meskipun Malang coret dan baru seumur Amanda Gonzales, tidak begitu paham dengan sejarah perjalanan panjang Arema, termasuk sejarah peralihan kepemilikan yang berakhir di tangan Yayasan Arema, apalagi mengenai kisruh dualisme yang ujung-ujungnya berbicara legalitas, tentunya perlu pemahaman yang cermat disertai dengan data-data, bukti-bukti pengadilan dan semua hal yang menyangkut instrumen hukum. Yang saya ketahui hanyalah Arema sebagai tim swasta sejak berdirinya, hari ini di bawah kepemilikan Yayasan Arema, sementara untuk berkompetisi menggunakan badan hukum Perseroan Terbatas sebagai syarat yang telah ditentukan oleh PSSI. Kasus dualisme yang mendera Arema mungkin berbeda dengan dualisme yang dialami oleh klub-klub lain di Indonesia. PT. Arema Indonesia yang terdaftar di KEMENKUMHAM dalam beberapa tahun hanya eksis dengan namanya saja, karena Arema yang selama ini berlaga di kompetisi tertinggi kancah sepakbola nasional dengan embel-embel Cronus di belakangnya menggunakan PT. Arema Aremania Bersatu Berprestasi Indonesia yang dibentuk karena PT. Arema Indonesia sendiri masih dalam sengketa. Permasalahan yang menyangkut Arema begitu rumit bin pelik, pasca tampil sebagai juara ISL 2009/2010 beberapa waktu kemudian muncul dua Arema dan sempat ada tiga Arema waktu itu.

Di awal-awal perpecahan Aremania sempat dalam kegalauan tingkat tinggi, ada yang merapat ke kubu Arema yang tampil di IPL dan ada yang memilih ke Kanjuruhan mendukung Arema berlaga di ISL. Hingga tulisan ini dimuat sebagian besar Aremania mendukung Arema yang memutuskan untuk memberontak kepada PSSI di bawah naungan PT. Liga Indonesia pada waktu itu, ya Arema FC yang terakhir tampil sebagai runner-up ISC A 2016. Merger dua tim hingga pendirian PT baru ditambah dengan beberapa kali gugat-menggugat terlalu sulit untuk bisa dipahami oleh Aremania termasuk saya, apalagi Aremania yang cenderung tidak mau mencari informasi, hanya sebatas mendukung dengan menonton, berteriak, bernyanyi dan pokok'e joget, termasuk Aremania yang berada jauh dari pusat kota yang juga banyak di antaranya bapak-bapak dan ibuk-ibuk yang setiap hari bekerja dan menonton Arema sebagai hiburan di rumah bersama keluarga dan tetangga.

Aremania sebagai kelompok suporter besar yang ada di Indonesia sampai saat ini tidak memiliki organisasi sebagai wadah atau pun alat yang bisa digunakan untuk mengorganisir dan menyatukan pendapat sebagai langkah dalam pengambilan sikap. Berbeda dengan hampir sebagian besar suporter di Indonesia lainnya yang bahkan satu tim bisa memiliki lebih dari satu organisasi suporter. Tidak adanya organisasi ataupun wadah resmi yang menyatukan Aremania memang sama sekali tidak mempengaruhi kecintaan dan militansi Aremania dalam mendukung timnya. Baik laga kandang maupun tandang Arema masih membuktikan kebesaran, militansi dan kesolidannya dalam memberikan dukungan. Tidak ada orang-orang yang dianggap spesial dan berpengaruh di kalangan Aremania seperti ketua, sekretaris, bendahara, ketua divisi dan lain-lain, semua berstatus sama sebagai Aremania dengan slogan "No leader just togeter". Tapi harus diakui bahwa di masa-masa sulit seperti saat ini dimana Aremania dituntut untuk berani mengambil sikap keberadaan wadah yang resmi sebagai tempat untuk sharing, bermusyawarah dan memikirkan nasib Arema dan Aremania ke depannya sangat diperlukan. Bukan siapa nanti yang akan menjadi ketua, wakil, penasihat dan segala macam tetek mbegeknya, tapi perlunya kita semua untuk satu suara, satu sikap dan satu tindakan yang tentunya hasil dari kemandirian Aremania dalam berpikir untuk menyelesaikan sebuah permasalahan.

