Mengurai Benang Kusut Arema

Ditulis Oleh Oke Sr*     Sabtu, 02 Juni 2012
( Dilihat Sebanyak 3738 Kali )



Dualisme Klub Bisa Disatukan
Dualisme Klub Bisa Disatukan

Wearemania.net - Seri : Merangkai Kembali Tinta Emas Singo Edan(2)

Putaran II kompetisi sepakbola di Indonesia sudah berjalan beberapa minggu. Baik ISL(Indonesia Super League) maupun IPL(Indonesian Premier League) tinggal hitungan bulan saja untuk menapaki tangga akhir kompetisi. Dari dua kompetisi tersebut hampir bisa dipastikan bahwa Arema harus merelakan impiannya untuk merengkuh prestasi tertinggi.

Alih-alih untuk bersaing di zona juara seperti dua musim terakhir, kini Arema disibukkan untuk perjuangan lolos dari jeratan papan bawah yang membelenggu selama beberapa bulan terakhir ini. Tentu kondisi demikian bukanlah seperti yang dicita-citakan oleh Aremania. Namun apa boleh buat, meski kenyataannya berasa pahit, akhirnya terpaksa ditelan juga meskipun sulit.

Jangan Lewatkan :

Ada beberapa kawan yang menyesali keadaan ini terjadi pada klub sebesar Arema. Namun seperti apa kata pepatah sesal di kemudian hari tidaklah ada guna. Rasa sesal bukanlah pengurai gulungan benang kusut, dipintal dengan cara bagaimanapun toh tidak akan menjadi lembaran kain berwujud solusi.

Memang muara masalah tersebut tidak dapat ditimpakan begitu saja kepada suporter(Aremania). Jikalau boleh memilih, mereka tentu lebih baik memimpikan nikmatnya nirwana sesaat seperti cerita Adam dan Hawa seperti di kitab suci daripada membayangkan Arema harus terdegradasi musim depan.

Toh tidak ada yang bisa disalahkan dari sikap para suporter. Impian mereka untuk menyaksikan klubnya sukses adalah pertautan hati antara suporter dengan klub. Jikalau bisa maka keduanya hendak dilayar bersamaan dalam satu biduk menuju pulau kesuksesan. Namun apa daya hendak beroleh angin buritan agar kapal lekas sampai, yang didapat malah angin haluan. Jadilah laju kesuksesan klub terhambat dan serasa berlayar di tempat saja.

OK, kita selekasnya tinggalkan ratapan diatas, dan kembali ke pokok permasalahan. Mari kita pindahkan substansi pembahasan dengan merangkai kembali perjalanan Arema kedepan. jadi untuk membangun Arema harus dimulai dari mana?

Saya terkadang setuju jika ada rekan yang berpendapat masalah Arema itu kompleks dan terlalu kusut untuk diuraikan. Memang masalah Arema tidaklah sesederhana yang bisa kita kira sebelumnya. Bahkan untuk menemukan ujung pangkal masalah saja seperti menghadapkan kita pada filsafat ayam dan telur. Tanpa disadari dari sinilah solusi itu bisa muncul, setidaknya bagi mereka yang memiliki sifat untuk menyelesaikan masalah setapak demi setapak. Di luar itu, mulailah dari mimpi dan wujudkanlah dengan bantuan dari pemikiran kreatif.

Sebelum berbicara mengenai solusi, ada baiknya kita flashback dulu bagaimana kedigdayaan Arema dalam lingkup prestasi sepakbola dan bisnisnya sempat mengalami keruntuhan dalam sekejap. Untuk melengkapi data, saya memutuskan untuk membuat periodisasi Arema dimulai pada 'pemerintahan' Bentoel di Arema yang dimulai tahun 2003.

