MEMORIAL MATCH - 11 Oktober 2004, Arema vs PSDS

Reporter : Oke Sr

Wearemania.net - Pertarungan dahsyat tersaji dalam Final Divisi I Liga Indonesia 2004. Pada partai penentuan juara yang digelar di Gelora Bung Karno tersebut, akan mempertemukan dua tim tangguh yang menjadi penguasa di wilayahnya. Tim Arema Malang yang menjadi Juara Wilayah Timur akan menghadapi juara Wilayah Barat PSDS Deli Serdang.

PREMATCH

Arema sendiri tampil digdaya pada babak penyisihan. Bertanding sebanyak 22 kali, mereka membukukan 16 kali menang, 3 kali seri dan 3 kali kalah. Total mereka melesakkan 37 gol ke gawang lawan, berbanding kebobolan 8 gol ke gawang sendiri. Singo Edan menampilkan hasil yang brilian diatas lapangan. Di Wilayah Barat mereka tampil sebagai klub dengan rekor pertahanan dan penyerangan terbaik dibandingkan kontestan lainnya.

Arema ibarat tim mega bintang di level Divisi I. Mereka diperkuat kuartet pemain Brazil seperti Claudio Jesus, Junior Lima Filho, Rivaldo Costa dan Joao Carlos.Barisan skuad lokalnya pun tak kalah mentereng karena banyak diperkuat oleh pemain yang memiliki pengalaman bermain di Divisi Utama dan Timnas Indonesia.

Di posisi penjaga gawang Singo Edan memiliki Kurnia Sandy yang pernah menjadi andalan Timnas Indonesia. Selain itu materi pemain Singo Edan diperkuat Aris Budi Prasetyo dan Sonny Kurniawan (sebelumnya membela Petrokimia Putra dan mengantarkannya sebagai Juara Divisi Utama 2002), Erol Iba (Semen Padang), beserta Sunar Sulaiman (Barito Putra).

Arema juga mengontrak beberapa pemain yang sebelumnya memperkuat Deltras Sidoarjo seperti I Putu Gede (pemain Timnas Indonesia), Sutaji, Isdiantono. Untuk mengantarkan Arema kembali ke habitatnya di Divisi Utama, Singo Edan juga memperpanjang kontrak beberapa pemain lama, misalnya Aji Santoso, Stenly Mamuaya, dll.

Pada musim tersebut Arema dilatih oleh Benny Dollo yang berpengalaman melatih Persita dan Timnas Indonesia. Selama mempersiapkan diri menghadapi Divisi I, persiapan Singo Edan tak main-main. Mereka hampir saja merekrut eks Timnas Indonesia, Bejo Sugiantoro dan Hendro Kartiko sebelum terlibat perseteruan dengan Persebaya.

Pada sesi pramusim, Arema juga menggelar ujicoba melawan klub negeri seperti lawatan menghadapi Malacca Telekom, Selangor MPPJ (Malaysia) dan DPMM dari Brunei Darussalam. Di kandang sendiri mereka juga mengundang Selangor FA pada 13 Januari 2004. Dengan persiapan yang berjibun tersebut tak salah jika Arema dianggap sebagai kontestan terkuat diantara klub Divisi I lainnya.

Sementara itu rival yang dihadapi Singo Edan di final, PSDS Deli Serdang tak dapat dianggap enteng. Mereka tampil sebagai jawara Wilayah Barat dengan menyisihkan beberapa unggulan seperti Persema, Persijap dan Petrokimia Putra. Dari 22 pertandingan mereka berhasil 12 kali menang, 2 kali seri dan 8 kali kalah.

Tim Traktor Kuning (julukan PSDS) tersebut berhasil mencetak 45 gol kegawang lawan, dan kebobolan 28 kali. PSDS sepanjang babak penyisihan juga tampil sebagai tim dengan kemampuan menyerang yang baik bilamana dilihat dari jumlah gol yang dihasilkan. Alhasil pertandingan final diprediksi akan berlangsung seru dengan menampilkan tim yang memiliki rekor pertahanan dan menyerang terbaik pada musim tersebut.

