Yang Tertinggal Selama Arema Berkonflik

Ditulis Oleh Oke Sr*     Rabu, 23 Mei 2012
( Dilihat Sebanyak 6015 Kali )



Ilustrasi: Aremania Punya Potensi (Foto: Apry)
Ilustrasi: Aremania Punya Potensi (Foto: Apry)

Wearemania.net - Seri : Merangkai Kembali Tinta Emas Singo Edan(1)

Di kantor saya pernah memiliki seorang teman yang merupakan pendukung dari Persib Bandung, salah satu klub Liga Super Indonesia(ISL) yang sekarang menjadi seteru Arema. Ichsan, teman saya yang mengaku sebagai bobotoh meski tidak memiliki keterikatan emosional dengan beberapa organisasi suporter Persib seperti Viking, Bomber, dan lainnya. Namun baginya urusan klub sepakbola lokal hanya Persib di hatinya.

Seperti biasa, jika menyangkut obrolan tentang klub sepakbola yang dibela, saya dan Ichsan pasti akan memasang sikap defence untuk mendukung timnya. Topik obrolan yang digulirkan ada bermacam-macam, mulai dari seputar kekuatan tim, prestasi hingga beberapa hal lain yang menyangkut diantara kedua tim tersebut.

Urusan kekuatan tim memang saya tidak bisa memungkiri jika beberapa tahun terakhir Persib seolah menjejakkan diri sebagai klub bertabur bintang. Sederet pemain beken bergantian menghiasi komposisi klub setiap tahunnya, seperti Eka Ramdani, Yaris Riyadi, Maman Abdulrachman hingga deretan pemain asing sekaliber Christian Gonzalez, Christian Bekamenga dan lainnya.

Namun, diantara sederet pemain beken tersebut nyaris tidak menghasilkan suatu hasil yang berarti berwujud trophy dan medali penghargaan. Sejak meninggalkan "pakem" dimana kekuatan Persib yang dulunya ditopang lebih dari 90% pemain berasal dari Jawa Barat justru belum pernah merasakan nikmatnya menjadi juara. Terakhir kali mereka menjadi juara di tahun 1994/1995, ketika hanya menyisakan Sutiono, satu-satunya pemain non Jawa Barat di starting line up Persib kala menghadapi Petrokimia Putra di final Liga Indonesia I.

Untuk hal yang seperti ini, setidaknya saya bisa sedikit mengerjai teman saya dengan memberikan sindiran halus "Your player make money, but our player make history", salah satu sindiran yang diungkapkan oleh pendukung Manchester United kepada rival sekotanya, Manchester City. Untuk hal seperti ini, sebagai Aremania tentu saja saya bisa sedikit membusungkan dada atas prestasi yang diraih oleh tim Singo Edan. Namun, cukup sampai disitu saya bisa sedikit tersenyum, cerita selanjurnya malah lebih membuat saya sedikit terhenyak.

Tanpa bermaksud mengecilkan arti bagi perjuangan untuk mendirikan dan menjaga tim sebesar Arema, namun beberapa fakta yang saya ceritakan nantinya semoga bisa menjadi dorongan positif untuk Arema dan Aremania untuk berbuat lebih bagi klub yang kita cintai ini.

Tak banyak dari kita yang mengetahui jika Persib Bandung memiliki mess dan tempat latihan tersendiri. Fauzan, salah seorang bobotoh sekaligus teman lama ketika masih aktif di forum ligaindonesia menceritakan lewat blognya fauzan47 mengenai lingkungan stadion Persib yang terdiri dari mess dan sarana latihan yang dapat digunakan sebagai tempat latihan Persib.

Kompleks Stadion Persib. Tribute image : www.go-persib.com

Mess dan sarana latihan ini dibangun beberapa tahun lalu, dan resmi digunakan pada 5 Mei 2008. Mess ini memiliki fasilitas yang beraneka ragam seperti lapangan sepakbola yang bernama lapangan Sidolig, yang terletak di depan mess pemain Persib. Keberadaan lapangan ini tentu saja sejatinya cukup menunjang bagi tim berjuluk Maung Bandung tersebut.

Letak yang strategis dan bersebelahan dengan mess tidak menguras tenaga tim untuk mencari sarana latihan yang lebih jauh seperti di Stadion Siliwangi ataupun tempat lainnya(Bandingkan jika Arema harus mencari tempat latihan yang berjarak puluhan kilometer dari mess!). Pun demikian dengan masalah perawatan, tahun lalu Pemkot Bandung 'menyumbangkan' dana 600juta rupiah untuk memperbaiki kondisi rumput dan mess pemain.