Sengaja saya memulai periodisasi di masa tersebut karena era kebangkitan Arema secara ekonomis dan prestasi dimulai dari inisiatif Bentoel untuk take over Arema. Ada kalanya memang terlintas pikiran untuk memundurkan waktu periodisasi sebelum itu, namun dengan mempertimbangkan resources yang terbatas, kesadaran iklim sepakbola Indonesia untuk bergerak secara profesional justru dimulai kurang dari satu dekade belakangan, mau tidak mau membuat saya tergerak untuk mempersempit lingkup periodisasi.

Selain itu pula dalam tulisan ini saya akan meminimalisir pemikiran subyektif dan sikap menyalahkan kepada sosok tertentu untuk menciptakan solusi dibutuhkan buat Arema. Seperti dalam tulisan sebelumnya bahwa saya masih meyakini penyelesaian masalah Arema tidaklah dapat diselesaikan hanya dengan keluhan, caciaan atau tindakan vandalisme.

Maka marilah kita coba urai benang kusut ini dengan melihat sejarah dan pengalaman di masa lalu:

A. Bentoel (2003-2009)

Era Bentoel ditandai dengan era kegemilangan Arema. 2 Gelar juara Copa Indonesia, 1 gelar juara Liga Pertamina hingga didalam lemari trophy klub. Masih ditambah lagi dengan raihan lolosnya Arema ke babak 8 besar Liga Indonesia selama 3 musim beruntun(2005, 2006, 2007/2008), mengukuhkan periode gemilang Arema sejauh ini. Rata-rata di setiap 2 musim terdapat 1 trophy yang bisa diboyong ke kantor Arema waktu itu di bilangan jalan Panderman Malang.

Masa tersebut juga diwarnai dengan minimnya persoalan klasik, yaitu masalah dana yang sebelumnya sempat membelenggu Arema sepanjang musim, sejak berdirinya Arema di tahun 1987 hingga sebelum Bentoel memasuki Arema di tahun 2003. Sudah berulang kali diadakan pergantian pengurus namun tidak jua menemukan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah ini secara permanen.

Setiap musim Bentoel mengucurkan dana yang jumlahnya terus mengalami peningkatan. Dari angka 6 Milyar rupiah ketika Bentoel memulai petualangannya di Arema pada tahun 2003 untuk melakukan perombakan tim di sisa kompetisi, hingga menjadi sekitar 15 Milyar rupiah pada musim 2008/2009. Ada peningkatan sebesar 150persen dalam waktu 5 tahun ketika Bentoel mendanai Arema, atau rata-rata terjadi peningkatan rata-rata pendanaan sebesar 30persen di setiap musimnya.

Pendanaan yang jelas dan terencana sedari awal musim memberikan kemudahan bagi klub untuk membayar seluruh kewajibannya. Rata-rata tunggakan kewajiban dibayarkan secara tepat waktu, bahkan andaikata terjadi kemoloran itupun dapat dihitung beberapa hari saja karena berbagai sebab, misalnya transaksi perbankan yang tidak dapat dilakukan di waktu libur hari besar, proses kliring, dan lain sebagainya.

Ibaratnya di masa tersebut Aremania dimanjakan dengan stabilitas tim dan tidak ada cerita lagi dimana terdapat krisis finansial akut seperti keterlambatan pembayaran kewajiban dari manajemen klub dalam rentang waktu lama.

Era kepemilikan Arema oleh Bentoel juga diwarnai banyaknya perubahan besar didalam klub diantaranya :

