Kesaksian Arif dan Halimah, Korban Tragedi 15 April

Reporter : BOLANET
Arif dan Halimah mengadu ke kantor Arema FC (C) WEAREMANIA

Wearemania.net - Arif datang melapor ke posko pengaduan tragedi 15 April 2018 di kantor Arema FC, Jalan Mayjend Panjaitan No. 42 Kota Malang, Senin (16/4/2018) siang bersama istrinya, Halimah. Keduanya bersama anak, menantu dan ketiga cucunya yang masih balita menjadi korban kericuhan dalam laga Arema FC vs Persib Bandung di pekan keempat Liga 1 2018 sehari sebelumnya.

Menurut pria 47 tahun itu, situasi dan kondisi di Stadion Kanjuruhan Malang aman terkendali hingga penghujung pertandingan. Menurut kesaksiannya yang setiap laga kandang Arema selalu menjadi asongan di Gate 10, kericuhan bermula saat injury time ada sekelompok suporter di tribun timur yang mulai turun ke lapangan yang membuat pertandingan terhenti.

"Namun tidak ada masalah apa pun di Gate 10, situasi masih tetap aman di tempat kami, situasi itu tak berlangsung lama, setelah Aremania yang masuk ke lapangan kian banyak, tiba-tiba ada gas air mata yang jatuh di tengah-tengah tribun, kebetulan saya jualan di atas, dan istri di bawah," ungkap Arif.

Pria asal Lesanpuro, Kedungkandang, Kota Malang itu menyebut gas air mata pertama tak membuat Aremania di Gate 10 dan sekitarnya panik. Baru ketika tembakan gas air mata kedua dijatuhkan di tribun yang sama, situasi mulai kacau, yang mengakibatkan ribuan suporter di area tersebut berupaya menyelamatkan diri dari efek gas tersebut.

"Saya lihat semua yang ada di situ panik, mereka berhamburan keluar, celakanya pintu Gate 10 masih dalam kondisi terkunci, akhirnya mereka saling dorong berusaha turun ke sentelban dengan lompat pagar pembatas, yang tidak kuat dengan efek gas air mata pun bergelimpangan," imbuhnya.

Halimah menambahkan, ketika dalam posisi panik itu, putri dan tiga cucunya hilang entah ke mana. Dagangannya pun ludes berserakan tertabrak dan terinjak-injak oleh suporter yang panik menyelamatkan diri.

Sambil berupaya menghindari asap gas air mata, Arif bersama sang istri juga ikut menolong sejumlah Aremania yang bertumbangan dengan mengguyurkan air minum, dengan harapan mereka yang pingsan bisa siuman. Arif pun terus mengingatkan mereka untuk tidak mengucek mata, karena itu bisa memperparah kondisi.

Petaka itu akhirnya agak mereda setelah ada tim medis yang datang memberikan bantuan, dan membawa korban-korban ke mini ICU di lantai dasar. Di situlah Arif dan Halimah menemukan anaknya yang turut menjadi korban.

"Yang saya tahu dia sempat tidak sadarkan diri, tapi dia sadar kembali setelah mendapat pertolongan medis, dan orang pintar, karena ternyata dia juga kesurupan," imbuh Halimah.

Beruntung ketiga cucunya yang turut merasakan efek kejam gas air mata itu juga ditemukan. Mereka sempat dibawa ke Puskesmas untuk mendapat perawatan sebelum diperkenankan untuk menjalani rawat jalan.

Yang sangat disesalkan oleh Arif adalah keteledoran aparat pengamanan yang menurutnya gagal menjalankan tugas dengan baik. Arif mempertanyakan, kenapa yang rusuh di lapangan tapi yang ditembak gas air mata yang ada di tribun, sehingga korban lebih banyak berjatuhan.

"Apa mereka tidak tahu di tribun banyak wanita dan anak-anak, lagi pula tak ada kericuhan apa pun di tempat kami (Gate 10) yang sampai harus diatasi dengan tembakan gas air mata," ujar Halimah sambil matanya berkaca-kaca.

Pasangan suami-istri itu datang ke kantor Arema untuk mengadukan nasib mereka dengan harapan dapat pertanggungjawaban dari manajemen klub, panpel dan asosiasi PKL. Arif menuntut adanya ganti rugi terkait hilangnya mata pencaharian mereka yang sehari-hari berdagang itu.

"Saya taksir kerugian kami sekitar tiga sampai empat juta rupiah, tapi kami tidak mau ambil kesempatan dalam kesempitan dari situasi ini, saya hanya ingin minta pertanggungjawaban pada manajemen, panpel dan asosiasi PKL, karena saat ini kondisi kami berantakan kehilangan pekerjaan," tegas Arif.

Meski demikian, Arif dan Halimah mengaku tak kapok akibat insiden tersebut. Sebab, berdagang sambil mendukung Arema di Stadion Kanjuruhan sudah menjadi kenikmatan tersendiri baginya.

"Saya ini juga Aremania, tidak ada rasa trauma, saya juga tidak menyesal, karena saya sudah sering mengalami insiden-insiden buruk saat away ke kandang lawan bersama Aremania yang lain, terakhir ketika bus kami dilempari saat tur Solo di perempat final Piala Presiden 2018 kemarin," pungkasnya.

 

Ikuti WEAREMANIA di Instagram dan Channel Youtube untuk mengikuti update tim Arema FC paling lengkap, cepat dan terpercaya!

Komentar Aremania

Jadwal Pertandingan

VS
Liga 1 2018 - Stadion Ratu Pamelingan - 21/4 - 15.30 WIB
Jadwal Selengkapnya

Jadwal Pertandingan

2 - 2
Liga 1 2018 - Stadion Kanjuruhan - 15/4 - 18.30 WIB
Hasil Selengkapnya