Salah satu faktor utama keberhasilan PSDS terletak di tangan bomber Sergei Agangga. Di musim tersebut ia tampil sebagai top skor tim, dengan sedikitnya 23 gol dicetak ke gawang lawan. Selain Sergei Agangga mereka memiliki beberapa pemain bagus seperti Fernando Guajardo, mantan pemain Timnas Primavera, Ansyari Lubis maupun pemain muda sekaliber Tommy Pranata (kelak membela Arema dan ikut mengantarkannya sebagai Juara ISL 2009/10).

Sebelum mengikuti pertandingan final, kedua tim telah menunjukkan kedigdayaannya dibabak 6 besar. PSDS menjadi di Grup 1 dengan 6 poin hasil dari mengalahkan Persegi 2-1(4/10) dan Persijap 3-1(9/10). Demikian pula dengan Arema, skuad asuhan Benny Dollo tersebut menunjukkan superioritasnya dengan menggebuk Persema 4-1(4/10) dan Persibom(9/10).

Dengan berstatus sebagai juara Grup, kedua tim sebenarnya telah dipastikan lolos ke Divisi Utama. Partai final tersebut tak ubahnya sebagai seremonial penentuan juara semata. Meski demikian kedua tim mempersiapkan diri dengan baik dan mereka tetap all out, seakan tak ingin pulang ke kandang masing-masing tanpa piala kemenangan.

DUKUNGAN AREMANIA

Perjuangan Arema menembus final tak dilakukan seorang diri. Selama babak enam besar mereka didukung suporternya yang melakukan perjalanan 900km dari Malang menuju Jakarta.

Suporter yang datang ke Jakarta tersebut umumnya memakai atribut kebesaran Singo Edan yang berwarna biru. Kedatangan mereka ke Jakarta terbagi dalam beberapa kelompok. Seribuan suporter menggunakan Kereta Api Matarmaja yang disewa untuk berangkat ke Jakarta. Sebagian lainnya memilih berangkat menggunakan bus.

Selama semingguan di Jakarta mereka terkoordinasi untuk menempati penampungan di Stadion Lebak Bulus(venue babak enam besar), Gelora Bung Karno, GOR Bulungan, dll. Selama di Senayan, mereka memanfaatkan teras stadion sebagai tempat berteduh. Untungnya cuaca selama di Jakarta cukup bersahabat dan tak menyulitkan mereka untuk bernaung.

Selama di Jakarta ribuan Aremania rela mengeluarkan kocek pribadi demi mendukung tim pujaannya agar lolos ke Divisi Utama. Perjuangan Aremania untuk 'tirakat' mendapatkan simpati dari beberapa tokoh Malang yang bermukim di Jabotabek.

Kebutuhan makan dan minum sebagian disupport oleh Arema Batavia (komunitas Arek Malang yang bermukim diwilayah Jakarta dan sekitarnya). Mantan pembalap nasional yang saat ini menjadi pengusaha, Tinton Soeprapto juga tak tinggal diam. Ada juga mantan suami Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rini Soewandi, Didik Soewandi, dan lainnya. "Mereka banyak membantu suporter jika Aremania ke Jakarta. Mereka bisa membantu makan teman-teman dan bahkan tak jarang juga memberi uang saku," jelas koordinator tour, H. Slamet dari Tongan.

Bagi suporter yang bermodal pas-pasan, untuk mengakali kebutuhan hidup di Jakarta yang mahal tak harus dilakukan dengan cara kriminal. Sebagian Aremania memiliki ide kreatif mencari uang demi menonton Arema. Mereka berjualan atribut Arema ataupun oleh-oleh khas Malang (Keripik Tempe, dll). Hasilnya lumayan karena ongkos yang yang mereka keluarkan sebagian tertutupi oleh keuntungan yang diperoleh dari berdagang.

Selama di Jakarta, kehadiran ribuan Aremania tersebut mendapat respon positif dari mesyarakat dan media massa. Setidaknya laporan negatif yang diakibatkan oleh oknum suporter jarang terjadi. Media massa sekaliber Jawa Pos dan BOLA memberikan respon positif terhadap dukungan Aremania di Jakarta.