Selain itu didalam mess pemain Persib juga terdapat sederet kamar pemain beserta fasilitasnya seperti tempat tidur, pendingin udara/AC, lemari, dsb. Untuk menunjang kebutuhan pemain didalam mess juga dilengkapi dengan ruang tamu VIP, dapur hingga peralatan lain.

Awalnya ketika membangun mess tersebut akan dilengkapi dengan tambahan bangunan berupa pusat merchandise Persib dan mess untuk diklat Persib. Namun, seiring waktu bergulir klub yang berdiri sejak tahun 1933 tersebut juga berinovasi dengan membangun museum Persib beserta homebase-nya. Komisaris PT PBB Kuswara S Taryono, PT PBB sudah menyiapkan dana untuk pembangunan homebase ini dan masih dilakukan survey untuk lokasi pembangunan homebase tersebut.

Homebase ini direncanakan akan dilengkapi fasilitas fasilitas guna memenuhi kebutuhan Persib Bandung, Diantaranya mess pemain, tempat latihan, ruang pertemuan. Selain itu, di homebase ini akan dibangun Museum Persib Bandung. Museum ini akan berisikan perjalanan sejarah Persib Bandung sejak pendirian hingga saat ini, dikutip dari laman bola.net.

Sebelum berkutat dengan stadion Persib beserta messnya, Persib juga melakukan berbagai terobosan dengan memiliki bus Persib. Bus yang berkapasitas sekitar 40 penumpang dengan konfigurasi seat 2-2, lengkap dengan pendingin udara didalamnya. Bahkan replika/miniatur bus Persib ini juga dapat didapatkan di Viking Fans Shop, salah satu toko penjual merchandise Persib.

Viking Fans Shop sendiri juga kreatif dalam menjual produknya, mereka juga menjual berbagai atribut Persib secara mobile menggunakan bus yang disulap beratribut Persib dan dinama Viking Fans Shop Mobile Store. Bus tersebut beredar sejak pukul 10 pagi selama 12 jam di kawasan Gedung Sate.

Yang tidak kalah mencengangkan lagi dari aktivitas Persib adalah rencana direksi Persib untuk melakukan Initial Public Offering/Penawaran Saham Perdana. Jika terwujud maka rencana ini menjadi yang pertama dari sejarah klub sepakbola di Indonesia yang telah memiliki badan hukum berbentuk perseroan terbatas.

Seperti dikutip dari laman Detik Finance, dengan jumlah pendukung sekitar 5,3juta orang diharapkan sekitar 1 persennya saja, atau sekitar 50ribu bobotoh berpartisipasi dalam pembelian saham perdana ini. Rencananya jumlah saham yang dilepas sebanyak 45% dan rencananya ini sudah disetujui oleh pemangku saham Persib yang terdiri dari PT Surya Eka Perkasa milik Glen Sugita mantan atlet tenis Jawa Barat sebesar 70%, sedangkan 30% sisanya dipegang oleh 5 individu tokoh asal Jawa Barat.

"Dananya rencananya akan kita gunakan untuk membangun mess dan tempat latihan berstandar AFC. Ini penting karena banyak pemain kelas dunia yang mensyaratkan hal ini, demikian juga pelatih-pelatih kelas dunia ingin mess dan tempat latihan yang standar," tukas Farhan dikutip dari situs Detik Finance diatas.

Selain itu Persib juga memiliki berbagai produk media massa baik official maupun non official. Produk yang dibuat bermacam-macam ada tabloid hingga majalah. Yah, Persib telah memiliki majalah yang membahas seputar Persib beserta bobotohnya. Kang Novan, jurnalis yang juga blogger, mendata jumlah media Persib sebanyak 10 buah yang terdiri dari 4 majalah dan 6 tabloid (Yang saya ketahui Arema pernah memiliki 4 buah dari Tabloid Striker, Arema, Singo Edan hingga Forza Arema).

Keberadaan media ini tentu mendukung berbagai hal, mulai dari sarana kreatifitas para bobotoh, hingga sebagai sarana pemasaran klub. Dengan jumlah oplah yang beredar mencapai ribuan tentu menjadi nilai tambah bagi klub jika minimal ingin mengintegrasikannya kedalam bentuk presentasi ketika berhadapan dengan sponsor/investor.