  1. Berdirinya PT Arema Indonesia sebagai salah satu aspek legalitas klub. PT Arema Indonesia sendiri bahkan sudah dipersiapkan jauh-jauh hari sebelum gong ISL(Indonesia Super League) edisi pertama(2008/2009) dikumandangkan.
  2. Tampilnya sosok-sosok profesional dari Bentoel Group maupun Group Rajawali yang mengisi pos manajerial klub. Adanya sosok profesional tersebut membawa budaya korporasi kedalam klub. Suatu tindakan positif bagi transformasi klub beserta tata cara dan aturan untuk me-manage Arema.
  3. Bangkitnya brand image Arema untuk menuju klub yang profesional, dimana hal ini ditunjang oleh stabilitas finansial klub, luasnya jaringan pemasaran Bentoel Group, dukungan suporter yang meluas hingga dukungan media massa dalam menciptakan image positif bagi Arema.
  4. Sistem administrasi klub yang lebih tertata meski belum sepenuhnya menuju ke sistem yang lebih efisien dengan menggunakan teknologi informasi(IT) beserta database yang terintegrasi satu sama lain.
  5. Model perancanaan yang lebih matang dalam menghadapi kompetisi meliputi perencanaan finansial, personel manajerial, dan lain sebagainya. Hasilnya bisa dilihat pada stabilitas klub dimana jarang sekali terdapat perubahan besar negatif yang bersumber pada keputusan panik.
  6. Brand yang positif memudahkan Arema menggaet sponsor. Di tahun 2005 setidaknya 2 sponsor besar dari Extra Joss(PT Bintang Toedjoe - Group Kalbe Farma), ProXL(sekarang XL, produk PT Excelcommindo Pratama - sekarang PT XL Axiata tbk) .
  7. Penggunaan sarana dan prasarana yang lebih memadai bagi tim seperti mess pemain beserta fasilitasnya, akomodasi tour, dan lain sebagainya.
  8. Manajemen klub dengan kebijakan yang tetap 'merakyat'. Selama dipegang Bentoel harga tiket terendah hanya naik 36% dalam kurun waktu 6 tahun(11ribu rupiah ke 15 ribu rupiah) atau rata-rata 6% selama setahun(masih ekuivalen dengan kenaikan inflasi dan pertumbuhan ekonomi Indonesia tiap tahunnya).

Hanya saja, perubahan positif tersebut nyaris tidak dimanfaatkan secara maksimal. Terutama menyangkut kebutuhan dasar klub yaitu pengembangan Sumber Daya Manusia untuk menunjang bisnis klub, administrasi, dan lainnya. Dari hampir 25 tahun perjalanan Arema, dimasa Bentoel inilah segala celah yang berakibat pada timbulnya konflik akut bisa ditambal atau diperbaiki sejak dini. Syarat utama untuk melakukan hal tersebut terletak pada stabilitas klub yang sehat dan dinamis. Hanya di era ini syarat tersebut yang paling memungkinkan untuk dipenuhi.

B. Konsorsium Arema(2009-2011)

Era konsorsium ditandai dengan mundurnya Bentoel dalam pengelolaan Arema dan terganti dengan orang-orang baru. Pelepasan ini terjadi pasca pembelian sebagian besar saham PT Bentoel Internasional Investama Tbk. (RMBA) kepada British American Tobacco(BAT), perusahaan rokok terbesar kedua di dunia dalam hal market share dan revenue.

Pengalihan kepemilikan dan pengelolaan kepada konsorsium Arema diwarnai dengan adanya 'era keterkagetan'. Keterkagetan disini melanda di hampir semua komponen Arema mulai dari suporter hingga orang-orang baru yang mengisi manajemen klub.

Keterkagetan diatas dapat dilihat pada perjalanan Arema yang diwarnai aral melintang sejak musim 2009/2010 hingga sekarang ini. Jika di era sebelumnya Bentoel mem-backup seluruh tanggung jawab Arema, kini semuanya harus diselesaikan sendiri oleh klub. Arema kembali lagi kepada era kemandirian yang sebenarnya.

Untuk menunjang kehidupan Arema semua potensi harus dikerahkan, bahkan jika perlu dibuatlah terobosan baru untuk sekedar memberikan Arema helaan nafas. Apa daya cita-cita yang terbentang menemui jalan buntu sehingga harus kembali pada kenyataan.

