Arema dan Aremania (Seharusnya) Bukan Sekadar Penjual dan Pembeli

Reporter : WeAremania
Kondisi tribun saat Arema melawan PBFC (C)ONGIS STORE

Wearemania.net - Sekarang rata-rata supporter di Stadion Kanjuruhan hanya 25% dari kapasitas stadion, yang lainnya fans di era digital atau media sosial. Ini membuat sulitnya untuk menyamaratakan seluruh suporter, semua ingin terlihat eksis, dan mengedepankan komunitasnya.

Mereka lebih bangga dengan nama komunitas dari pada nama klub yang didukung. Kalau dulu cukup bangga dengan sebutan Aremania, Bonek, Bobotoh, Jakmania, dll, sedangkan sekarang lebih bangga menyebut nama komunitasnya.

Yang salah siapa? Yang salah managemen klub.
Jarang manegemen mendatangi basis massa, mereka memberlakukan suporter sebagai customer, mengundang hanya waktu sosialisasi tiket saja.

Jangan pusing ketika penonton meminta menang terus dan permainan bagus, serta sedikit demi sedikit membuat tagar OUT.
Sebab, hubungan selama ini cuma pembeli dan penjual. Wajar customer meminta yang terbaik. Jadi, selama ini tim hanya jadi alat aktualisasi oleh managemen.

 

Di Era sepakbola modern ini, semua bisa berkembang dengan pesat,orang ingin melihat sepakbola tidak perlu susah suhah antri membeli tiket ,tinggal duduk depan tv atau live streaming, sekarang saatnya managemen di tuntut dengan cepat bagaimana pendekatan dengan suporter itu, semoga nanti di umur yang ke 30 akan ada cahaya terang buat kebaikan team singo edan.

 

DITULIS OLEH : BIM

Komentar Aremania