FIKSI: Raga di Kanjuruhan, Jiwa Tertinggal di Rumah

Reporter : Agung Prima
Ilustrasi Aremania di stadion (C) MELDA

Wearemania.net - Kulirik jam tangan, menunjukkan pukul 13.00 WIB. Namun antrian di depanku masih panjang. Hati mulai resah, ingin segera memasang tiket gelang ini dan melalui pemeriksaan petugas portir di pintu 7 untuk masuk ke dalam Stadion Kanjuruhan ini. Tak sabar aku menonton pertandingan Arema vs Persija Jakarta, yang kick off-nya dimulai pukul 15.30 WIB. Pantaslah laga berlabel big match jika antrian masuknya jadi mengular seperti ini.

Di tengah keresahanku ada notifikasi masuk melalui aplikasi Whatsapp. Istriku. Harus segera dibuka ini.

"Mas, aku capek. Hari ini aku gak masak, ya."

"Oyi. Kalau capek kamu istirahat saja ya, Sayang. Untuk makan nanti kan bisa pakai aplikasi ojek online saja," balasku tak lupa menyertakan emoticon hati dan kecup jauh. Sebab, kalau sudah begini biasanya tanda-tanda mood sang istri sedang jatuh ke titik terendah. Apalagi sekarang ini dia sedang hamil tua.

"Duitnya? Mas ganti kan nanti? Jangan pakai uang belanja Mama ya. Pakai ojek online kan lebih mahal daripada Mama masak sendiri," rajuknya.

"Oyi," kali ini singkat saja jawabku. Antrian orang yang berdiri di depanku sudah tinggal tujuh orang. Jadi obrolan ini harus segera diakhiri.

"Lagi gak mau beres-beres rumah juga, gak mau nyuci juga, gak mau nyetrika juga. Gak masalah ya kalau waktu Mas pulang nanti rumah masih berantakan. Si Kakak dari tadi main terus bikin rumah berantakan, sementara ini si Adik dalam perut juga bawaanya gak mau diajak beraktivitas," balas istriku diakhiri dengan emoticon nangis sampai berderet-deret.

Kalau sudah begini alamat gak bisa buru-buru mengakhiri obrolan. Maka, aku pun masuk ke tribun stadion, mencari tempat duduk, sambil terus menatap layar handphone.

"Oyi, gak masalah Ma, Papa kan gak pernah protes," kali ini kupakai emoticon mengedipkan sebelah mata.

Meskipun sedang memakai atribut Aremania yang hendak mendukung klub kesayangan bertanding, sebagai suami tentu wajib menjaga mood istri yang lagi down di rumah sana.

Saat ini di pikiranku sudah terbayang bagaimana situasi dan kondisi rumah kami. Sudah pasti acak-acakan dari Sabang sampai Merauke, anak pertamaku yang memang hiperaktif berlarian ke sana ke mari, seolah jahil menggoda Mamanya yang tengah mengandung si Adik. Hal itu pasti sangat menguras emosi istriku tercinta.

Istriku yang terkadang bisa mendadak lebay, menggemaskan, tapi saat ini sedang bikin aku kasihan sekaligus sebal dalam waktu bersamaan.

Tapi kupastikan, rasa sayangku padanya gak akan pernah berkurang. Apalagi kalau membayangkan sekarang ini dia sedang mengunci diri di kamar agar si Kakak tidak semakin membuat isi rumah seperti kapal pecah. Aku yakin dia mencoba mengabaikan segala pekerjaan yang siang ini harusnya dituntaskannya. Dia tengah berusaha mencari perhatian dariku, suaminya yang juga sama capeknya di sini antri masuk sebelum akhirnya menantikan kick off pertandingan di tribun bawah papan skor. Tapi, aku harus tetap tenang menghadapi sikap manja dan kekanakkannya yang suka datang tanpa diduga.