Bentoel memang telah melepas Arema pada tahun 2009 lalu, namun tanggung jawab moral berupa pemberian 'tali asih' sebesar 7,5Milyar rupiah untuk digunakan Arema. Tetapi karena manajemen Arema sebagian besar adalah orang-orang baru dimana hanya mungkin hanya secuil saja yang sebelumnya pernah terlibat dalam bisnis sepakbola, sehingga tali asih pemberian Bentoel menguap hanya untuk membiayai operasional klub beserta gaji pemain dan karyawan. Nyaris tiada yang tersisa untuk kebutuhan di masa datang, diversifikasi bisnis dan investasi.

Sebenarnya PT Arema Indonesia tidak tinggal diam untuk mengatasi kebutuhan Arema masalah dana. Setidaknya penjualan hangtag dengan memanfaatkan label berupa logo Arema yang terdaftar secara hukum menghasilkan pemasukan yang lumayan. Ditambah penjualan merchandise dari aremastore kira-kira bisa didapat pemasukan sekitar 1,5Miliar rupiah.

Jumlah tersebut memang jauh dari cukup untuk menutupi seluruh operasional klub. Apalagi lebih dari setengah musimnya di ISL 2009/2010 harus dilalui dengan tanpa dukungan sponsor. Tali asih dari Bentoel memang sangat membantu, dan Arema baru bisa bernafas lega terkait dengan dukungan publik yang antusias setiap Arema berlaga. Meski harga tiket dinaikkan sekitar 66% untuk kelas ekonomi dalam beberapa bulan(dari 15ribu rupiah menjadi 25ribu rupiah) tetapi tidak menyurutkan animo publik untuk berbondong-bondong datang ke stadion.

Namun satu hal yang harus digarisbawahi, meningkatnya animo dan perhatian publik tersebut kala itu dibantu dengan momen kebangkitan tim Arema yang merangkak menuju mahkota juara liga. Manajemen klub terbentu dengan prestasi yang dihasilkan tim, ditambah dengan melubernya perhatian media massa kepada tim berjuluk Singo Edan tersebut.

Entah disadari atau tidak ketika musim depannya Arema mengikuti ISL 2010/2011 perhatian publik merangkak surut. Hal ini ditandai dengan menurunnya animo penonton yang datang ke Stadion Kanjuruhan sebesar 27,44%. Menurunnya jumlah penonton yang datang kestadion tentu saja berimbas kepada penurunan pendapatan dari sektor tiket. Padahal di musim 2009/2010 sektor tiket inilah yang menyumbang pendapatan terbesar bagi Arema disamping pemberian talia sih dari Bentoel.

Memang masalah ini tidak terlepas dari kualitas SDM yang menghuni manajemen klub. Tentu saja yang harus berfikir obyektif jika ingin mengulas hal ini. Bisnis sepakbola di Indonesia rata-rata barulah melangkah pada tahap berkembang dimasa sekarang dan tidak dapat dibandingkan dengan bisnis dan investasi yang dilakukan oleh klub sepakbola di Eropa. Kenapa pula saya tidak berpendapat bahwa faktor masalah di Arema adalah masalah uang semata?

Secara pribadi saya memang memiliki prinsip manusia dapat menghasilkan uang, dan bukan sebaliknya. Merujuk pada ide bagaimana hangtag Arema bisa menghasilkan pemasukan lumayan bagi Arema, tentu kita dapat menarik pelajaran berharga dari ini. Betapa hanya dengan modal sedikit untuk memproduksi hangtag, didapat pemasukan beberapa kali lipatnya dari ongkos produksi tersebut. Luar biasa!

Andai ketika itu sudah muncul pemikiran menarik bagaimana 'menukar' tali asih 7,5milyar menjadi sebuah produk bisnis yang memiliki kesuksesan minimal seperti produk hangtag tadi, tentu tidak terbayangkan betapa terbantunya Arema sampai dengan saat ini. Toh, masalah finansial ini pula yang kerap menghadirkan efek domino bagi Arema, keterpurukan ekonomi selepas berakhirnya kompetisi di musim-musim beriktnya.

Tetapi kenapa pula saya tidak dapat memberikan penilaian subyektif mengenai kemampuan manajerial untuk menghidupi Arema?