Persib juga memiliki jaringan TV sendiri yang dinamakan sebagai Persib TV (entah, apakah Persib TV ini dikelola langsung dibawah kendali manajemen Persib atau tidak). Namun, melihat sepak terjang tayangan televisi yang menyiarkan langsung pertandingan Persib selalu memiliki TV Rating dan Share Audience yang tinggi (tertinggi di Indonesia), tidaklah heran jika kemudian ada yang berpendapat perlunya pembentukan Persib TV untuk menunjang promosi klub.

Apa yang dilakukan oleh Persib didukung oleh banyak hal, seperti dukungan yang kuat dari suporter akan produk bisnis yang berbau Persib, serta faktor iklim yang menopang perkembangan bisnis Persib seperti diucapkan oleh Syahrul Sajidin, Aremania asal Tarakan yang aktif menulis di dunia maya. "Bukan rahasia umum lagi jika Bandung adalah pusatnya industri kreatif di Indonesia dan didukung oleh pangsa pasar yang besar dan menjamur di Jawa Barat dengan puluhan juta penduduknya", tambahnya.

Ibarat gading yang tak retak,memang selama ini Persib bukanlah klub yang sukses 100% dalam pelaksanaannya selepas meninggalkan kucuran APBD untuk beralih sebagai klub yang mandiri. Tiga musim pertama harus dijalani dengan kondisi neraca keuangan negatif dimana klub mengalami kerugian puluhan miliar.

Namun, kerugian tersebut bisa pupus karena ditambal oleh beberapa pihak yang bertanggung jawab atas kerugian yang dialami Persib. Sejak dikelola oleh manajemen PT Persib Bandung Bermartabat(badan hukum Persib) kerugian yang dialami klub berjuluk Maung Bandung terus berkurang. Yang istimewa, kebijakan tersebut hanya dianggap menghapus kerugian bagi Persib dan tidak dianggap sebagai hutang. Tentu saja berbeda dengan apa yang dialami Arema, dimana salah satu laman ongisnade.co.id sempat menerbitkan rangkaian artikel yang berisi tanda tanya dalam pengelolaan keuangan Arema.

Menilik hubungan antara Aremania dengan Viking (julukan bagi fans Persib) yang tidak berjalan harmonis, tidaklah elok jika kita meninggalkan sikap sportifitas dalam hal persaingan untuk menuju yang terbaik. Perubahan yang terjadi pada Persib dapat menjadi pelecut dan semangat bagi Arema untuk maju.

Hambatan adanya dualisme perlu dipikirkan solusinya agar tidak menghambat kehidupan klub. Persoalan dan cara mengatasinya tentu tidak dapat diselesaikan dengan cara omelan, makian, cercaan, keluhan ataupun tindakan vandalisme lainnya(teriring ide untuk menuliskan hal demikian setelah membaca Manufacturing Hope 11 dari Dahlan Iskan).

Mungkin benar apa kata Dahlan Iskan, masalah di Arema tidak bisa hanya diselesaikan lewat keluhan dan gerojokan(modal?), seperti halnya Erwiyantoro sesepuh sepakbola nasional yang menjadi admin pages Cocomeo News yang berpendapat para pebisnis di sepakbola tidak dapat berinvestasi hanya dengan membiayai kebutuhan klub sepakbola dari semusim ke semusim berikutnya, karena berapapun modal yang miliki akan habis dalam sekian waktu tertentu.

Makna dari kalimat Erwiyantoro tersebut juga mengajarkan bagi kita untuk mandiri dan tidak mengharapkan gerojokan modal semata dalam menghidupi klub. Jika perlu Erwiyantoro dapat mengajarkan kepada kita bagaimana cara mengelola dan berbisnis sepakbola secara benar, dalam artian tidak hanya mampu menghidupi klub di setiap musimnya namun juga menghasilkan keuntungan.

Dengan kondisi demikian, ayo kita bergotong royong lagi mengeluarkan segala inovasi kita untuk memajukan Arema sebagai klub yang kita cintai ini. S1J.

Bersambung

*Penulis Adalah Aremania dan Pengamat Sepakbola Indonesia


Gunakan tombol ← → di keyboard Anda untuk berita lainnya














Penampakan baru match steward, Kadit Flare, Kadit Rasis, Kadit Anarkis (Foto: Hans Budi)

 


Login