Sialnya, kadang sikapnya itu datang di saat yang tidak tepat seperti ini. Sebagai Aremania, aku pun ingin menikmati jalannya pertandingan dengan tanpa terganggu rengekannya. Tapi sudahlah, di situlah letak keunikan wanita yang tercipta dari tulang rusuk bengkok milik pasangannya. Ini yang membuat ragaku berada di stadion, tapi jiwaku tertinggal di rumah.

"Mama suruh orang buat mennyetrika ya, Pa," sambungnya lagi.

"Oyi. Apa pun itu yang bisa bikin Mama senang, Mama boleh lakukan. Kalau mau menyuruh orang sekarang pakai uang Mama dulu, nanti pulang dari stadion Papa ganti. Udah dulu ya, Sayang. Pertandingannya sudah mau mulai ini," deretan emoticon kecup jauh pun kukirim full sampai tiga baris.

"Gitu amat. Lagi sama siapa tuh?"

Mulai bikin emosi naik ini. Supaya gak kepancing, aku segera istighfar. FYI, satu lagi sifat wanita, dia bisa menjadi sangat pencemburu, tak peduli sesetia apa pun si suami. Baginya kehadiran wanita lain adalah ancaman terbesar yang jauh melebihi ancaman perang dunia ketiga.

Segera saja kukirim foto selfie di atas pagar tribun dengan latar belakang Aremania lainnya, tak lupa caption "Papa di sini bersama Aremania sejagad raya, Ma. Jangan khawatir. Tenang saja, di sini banyak saksinya kalau Papa ke sini sendirian. Tapi, yang paling penting, ada yang lebih membuat Papa takut, yaitu Tuhan Yang Maha Melihat di atas sana. Papa sayaaaaaaang banget sama Mama," deretan emot romantis sebanyak mungkin pun menyertai pesanku ini.

"Oyi, Papa sayang. Selamat mendukung Arema, ya. Semoga menang," emoticon balasan pun tak kalah hebohnya dari yang kukirim barusan. Beres!

Tak lama kemudian, wasit meniupkan peluit tanda kick off pertandingan dimulai.

Pukul 17.15 WIB handphone yang kusetting mode getar pun mengisyaratkan ada pesan Whatsapp masuk. Tanggung, pertandingan kurang seperempat jam lagi, lagi seru-serunya ini, skor masih sama kuat 2-2. Kuabaikan saja dulu pesan-pesan yang sepertinya berentet itu.

Waktu pertandingan berakhir dengan skoe yang sama, segera kuambil handphone di kantong celana. Jam di sana menunjukkan pukul 17.30 WIB. Perlahan kubaca rentetan pesan Whatsapp dari istriku.

"Pulang jam berapa?"

"Kok gak dibalas. Masih sibuk nonton pertandingan, ya?"

"Oyi, Sayang. Maaf ya baru selesai ini pertandingannya. Sebentar lagi juga mau pulang. Ini mau keluar dari stadion dulu," balasku.

"Ok," kalau balasnya singkat seperti ini tandanya moodnya sudah membaik, dibandingkan siang tadi. Aku pun melangkahkan kaki lewat pintu 7 bersiap pulang ke rumah.

Di perjalanan pulang, aku melewati tukang bakso urat langganan kami. Spontan saja kepikiran untuk membelikan istri yang sedari siang terus merajuk tadi. Kubelikan bakso urat spesial yang biasa dipesannya sejak biasa mampir ke sini ketika pacaran dulu. Sekalian beli buat anak-anak juga. Buatku? Gak usah lah. Nanti juga dapat bagian kalau anak-anak gak habis.

Sesampai di rumah, adzan isya' baru saja berhenti terdengar dari masjid depan rumah. Anak sulungku membukakan pintu pagar saat mendengar deru mesin sepeda motorku.

Istriku tercinta menyambut di pintu. Senyum manis tampak terkembang di bibir tipisnya. Apalagi ketika mendapati aku mengambil kantong keresek warna hitam dari dasboard motor matic yang kuparkir di teras.