MOMEN JUARA

Pertandingan final Divisi I Liga Indonesia 2004 digelar di Gelora Bung Karno (11/10).Sekitar 10.000 Aremania mendukung perjuangan Tim Singo Edan dibabak final. Keberadaan suporter yang atributnya berwarna biru tersebut tampak dominan diantara penonton yang hadir. Bisa dibilang hampir seluruh penonton yang hadir dalam laga tersebut didominasi suporter Arema.

Arema yang didukung ribuan suporternya tak ingin pulang tanpa hasil. Benny Dollo nyaris menurunkan kekuatan penuh pada pertandingan kali ini. Hanya Erol Iba yang tak dapat bermain pada laga final dan digantikan oleh Firman Basuki. Selain Erol, posisi lini depan dipercayakan kepada Rivaldo Costa beserta tandemnya, Marthen Tao. Junior Lima sendiri dipersiapkan duduk di bangku cadangan.

Pertandingan wasit dalam pertandingan final saat itu dipimpin oleh Aeng Suarlan. Pertandingan dilaksanakan pada cuaca yang cerah. Arema memakai kostum berwarna dominan hitam, sedangkan PSDS menggunakan jersey kebesaran berwarna kuning.

PSDS mendapat kesempatan mengambil kick off babak pertama. Awal pertandingan kedua tim mencoba menguasai kendali permainan. Meski demikian Arema mendapat peluang pertama di menit ke-4. Pelanggaran keras kepada Sonny Kurniawan, membuat Singo Edan mendapat hadiah tendangan bebas di samping kiri daerah pertahanan tim Traktor Kuning tersebut. Sayang crossing gagal membuahkan gol karena sundulan pemain depan Arema terlampau melambung diatas mistar.

Menit ke-12, PSDS hampir mendapatkan gol pertamanya. Tendangan bebas dari luar kotak penalti melaju deras ke gawang yang dikawal oleh Kurnia Sandy. Beruntung kiper yang pernah bermain di Sampdoria tersebut dapat mengamankan gawangnya.

Pada 15 menit pertandingan yang kedua dibabak pertama, Arema kembali menguasai pertandingan. Beberapa kali I Putu Gede, dkk mendapatkan peluang yang nyaris berbuah gol. Pada menit ke-20 skor pertandingan nyaris berubah andai sundulan Marthen Tao tak menyentuh tiang gawang PSDS. Hingga berakhirnya babak pertama kedua tim gagal menyarangkan bola kegawang lawannya. Babak pertama selesai dengan skor kacamata.

Menyadari Singo Edan kesulitan mencetak gol ke gawang lawannya, pelatih Benny Dollo berinisiatif mempertajam lini depan. Rivaldo Costa yang tampil dibawah form digantikan oleh kompatriotnya, Junior Lima. Pergantian pemain tersebut cukup positif menambah gedor dan daya serang Arema.

Dibabak kedua Arema menguasai kendali permainan. Permainan cantik yang dikomandoi Joao Carlos sebagai playmaker membuat pemain PSDS harus bekerja ekstra. Apalagi beberapa pemain Arema melakukan gerakan tanpa bola dan siap melakukan 'tusukan' yang membahayakan gawang lawannya.

Sejak awal babak kedua Singo Edan mengambil insiatif menyerang lawannya. Hasilnya peluang emas pertama mereka dapatkan lewat tendangan sudut. Corner Kick yang diambil Firman Basuki disambut sundulan pemain Arema yang diteruskan kepada Junior Lima yang berdiri bebas didepan gawang PSDS. Pemain Brazil tersebut langsung meneruskan umpan rekannya dengan sundulan yang dialamatkan ke gawang lawannya, sayang kiper PSDS, Dede Sulaiman dapat membaca arah bola tersebut.

