Aremania Menggugat Fokus Terhadap Siapa Saja yang Terlibat Dalam Kanjuruhan Disaster 2

Kelompok Aremania Menggugat fokus terhadap siapa saja yang terlibat dalam Kanjuruhan Disaster 2. Mereka tak ingin masalah ini berkembang lebih jauh menyasar pihak-pihak di luar konteks tragedi ini.

Saat ini statusnya berkas perkara Kanjuruhan Disaster 2 sudah dilimpahkan kepada Kejaksaan Tinggi Jawa Timur oleh tim penyidik Polri sejak 25 Oktober 2022. Masih ada wktu dalam 14 hari bagi Kejati Jatim untuk mengkaji berkas tersebut.

Surat kepada Kejati Jatim sudah dilayangkan kelompok Aremania Menggugat. Tujuannya agar Kejati Jatim meminta tim penyidik melengkapi berkas dengan hasil ekshumasi-autopsi korban meninggal dan visum korban luka-luka.

Ketua Tim Pendampingan Hukum Aremania Menggugat, Djoko Tritjahjana mengatakan, jika berkas sudah dilimpahkan ke pengadilan atau P21, maka tak ada pengembangan penyidikan. Maka, harapan meminta adanya tersangka baru, yakni para eksekutor tembakan gas air mata bisa pupu.

“Kami tak ingin masalah ini berkembang terlalu jauh, tapi fokus saja kepada siapa saja yang terlibat dalam persoalan ini, agar bertanggung jawab secara hukum. Itu misi kami, tidak ada niatan untuk menghakimi seseorang, selain di luar konteks persoalan ini,” kata Djoko.

Berharap Mereka yang Terlibat Dalam Kanjuruhan Disaster 2 Bisa Diadili.

Djoko menambahkan, Kelompok Aremania Menggugat berharap mereka yang terlibat dalam Kanjuruhan Disaster 2, termasuk para eksekutor tembakan gas air mata diadili. Menurutnya, itu sudah mewakili harapan para korban dan keluarganya.

Yang dikhawatirkan, kasus ini disidik atas laporan polisi jenis A, di mana merupakan laporan atas dasar temuan polisi. Menurutnya, status pelaporan itu membuat kelompok Aremania Menggugat tak punya akses untuk meminta pengembangan penyidikan kepada tim penyidik secara langsung.

“Tapi kami sebagai masyarakat dan kuasa hukum korban, berharap perkara ini diselesaikan dengan benar dan seadil-adilnya. Permintaan kami sederhana saja. Ini sekaligus juga memberikan pembelajaran ke depan. Jangan sampai kejadian ini terulang kembali,” pungkasnya.