Keberadaan korwil di masing-masing wilayah juga harus semakin diperkuat lagi. Bukan hanya mengumpulkan masa, sebagai distributor tiket, membuat bendera, bahkan baju aneh-aneh yang malah menjadikan Aremania seperti menyeng-menyeng "warna-warni seng kadang gak jelas". Akun-akun medsos yang bertebaran di dunia maya juga perlu diperhatikan mengingat sebagai konsumsi keseharian Aremania dari anak yang katanya bau kencur hingga yang jenggotnya beruban. Pertemuan-pertemuan yang sering kali dilakukan baik oleh sesama Aremania maupun dengan manajemen yang menghasilkan keputusan harus ada transparansi yang jelas agar kita tahu dasar dan arah keputusan yang akan diambil.

Di awal-awal terjadinya dualisme banyak hal yang bisa mempengaruhi Aremania untuk mengambil keputusan dalam memberi dukungan, mulai dari ajakan teman, stadion yang digunakan, keberadaan pemain maupun tokoh di tim Arema, anggapan yang mengatakan sering masuk TV dan sering menang, hingga alasan mayoritas mendukung sehingga dianggap sebagai legitimasi keabsahan sebuah tim. Hal tersebut juga saya akui dan akhirnya memang tergiring oleh banyak hal seperti media, teman, dan bukan berarti saya menganggap bahwa Arema yang saat ini saya dukung bukanlah Arema yang asli. Hingga detik ini saya belum berani pastikan mana Arema yang asli atau palsu, karena hal tersebut memang begitu sulit apalagi kalau sudah menyentuh masalah hukum. Saya sebagai orang awam hanya bisa melongo dan sesekali cek timeline untuk mendapat info terbaru tentang Arema terutama yang menyangkut persoalan dualisme.

Siapa pun Aremania yang membaca tulisan ini saya beri pertanyaan kepada umak, apa alasan kuat untuk mendukung Arema FC yang akan berlaga di ISL nanti? Apakah karena mayoritas Aremania mendukungnya, karena sanggup eksis membawa nama Arema dan Aremania? Apakah pendanaan yang kuat dan bertabur bintang? Apakah keberadaan piala dan tokoh-tokoh yang dianggap identik dengan Arema? Semua jawaban yang diberikan tidak akan mampu memberikan kepastian kebenaran jika yang kita cari selama ini adalah ORIGINALITAS AREMA. Adakah alasan kuat bagi mereka yang memutuskan untuk mendukung Arema Indonesia? Nama dan logo yang tidak berubah semenjak Arema belum terpecah? Adanya Sam Ikul di tim tersebut? Apakah jawaban yang muncul nantinya juga bisa membuktikan kebenaran jika lagi-lagi yang kita cari selama ini adalah ORIGINALITAS AREMA. Perlu kita pahami bahwa untuk mencari jawaban dan kebenaran atas permasalahan yang menyangkut hukum perlu diselesaikan juga dengan mekanisme hukum juga.

Kita tidak sedang mencari siapa yang pantas menjadi dirijen, lagu apa yang pas untuk kita nyanyikan, koreo seperti apa yang akan kita buat, yang kesemuanya itu bisa selesai hanya dengan melihat mana yang paling banyak disepakati oleh Aremania. Akankah kita akan terus larut dalam perkara yang sebenarnya jauh dari kemampuan kita yang hanya sekedar berteriak dan berbantah-bantahan di media sosial?

Masing-masing orang tentunya mempunyai pikiran yang berbeda, itu pasti. Tidak ada yang bisa melarang siapa pun untuk mendukung Arema FC, Arema Indonesia atau bahkan memutuskan untuk gantung syal. Tapi selama kita masih mengaku berkumpul atas semangat teriakan salam satu jiwa, kita harus benar-benar satu dalam sikap dan tindakan yang mengatasnamakan Arema dan Aremania. Mereka yang mengatakan bahwa "endi ae seng onok jenenge Arema tak dukung" atau yang mengatakan "Arema seng bener yo seng ndek tv menangan" dan bahkan yang berkilah "Seng bener seng jeneng karo logone pancet koyok jaman'e Robert", mereka semua perlu disadarkan atau bahkan dirukyah dengan serius jika kita semua masih berharap akan adanya keutuhan, persatuan dan harga diri sebuah salam pemersatu arek malang yakni SALAM SATU JIWA.