Di menit ke-71, Arema nyaris merubah skor pertandingan sore itu. Berawal dari crossing yang dilakukan Sonny Kurniawan ke gawang PSDS, bola yang dikirimkannya sebenarnya dapat dibuang langsung oleh pemain belakang tim Traktor Kuning. Namun pemain belakang tersebut gagal mengantisipasi datangnya arah bola sehingga bola jatuh didekat Marthen Tao. Posisinya yang bebas tak terkawal membuatnya leluasa untuk meneruskan arah bola kegawang lawan. Sayang sundulannya gagal berbuah gol karena bola menyentuh mistar gawang.

Meski gagal merubah skor, I Putu Gede, dkk tetap tampil semangat. Pada menit ke-87, Junior Lima Filho terjatuh di kotak penalti. Pemain Brazil tersebut sempat mengangkat tangan dan meminta penalti diberikan. Sayangnya wasit Aeng Suarlan tidak melihat terjatuhnya Junior sebagai pelanggaran dan permainan tetap berlanjut. Babak kedua akhirnya masih berakhir dengan skor 0-0.

Dibabak perpanjangan waktu skuad Singo Edan masih menunjukkan dominasi permainannya. Mereka menguasai lini tengah dan nyaris hanya menyisakan sedikit peluang bagi PSDS untuk merangsek ke gawang Arema. Singo Edan juga beberapa kali nyaris mencetak peluang lewat kemelut gawang yang terjadi didepan gawang PSDS. Sayang rapatnya pertahanan dari tim Traktor Kuning membuat Arema gagal mencetak gol.

Aroma adu penalti terbayang dibenak penonton yang hadir kala itu. Maklum hingga 2 menit menjelang babak perpanjangan waktu berakhir, skor masih tetap imbang untuk kedua tim. Namun kekhawatiran tersebut sirna ketika di menit ke-119 Marthen Tao berhasil mengoyak gawang Dede Sulaiman melalui kemelut didepan gawang PSDS. Gol yang dicetak pemain kelahiran 4 Maret 1979 tersebut seolah membayar hutang kegagalan Marthen diwaktu normal.

Gol yang dicetak pemain asal Sorong tersebut disambut sukacita oleh Aremania di tribun timur. Selepas peluit tanda berakhirnya pertandingan ditiup oleh Aeng Suarlan, ratusan Aremania berhampuran ke arah lapangan. Beberapa diantara mereka menyerbu pemain Arema demi meminta 'cendera mata' berupa kaus dan celana.

Arema sebagai juara Divisi I berhak mendapatkan hadiah uang sebesar Rp 250.000.000,00 beserta piala. Selepas seremoni penyerahan piala duo penyerang Arema, Junior Lima dan Rivaldo Costa mengarak trophy kemenangan tersebut ke arah tribun timur yang ditempati Aremania.

DATA PERTANDINGAN

Arema vs PSDS 1-0

Pencetak Gol : Marthen Tao (menit ke-119)

Wasit : Aeng Suarlan

Skuat Arema :

Kurnia Sandy, Sonny Kurniawan, Firman Basuki, Claudio Jesus, Sunar Sulaiman, Aris Budi Prasetyo, I Putu Gede(c), Joao Carlos, Rivaldo Costa, Stenly Mamuaya, Marthen Tao. Pelatih Benny Dollo

Cadangan : Silas Ohee, Hermawan, Zaenuri, Sutaji, Nanang Supriadi, Donny Saperi, Junior Lima

Skuat PSDS :

Dede Sulaiman, Arisnanto, Rifki Firdaus, Syafruddin, M. Yusuf, Mohamed Lamine, Ansyari Lubis(c), Tommy Pranata, Didi Firmansyah, Putut Waringin, Fernando Guajardo. Pelatih Syahrial

Cadangan : Irwin R, Geribaldi N., Marcello R., Sugianto, Irwansyah, Suwarno, Ade CHandra

Komentar Aremania

Jadwal Pertandingan

2 - 0
Liga 1 - Stadion Gajayana Malang (20.30 WIB)
Hasil Selengkapnya

Jadwal Pertandingan

0 - 0
Liga 1 - Stadion Gajayana Malang (20.30 WIB)
Hasil Selengkapnya