Seperti juga penjelasan sebelumnya, orang-orang yang menghuni jajaran manajerial klub merupakan orang baru yang belum tentu mengerti benar bagaimana cara berbisnis sepakbola untuk menunjang finansial klub. Sebagian diantaranya memiliki latar belakang sebagai pengusaha atau menangani klub sepakbola(Ketua Yayasan Arema ketika itu, M. Nur pernah menjadi Ketua Harian Persema, begitu pula dengan manajer Arema, Mudjiono Mujito yang juga pernah menjadi manajer Persema di awal 2000an). Namun untuk berbisnis sepakbola seperti yang dimiliki klub Eropa atau setidaknya beberapa klub di J-League(kompetisi sepakbola di Jepang) siapa yang pernah melakukannya?

Banyak personel manajemen klub yang mungkin sebelumnya memegang jabatan atas dasar kompetensi, tetapi permintaan dari pengelola sebelumnya. Tanpa bermaksud memberikan pleidoi terhadap siapapun, keadaan di masa tersebut memaksa pengelola untuk bertindak secara cepat. Lepas pergelaran ISL 2008/2009 praktis Arema hanya memiliki waktu beberapa bulan saja untuk berbenah diri.

Menyalahkan pihak pengelola yang lama tentu bukanlah tindakan bijak. Mereka harus melakukan demikian karena keputusan korporasi yang menentukan untuk melakukan tindakan tersebut. Keputusan korporasi inipula yang harus diambil terkait dengan kebijakan perusahaan induk(BAT) dan aturan hukum di negara Indonesia yang melarang keterikatan produk rokok dalam bidang olahraga.

Apa boleh buat suka atau tidak suka toh Arema harus berjalan untuk mengikuti kompetisi sesudahnya. Jika di masa itu persiapan kompetisi dihabiskan untuk waktu berdebat dan mencari kekurangan tentu tidak terperkirakan kerugian yang ditanggung Arema. Bisa-bisa tinta emas yang ditoreh dimasa itu tidak dapat tergores dalam lembaran sejarah Singo Edan.

C. 'Bubarnya' Konsorsium dan Dualisme Klub

Usia konsorsium Arema yang 'berdiri' sejak tahun 2009 ibarat bunga yang gugur sebelum merekah kelopaknya. Ibarat pula sebuah tanaman yang akhirnya meranggas dan gugur sebelum waktunya. Karena kekurangan air, pupuk, cahaya matahari hingga kemampuan untuk melakukan proses fotosintesa membuat cita-cita awal pendirian konsorsium harus terkubur dalam-dalam.

Bubarnya konsorsium ini sebenarnya dapat diprediksi sejak awal. Hal ini terkait dengan kemampuan Arema untuk survive dari masalah finansial yang mendera sejak akhir 2009 lalu. Setahun berikutnya keadaan tidak berubah secara positif, Arema harus mengarungi kompetisi ISL 2010/2011 dimulai dengan defisit keuangan.

Keadaan ini diperparah terjadinya dualisme kompetisi yang mengancam keikutsertaan Arema di ISL 2010/2011. Kelak dari dualisme kompetisi ini pula lahir konflik internal yang berkepanjangan.

Arema bisa saja meminimalisasi atau setidaknya membentengi efek dualisme kompetisi. Namun hal ini tidak dapat dilakukan karena lemahnya roda organisasi yang tidak berjalan semestinya serta komitmen penuh semua personal untuk satu suara dalam mendukung perjalanan klub.

Seandainya saja sejak dini terdapat penguatan sejak awal terhadap aturan internal klub dan kualitas personel manajemen Arema, setidaknya godaan dari pihak eksternal untuk merongrong perjalanan klub Singo Edan dapat dihambat.