Mengawal proses hukum memang perlu, itupun jika masih ada upaya untuk meyelesaikan konflik ini ke meja hijau. Tapi jika kedua kubu sudah merasa lelah dan mulai menatap masa depan masing-masing klub, karena sebentar lagi kompetisi akan segera digulirkan. Akankah kita Aremania akan tetap seperti ini? Coba dipikirkan nawak-nawak, Arema Indonesia mungkin akan fokus menatap liga yang telah mereka perjuangkan sekuat tenaga. Hal itu lebih baik daripada terus membuang waktu dan tenaga untuk polemik yang dianggap bisa mempengaruhi statusnya yang baru saja didapat. Arema FC seperti yang kita ketahui saat ini sudah pasti akan segera merampungkan segala persiapan untuk berkompetisi di ISL sebagai ajang paling bergengsi kompetisi sepakbola nasional. Lantas bagaimana dengan Aremania? Menunggu kedua kubu untuk kembali bertarung di meja hijau? Tetap mendukung sesuai pilihan masing-masing? Atau membiarkannya berjalan bagai air karena kita percaya dengan Teori Darwin tentang seleksi alam bahwa mereka yang kuat dan dapat mempertahankan dirilah yang akan menang dan menghasilkan spesies baru? "Iku jare mahasiswa-mahasiswa seng penggaweane demo ndek balaikota lo sam". Tapi yang terakhir inilah yang menurut saya dipilih oleh Aremania. Sejarah beberapa tahun lalu telah membuktikannya, Arema Indonesia yang dulu meski diisi pemain-pemain top peninggalan mener Robert Albert yang bersaing dengan Arema FC yang diisi oleh hampir pemain baru dan sisa-sisa pemain Pelita Jaya. Dalam pertarungannya memperebutkan dukungan Aremania, Arema FC yang secara originalitas dipermasalahkan mampu menunjukkan sebagai pemenang jika mengacu pada dukungan mayoritas Aremania yang selanjutnya berevolusi perlahan dengan PT baru, logo baru dan beberapa perubahan lainnya.

Lantas marilah kita berfikir sejenak, aslikah kesadaran kita selama ini dalam memutuskan untuk mendukung Arema FC atau Arema Indonesia? Jangan-jangan kita semua memang tergiring untuk mendukung salah satu tim. Kesadaran yang telah direncanakan dengan penuh skenario dengan menggunakan semua alat baik media, uang, euforia sesaat, dan apa pun itu yang bisa digunakan. Kesadaran kita dalam mendukung salah satu klub yang bermasalah tersebut seakan-akan wajar. Mayoritas Aremania juga mendukungnya, tokoh-tokoh penting juga masih tetap ada, eksistensinya bisa dibuktikan, sehingga kita merasa benar dan tidak perlu ada yang dipermasalahkan.

Ingat saudara, kesadaran atau anggapan bisa dibuat, sesuatu yang sebenarnya salah atau tidak pantas bisa dianggap benar dan pantas jika dilakukan oleh mayoritas, tidak pernah dikritik atau dipermasalahkan, terkesan nyaman dan tidak mendapat masalah dan yang terpenting hal tersebut dianggap wajar. Hal tersebut bisa disebut sebagai sebuah KESADARAN PALSU, "Iku yo jarene arek-arek mahasiswa seng senengane demo, tapi ndik ngarep kampus'e dewe-dewe". Saya yakin sebagian besar Aremania yang mendukung Arema FC saat ini masih dianggap wajar dan tidak ada yang mempermasalahkan. Jujur saya tidak bermaksud untuk bersikap su'udzon dan mempunyai tendensi apa pun terhadap salah satu klub, saya hanya mencoba mengajak seluruh Aremania untuk sedikit berpikir dan merenung sejenak, seperti yang saya uraikan di atas "tidak ada yang bisa melarang seseorang untuk memilih, maka pilihlah sesuai dengan kesadaran umak". Terlalu jauh untuk bisa membuktikan keaslian Arema, jika kita sendiri sebagai Aremania belum bisa membuktikan keaslian dari kesadaran kita dalam mendukung salah satu tim. Itu adalah sedikit pendapat saya tentang mayoritas Aremania saat ini. Jangan dianggap serius tapi jika mau menganggapnya monggo.

