Dibilang Mandul, Apa yang Salah dari Lini Depan Arema?

Reporter : WeAremania
Gonzales duduk di bench dan barus masuk di babak kedua (C) DANI KW

Wearemania.net - Penyebab kegagalan Arema FC menuai kemenangan saat menjamu 'tim gurem' Perseru Serui di pekan ke-10 Liga 1, Sabtu (10/6/2017) serta merta ditimpakan kepada lini depan Singo Edan. Skor 0-0 dianggap tak mewakili ketajaman lini depan sebuah klub papan atas yang sebelumnya menjuarai Piala Bhayangkara 2017 dan Piala Presiden 2017.

Sepanjang 10 pertandingan yang telah dijalani di Liga 1, Arema baru mencetak tujuh gol. Catatan ini 'hanya' lebih baik dari Perseru dengan enam golnya. Bahkan, tujuh gol Arema sama dengan jumlah gol Persiba Balikpapan sang juru kunci. Miris memang untuk tim sekelas Arema yang punya sosok Cristian Gonzales dengan statusnya sebagai top skorer Piala Presiden 2017. Lebih mengenaskan, si pemain sendiri hingga pekan ke-10 baru sekali menjebol gawang lawan lewat tendangan penalti ke gawang Madura United. Top skorer sementara Arema malah dipegang Dedik Setiawan dengan tiga golnya yang justru lebih sering didudukkan di bangku cadangan.

Fakta-fakta tumpulnya lini depan Arema ini dipertegas dengan hasil 0-0 saat menjamu Perseru yang sebelum datang ke Malang sudah bobol 12 kali dalam sembilan laga. Miris ketika Arema gagal menyarangkan gol ke-13 ke gawang tim berjuluk Cendrawasih Jingga tersebut. Trio Nasir, Esteban Vizcarra dan Dedik yang dipasang di lini depan tak mampu berbuat banyak di babak pertama. Evaluasinya, Nasir yang diharapkan mampu menghadirkan ancaman dari sayap ternyata tampil gugup, dan lebih sering kehilangan bola. Vizcarra yang dipaksakan tampil meski kondisinya masih cedera hamstring pun setali tiga uang. Alhasil, tak ada suplai bola untuk Dedik yang memerankan sosok targetman.

Pelatih Aji Santoso memasukkan Dendi Santoso dan Arif Suyono secara bersamaan sejak peluit tanda dimulainya babak kedua dibunyikan wasit Anas Apriliandi. Penampilan sayap kanan dan kiri Arema jadi lebih memukau. Terbukti, sejumlah peluang didapat, baik dari aksi individu Dendi maupun Keceng-julukan Arif Suyono. Namun, diakui atau tidak, tekanan psikis dan 'cemoohan' Aremania yang menggema di Stadion Gajayana di babak pertama berpengaruh pada ketenangan pemain dalam menyelesaikan peluang.

Lini tengah yang diharapkan mampu menopang serangan justru miskin kreasi. Padahal tim pelatih sudah memasang tiga gelandang dengan karakter lebih menyerang. Ferry Aman Saragih dan Hendro Siswanto yang punya keistimewaan menyerang dan bertahan 50:50 dimainkan bersama Muhammad Rafli-pemain U-23, yang berkarakter lebih menyerang. Namun, ini belum cukup untuk membuat lini depan menyarangkan satu gol pun.

Menengok ke bangku cadangan, pelatih Aji Santoso sejatinya punya sosok Juan Pablo Pino, Ahmad Bustomi, Dio Permana dan Oky Derry sebagai pilihan mengubah komposisi lini tengah. Hanya saja pilihan pemain pengganti jatuh pada sosok Gonzales yang dimasukkan jelang pertengahan babak kedua menggantikan Rafli. Pertimbangannya, kondisi Bustomi masih belum 100 persen pascasembuh dari sakit tifus. Sementara Dio dan Oky jelas masih belum berpengalaman menghadapi pertandingan besar dan lebih riskan menghadirkan blunder jika dimainkan.

Tim pelatih memang hanya memaksimalkan tiga pergantian pemain saja. Sebenarnya masih ada dua opsi pergantian sesama pemain U-23, tapi di bench cuma ada nama Dio dan kiper Utam Rusdiana dengan status U-23. Sosok Andrianto atau Dalmiansyah Matutu yang biasanya bisa jadi opsi bergantian dengan Nasir tak masuk dalam line-up, lagi-lagi karena masalah mental yang belum siap ketika dipantau dalam sesi latihan terakhir. Karena pemikiran pergantian pemain cuma tiga inilah tim pelatih sepertinya ogah berjudi memasang pemain muda.