Siapa yang salah dalam hal ini? Menunjuk sosok-sosok tertentu bagi saya rasanya kurang tepat sepenuhnya. Ada banyak hal yang mendasari terjadinya kesalahan pengelolaan klub ini diantaranya :

  1. Lemahnya Sumber Daya Manusia dan sistem managerial klub. Beberapa personel-personel inti dipilih untuk mengisi kekosongan jabatan selepas mundurnya Bentoel bukan atas dasar skill(kemampuan) dan pengetahuan yang mumpuni, tetapi lebih kepada faktor kapasitas serta situasi kondisi di masa itu yang menuntut pergerakan cepat demi menyongsong musim baru.
  2. Efek dari point no.1 tersebut tentunya berimplikasi pada kurangnya inovasi dari manajemen Arema untuk meningkatkan kapitalisasi Arema yang bersumber dari pendayagunaan segala potensi yang dimiliki Arema secara legal.
  3. Mesin-mesin organisasi yang tidak jalan dengan semestinya karena konflik internal, dsb.
  4. Aturan hukum internal yang lemah dan kurangnya komitmen untuk mentaati peraturan organisasi. Hal ini diperparah dengan kurangnya fungsi controlling/pengawasan didalam klub, serta Standard Operation Procedure(SOP) yang memadai untuk menjalankan keteraturan pada roda organisasi internal.
  5. Komunikasi internal yang tidak berjalan secara semestinya.
  6. Kekurangan modal untuk mempersiapkan klub mengarungi kompetisi dan lain sebagainya.

Lemahnya penegakan aturan dan mesin organisasi didalam tubuh Arema ini pula yang memunculkan dualisme klub. Godaan dari luar memang ada, tapi godaan ini tidak akan bisa dieksekusi jika tidak ada tindakan dari dalam(internal klub). Andai semuanya bisa satu suara sejak awal, mau pilih A atau B tentunya tidak akan menimbulkan resistensi yang mendalam dan berlarut-larut. Jika pilihan sudah dipilih kini tinggal menentukan target dan mengerjakan proses selanjutnya untuk merealisasikannya.

Tapi ya sudahlah, rasanya tidak etis jika sebagian waktu kita dihabiskan pada substansi pembahasan kesalahan pengelolaan Arema selama ini dibanding memperbaikinya. Kata 'memperbaiki' ini pula yang harus menjadi acuan kinerja kedepannya, bukan dengan jalan pembiaran yang berpotensi menimbulkan permasalahan serupa(atau malah lebih parah) di kemudian hari.

Kedepan tidak boleh ada lagi masalah yang dibiarkan berlarut, atau diselesaikan dengan komitmen yang setengah-setengah(dalam artian permasalahan yang ada diselesaikan dengan tambal sulam ala kadarnya). Orang-orang terpilih untuk menyelesaikan masalah dan memperbaiki kinerja organisasi klub harus menunjukkan komitmen penuh. Kalau bisa berusaha untuk bekerja melebihi target yang ditetapkan sejak awal.

Rasanya pula kita harus meninggalkan momen keterpurukan akibat efek dualisme. Dualisme klub memang tidak bisa dihindari beberapa waktu lalu, namun bukan berarti kita berleha-leha menunggu dualisme ini berakhir dengan sendirinya. Iya kalau dualisme ini bisa berakhir akhir musim ini, jika harus menunggu hingga bermusim-musim berikutnya dengan menyesuaikan permasalahan di tingkat sepakbola nasional sudahkah kita siap menghidupi Singo Edan dengan tanpa meninggalkan kekurangan untuknya?

Masih ada cukup waktu untuk memperbaiki kesalahan pengelolaan klub Arema ini sejak sekarang. Mumpung kompetisi musim ini belum berakhir serta estimasi mulainya kompetisi mendatang masih ada waktu minimal 3-4 bulan lagi.

*Penulis Adalah Pengamat Sepakbola Nasional















Benny Wahyudi bermain dalam 2x45 menit di ujicoba. Dia bergerak di sisi kanan dan kiri selama dua babak. Salah satu aksinya adalah joget di lapangan seperti ini. (Foto: Abi Yazid)

 


Login