Arema Pelopori Sistem Kontrak Tanpa DP Musim Depan

Arema Pelopori Sistem Kontrak Tanpa DP Musim Depan
Ruddy Widodo (C) AKAIBARA

Manajemen Arema pelopori sistem kontrak tanpa DP (Down Payment) alias uang muka musim depan. Mereka sudah menyampaikannya kepada pelatih dan pemain.

Jika sebelumnya, misalkan seorang pemain dikontrak 500 juta rupiah dalam 10 bulan, si pemain mendapatkan DP 20% (100 juta). Maka gajinya tiap bulan adalah 500 juta dikurangi DP 100 juta, hasilnya 400 juta dibagi 10 bulan, yakni 40 juta per bulan.

General Manager Arema, Ruddy Widodo berencana menghapuskan DP itu untuk musim depan. Dengan nnilai kontrak yang sama misalnya (500 juta), si pemain per bulan menerima gaji 50 juta (dalam 10 bulan).

“Musim depan 18 klub Liga 1 bersepakat untuk menghilangkan tradisi DP, yang sepertinya cuma ada di Indonesia. Jujur saja, DP ini memberatkan klub. Misal Arema anggarannya 30 miliar permusim, harus ada 7,5 M di muka untuk DP,” kata Ruddy.

Sistem Kontrak Tanpa DP Sudah Mulai Diterapkan Musim Ini

Ruddy Widodo menjelaskan, sebenarnya sistem kontrak tanpa DP itu sudah diterapkan pada para pemain asing anyar Arema musim ini. Tercatat, Jonathan Bauman, Matias Malvino, dan Elias Alderete tidak menerima DP yang kadung menjadi tradisi di sepak bola Indonesia itu.

Manajer berkaca mata ini menyebut, mereka sama sekali tak rewel, meski usai teken kontrak awal cuma menerima semacam sign fee, yang diartikannya sebagai gaji bulan pertama.

“Mereka tidak protes karena setahu mereka di luar negeri memang tidak ada yang namanya DP ini. Hanya saja, bagi mereka yang berpengalaman bekerja di Indonesia, kecenderungannya memang minta DP, karena sudah tahu kebiasaan ini,” imbuh pria berusia 48 tahun itu.

Arema Pernah Merugi Gara-gara DP

Selain harus menyediakan anggaran lebih besar di awal musim, Ruddy Widodo membeber kerugian klub memakai sistem kontrak dengan DP. Hal itu bahkan sudah berkali-kali dialami Arema, seperti saat mengontrak pelatih asal Austria, Wolfgang Pikal di Indonesia Super League (ISL) 2011-2012 silam.

“Hitungannya rugi, seperti kasus Wolfgang Pikal, misal kontraknya 500 juta, Arema bayar DP 125 juta (25%), dan gajinya 31 juta per bulan. Begitu dua bulan, karena prestasinya jelek, kita putus kontrak, Arema masih harus mengeluarkan dua kali nilai gaji sebagai pesangon. Totalnya, 125 juta tambah 124 juta (gaji 2 bulan dan pesangon), cuma buat dua bulan masa kerja, kan rugi,” tandasnya.

 

Subscribe channel Youtube kami, ikuti kami di Instagram dan gabunglah bersama kami di Facebook untuk menjadi bagian dari komunitas Arema dan Aremania.