Kompolnas Ungkap Fakta-fakta di Balik Kanjuruhan Disaster 2

Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mengungkap fakta-fakta di balik Kanjuruhan Disaster 2. Institusi yang langsung berada di bawah Presiden Joko Widodo ini turut mengawasi investigasi yang dilakukan tim dari Mabes Polri.

Tragedi yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang usai laga Arema vs Persebaya Surabaya di Liga 1 2022-2023 Pekan 11, Sabtu (1/10/2022) malam ini menelan banyak korban jiwa. Kompolnas mengupdate, terakhir jumlah korban meninggal sebanyak 131 orang.

Komisioner Kompolnas, Albetus Wahyurudhanto menyebut, Polres Malang sudah ngotot untuk mengajukan perubahan kick off melalui Panpel Arema dari pukul 20.00 WIB menjadi pukul 15.39 WIB. Namun, PT Liga Indonesia Baru menolaknya.

“Ada Surat di sini tanggal 13 September 2022. Sudah dianalisis bahwa laga ini punya risiko sangat tinggi. Ternyata surat ini tidak direspons. Balasan pada 19 September dari PT LIB meminta jadwal sesuai jadwal pukul 20.00 WIB, karena ada kontrak dengan pemegang hak siar televisi,” kata Albetus.

Fakta Pintu Tribune Terkunci dan Gas Air Mata yang Memicu Kanjuruhan Disaster 2 Banyak Korban

Albetus juga membeberkan fakta tentang pintu tribune yang terkunci saat tragedi terjadi. Temuan fakta tentang tembakan gas air mata juga diungkapkannya.

Menurutnya, dari hasil investigasi, Polisi tidak memberikan instruksi untuk menutup pintu tribune. Seharusnya, 15 menit sebelum laga berakhir, pintu itu dibuka.

“Tidak ada pula perintah Kapolres Malang atas pelepasan gas air mata. Itu disampaikan sejak lima jam sebelum kick off,” imbuhnya.

Pihak kepolisian juga sudah menyiapkan kendaraan baracuda untuk antisipasi kejadian setelah pertandingan. Kendaraan tersebut difungsikan untuk membawa pemain tim lawan agar keluar aman, meski tidak wajar di sepak bola dunia.

“Tapi, baracuda sulit keluar karena banyak massa suporter, seiring massa juga banyak di dalam stdion. Gas air mata menjadi pemicu atas kepanikan suporter. Kami melihat sesuai on the track, sesuai objektif,” sambungnya.

Jumlah Pengamanan Sudah Ideal

Albetus menyebut, jumlah pengamanan sudah ideal dalam laga tersebut. Setidaknya ada 2.000 personel, 600 dari kota. 1.600 adalah bantuan personel dari brimob, dan TNI yang sudah berlatih secara internal.

“Ketika jeda laga, masih ada penonton pakai tiket gelang di luar. Secara logika mereka bisa masuk, tapi penonton di dalam sudah penuh. Ini menjadi perhatian bagi kami, polisi tidak bisa salah sepenuhnya. Ada Panpel juga,” sambungnya.

“Kapasutas stadion juga, seharusnya Kanjuruhan full 38 ribu, tapi tiket lebih dari itu. Gas air mata terjadi pada akhir laga.”