Malang, sepak bola, Arema dan Aremania yang kesemuanya telah menjadi satu dan dianggap sebagai identitas, kultur, agama kedua, dan harga diri Arek-arek Malang harus kita maknai lebih luas dan mendalam lagi. Arema, sebuah klub sepak bola yang dianggap mewakili Arek-arek Malang yang terdiri dari manajemen, pemain, legalitas klub, simbol dan berbagai macam jargon, seperti yang telah kita ketahui bersama hari ini diterpa masalah besar, terbesar dari semua episode masalah yang mengiringi perjalanan tim semenjak didirikan. Jjika biasanya bermasalah dengan keuangan yang mempengaruhi performa tim, tapi kali ini benar-benar permasalahan yang mampu membuat semua Aremania bingung, marah dan kecewa, hingga sudah banyak di antaranya memutuskan untuk gantung syal, sembari menunggu akhir dari kisah dualisme ini. Benar, menunggu, menunggu dan mungkin sesekali berteriak di medsos. Bagaimana pun juga Arema dan Aremania adalah satu kesatuan sebagai pemersatu Arek Malang, itu wajib hukumnya.

Pasca Kongres Tahunan PSSI yang memberikan pengampunan kepada klub-klub yang terhukum, mungkin sulit untuk mengatakan Arema mengalami dualisme, baik Arema Indonesia maupun Arema FC sudah resmi menjadi sebuah klub yang legal dengan masing-masing badan hukum dan jalur kompetisi yang akan dijalani. Tapi saya masih berharap bahwa ini masih DUALISME yang artinya masih bisa diupayakan untuk bersatu lagi. Selama penggerak dari sebuah klub Arema yang entah berembel-embel Indonesia atau FC masih tetap mempertahankan egonya masing-masing maka selama itu pula risiko terpecahnya Arema akan terus ada. Bukan lagi dualisme, tapi mungkin bisa saja trialisme, fourlisme atau lisme-lisme yang lain. Akankah Aremania yang diyakini sebagai nyawa Arema masih terus dengan sikap menunggu, mengamati, mengekor dan menyalahkan? Relakah sebuah klub yang sudah dianggap sebagai identitas, jati diri dan harga diri Arek-arek Malang ini akan dipermainkan oleh orang-orang yang menomorsatukan kepentingannya masing-masing? Relakah simbol-simbol pemersatu Arek Malang ini akan digawe dulinan gugat-menggugat di atas meja hijau? Relakah kita sesama Aremania nantinya akan saling berdebat dan berbantah-bantahan yang bisa jadi kaplok-kaplokan, sementara mereka yang punya kuasa di klub Arema sibuk menuruti ego tanpa sekali pun mengindahkan Aremania? Yang bagi saya aneh lagi pantaskah kita mendukung sebuah klub yang menurut keputusan hukum dianggap menang? Hari ini kita mendukung Arema A, besok konflik lagi kita mendukung Arema B, mungkin lusa kita ganti mendukung Arema C? Sesuatu yang dianggap sebagai identitas dan harga diri dipermainkan oleh ketokan palu pak hakim.