Jika dilihat secara kasat mata, pergantian Vizcarra dengan Arif Suyono pun terkesan di luar rencana awal. Tadinya, tim pelatih berharap pemain asing asal Argentina itu dapat bermain penuh 90 menit, karena sebelum menuliskan Daftar Susunan Pemain (DSP), si pemain mengaku sudah siap. Tujuan dimainkannya Vizcarra sejak menit awal (dengan kondisi yang tidak fit 100 persen) tentu untuk menghadirkan serangan-serangan berkualitas demi mencuri gol cepat. Sudah bisa dilihat kan kualitas serangan Arema seperti apa tanpa pemilik jersey nomor 11 itu saat kalah dari Persija Jakarta pekan sebelumnya. Nyatanya, Vizcarra tumbang pada 15 menit awal dan harus menjalani sisa babak pertama dengan sesekali tertangkap kamera memegangi pahanya. Dendi atau Keceng tidak dimainkan lebih dulu ketimbang menjadi pengganti Vizcarra pun karena catatan bermain mereka lebih baik saat menjadi pemain pengganti daripada masuk starting eleven.

Jika normal, mungkin opsi pergantian Vizcarra bisa diisi oleh pergantian lain. Melihat komposisi pemain di bench, bisa jadi tim pelatih bakal memberikan peluang bermain bagi Bustomi di menit-menit akhir dengan catatan Arema sudah unggul atas Perseru. Pemain yang digantikannya adalah salah satu dari Hendro atau Ferry yang dinilai 'kehabisan bensin' lebih dahulu. Opsi lain melirik pada sosok Junda sebagai antisipasi jika permainan bek sayap kiri pengganti kapten Johan Farizi yang absen karena skorsing kartu merah itu menurun. Jika itu pilihannya, maka Hendro akan ditarik menjadi bek kanan, Benny dipindah ke kiri menggantikan Junda, lalu Bustomi menempati posisi lowong yang ditinggal Hendro. Sayang, cedera Vizcarra keburu kambuh.

Kalau mau jujur, bisa dibilang permainan Arema tidak terlalu jelek, jika mengacu pada absennya enam pemain seperti Kurnia Meiga, Bagas Adi, Hanif Sjahbandi, Adam Alis, Jad Noureddine, dan Johan Farizi. Apalagi ada Vizcarra dan Arthur Cunha yang belum fit 100 persen namun dipaksakan merumput. Kalau melihat hasilnya yang 'cuma' 0-0, semua pasti bilang taktik dan strategi pelatih tidak jalan. Namun, dengan materi pemain yang ada, masih bisa dikatakan tetap jalan, meskipun hasilnya cukup menyesakkan dada Aremania.

Bukti lain bisa dilihat pada laga Bhayangkara FC vs Bali United. Bermain tanpa tiga pilarnya yang absen, Bali United kalah 3-1 di kandang sendiri, meski tiga pemain asingnya masih lengkap diturunkan. Fakta ini mengungkap bahwa sebuah tim akan kesulitan menjalankan taktik dan strategi yang biasa dipakai, dengan absennya tiga pemain inti. Apalagi, saat menjamu Perseru, Arema kehilangan enam pemain. Efek absennya pemain itu jelas terasa, terlebih pelatih terbentur masalah aturan 'konyol' harus memainkan pemain U-23 (tak peduli seperti apa kualitasnya).

Konklusi dari evaluasi ini adalah bagaimana membangkitkan lagi mental bermain pasukan Aji Santoso menghadapi Bali United di pekan ke-11, Sabtu (17/6/2017). Terlebih, laga pamungkas sebelum libur Lebaran itu menjadi pertaruhan terakhir sang pelatih. Nasib Aji meninggalkan kursi panas pelatih kepala Arema lebih cepat atau bertahan dengan konsekuensi 'menuruti' selera Aremania yang haus kemenangan ditentukan di laga yang masih digelar di Stadion Gajayana tersebut. Tentu membangkitkan mental pemain bukan perkara mudah. Harus ada pula kepercayaan kepada pemain satu tim selain kepercayaan diri yang dipunyai.

 

Ditulis oleh: Abah Ongis

 

Ikuti WEAREMANIA di LINE dan gabunglah bersama kami di BBM untuk mengikuti update tim Arema Indonesia paling lengkap dan cepat!

Komentar Aremania