"Assalamualaikum. Sepertinya ada yang lagi bahagia, nih,'' godaku sambil tersenyum dan mengedip-ngedipkan sebelah mata.

''Waalaikumsalaam,'' jawabnya bersamaan dengan suara si Kakak.

Si Kakak langsung mencium tanganku, mendahului Mamanya yang segera menyusul melakukan hal yang sama. Si Kakak mulai melaporkan banyak hal yang dilakukannya seharian, yang sempat disebut istriku dalam pesan Whatsapp-nya tadi, seraya menjajari langkahku yang memasuki rumah.

"Oyi. Sekarang Kakak bereskan mainannya dulu sana. Papa mau ganti baju, sholat terus makan. Kakak sudah sholat isya'?"

"Sudaaah," jawabnya sambil kembali berhamburan menuju ruang TV, untuk merapikan mainannya. Istriku cuma menatap sambil mengelus perutnya yang buncit.

Segera kusodorkan kantong plastik hitam berisi bakso urat kesukaannya. Dia mengintip sesaat dan dengan cepat bisa menerka isinya dari aroma yang tercium.

"Wow, Papa memang paling tahu apa yang Mama mau. Nuwus, ya, Sayang," peluknya seraya memberikan ciuman yang langsung mendarat di pipiku.

Aku tersenyum bangga, sambil balas memeluk dan menciumnya. Memang, terkadang hanya butuh hal sederhana untuk membahagiakan wanita.

'Kakak, coba lihat apa yang Papa bawa untuk kita?" panggil istriku pada si Kakak. Sosok mungil yang masih berusia lima tahun itu ternyata masih asyik dengan mainannya di depan TV, padahal tadi sudah berjanji mau membereskannya.

Aku masuk ke dalam kamar. Kulepas sepatu kets, menggantung syal Arema-ku, mandi, ganti baju, sholat dan segera menuju ruang makan. Di sana kulihat istri dan anak sulungku sudah heboh menikmati bakso urat yang kubawakan tadi.

"Jadi, Mama tadi beli apa buat makan siang?" tanyaku.

"Mama tadi jadi masak, Pa. Kebetulan di kulkas masih ada ayam dan tempe. Itu di meja ada ayam goreng tepung dan tempe penyet kesukaan Papa," aku pun terkejut.

Semakin terkejut ketika istriku bilang kalau setelah masak tadi dia juga sudah sempat mencuci dan menyetrika baju juga. Aku berpikir, pasti dia sayang juga untuk mengeluarkan uang untuk menyuruh orang melakukan dua kegiatan itu selama masih bisa dikerjakan sendiri.

"Kan uangnya bisa Mama pakai yang lain, Pa," imbuhnya.

Begitulah istriku. Mood-nya bisa berubah dengan cepat kapan pun dan tak terduga. Baru jam satu-an tadi dia mengeluh dan merajuk. Eh, petang ini waktu aku pulang dari stadion kulihat semua sudah dikerjakannya dengan sempurna dan paripurna.

Mungkin, kebanyakan wanita di luar sana juga sama. Terkadang mereka hanya butuh diperhatikan dan didengarkan oleh pasangannya, supaya mereka bisa kembali mendapatkan kekuatan.

 

Diadaptasi dari sebuah kisah di laman facebook yang dishare oleh akun Nhip Syauqi Shope.

 

Ikuti WEAREMANIA di Instagram dan Channel Youtube untuk mengikuti update tim Arema FC paling lengkap, cepat dan terpercaya!

Loading...

Komentar Aremania

Jadwal Pertandingan

0 - 0
Liga 1 2018 - Stadion Surajaya Lamongan - 16/11 - 18.30 WIB
Hasil Selengkapnya

Jadwal Pertandingan

4 - 1
Liga 1 2018 - Stadion Kanjuruhan - 11/11 - 15.30 WIB
Hasil Selengkapnya