Saya tidak bermaksud untuk menolak segala macam tindakan hukum yang dilakukan oleh klub Arema jika terjadi masalah khususnya dualisme, saya hanya tidak rela jika Aremania akan menjadi plin-plan, bingung dipermainkan badai, dan yang lebih fatal tidak tahu arah tujuan. Atas nama bumi Arema yang mengandung mbois. Siapa pun yang mengaku Aremania tidak akan rela jika Arek-arek Malang akan terpecah belah atas klaim kebenarannya masing-masing. Jujur saya selama ini hanya mampu mengumpat dalam hati, sesekali curhat di medsos, mengamati sembari menunggu barangkali ada upaya atau pun gerakan dari Aremania menyangkut persoalan dualisme ini, tapi nyatanya semua terkesan diam, rame tok ndik medsos. Melalui tulisan ini saya tantang umak-umak hebak yang mengaku Aremania BERANIKAH MENGAMBIL SIKAP DAN TINDAKAN ATAS PERKARA INI? Hal tersebut memang memerlukan keberanian, baik dalam berpikir, bersikap, bertindak dan tentunya keberanian dalam menanggung risiko ke depannya. Memilih untuk mendukung Arema FC atau Arema Indonesia, memboikot pertandingan yang mengatasnamakan Arema sampai tuntasnya kisruh ini, beralih mendukung klub lain di Malang, atau mendirikan klub baru sebagai tandingan, apa pun itu semua perlu dipertimbangkan. Yang jelas kita tidak bisa hanya diam melihat dan menunggu. Saya yakin masih ada beberapa orang di kalangan Aremania yang memiliki pengaruh besar, baik di tingkatan kota, korwil hingga pelosok-pelosok daerah. Tinggal bagaimana kita semua mampu menjalin komunikasi yang masif dan menghasilkan keputusan. Saya masih tetap berharap akan ada sikap dan tindakan yang jelas dari Aremania. Seluruh Aremania pastinya mendukung jika ada yang berani untuk memulainya, terutama orang-orang yang memiliki pengaruh besar. Risiko apa pun pasti ada jika kita mengambil sebuah tindakan, jika kita berani maka ini adalah sebuah pertaruhan, "Sesuatu yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan". Mari kita menyadarkan diri terlebih dahulu, kita ganti slogan "Transparansi menuju Arema bermartabat" dengan jargon "Gerakan menuju Arema bermartabat". Kalaupun tidak ada, memang berarti kita sudah nyaman dengan keadaan ini dan tinggal menunggu hasil dari episode selanjutnya.

Aremania sebagai nyawa dari Arema perlu menyadari diri, Rek umak-umak sebagai Aremania iku regane larang, harga dari Aremania lebih mahal dari harga stadion, lebih mahal dari harga pemain, lebih mahal dari biaya operasional tim, dan lain-lainnya. Tapi selama ini Aremania kurang menyadari kekuatan dan nilai tawar yang dimilikinya, sehingga terkesan tidak mampu berbuat banyak atas kisruh yang terjadi. Mungkin sengaja Aremania dibuat seperti ini. Apa yang saya sampaikan bukanlah bermaksud untuk melakukan provokasi kepada Aremania. Ini hanya sedikit uneg-uneg yang ada di kepala, kebingungan saya dalam menilai mana yang asli atau palsu tidak membuat saya abstain dari dunia persuporteran Indonesia. Saya tetap harus memilih, hingga detik ini saya masih mendukung Arema FC yang akan bermain di ISL musim depan dengan segala konsekuensinya, mungkin esok hari bisa saja saya hengkang ke Arema Indonesia dan mungkin juga lusa saya akan gantung syal dan lebih memilih nonton di layar kaca, dadi Aremania elektronik, yang terakhir jangan sampai lah.

Sekali lagi saya tegaskan, ini hanyalah tulisan yang berisi uneg-uneg, tidak ada maksud untuk menuduh atau pun menjelek-jelekkan pihak manapun. Mohon maaf jika mengganggu ketenangan pikiran umak-umak hebak. Turut berduka cita atas perginya Sam AK, semoga "padang dalane jembar kubure", selamat jalan Sam. Nuwus dan tetap "salam satu jiwa".

Ditulis oleh: Jafad (Aremania Ewamus)
Twitter: @jafadsodik
Instagram: @jafad_s
Facebook: jafad















Bagas Adi Nugroho mencoba berkomunikasi dengan Arthur Cunha untuk membicarakan pertahanan Arema. Foto: Dani Kristian W

 


Login