Tak Ada Kandungan Gas Air Mata Dalam Jenazah 2 Korban Kanjuruhan Disaster 2 yang Diautopsi

Tak ada kandungan gas air mata dalam jenazah dua korban Kanjuruhan Disaster 2, NDR (16) dan NDA (13), yang diautopsi. Kesimpulan itu disampaikan Ketua Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia (PDFI) Jawa Timur, dokter Nabil Bahasuan.

Menurutnya, seluruh rangkaian pemeriksaan dalam, pemeriksaan luar, dan pemeriksaan tambahan sudah dilakukan tim PDFI yang dipimpinnya. Hasilnya pun sudah disampaikan kepada tim penyidik Polri.

Nabil menegaskan, pihaknya hanya diberikan hak oleh tim penyidik untuk memberikan penjelasan sebatas kesimpulan saja. Sebab, semua informasi tentang hasil autopsi kedua jenazah itu akan diberikannya di pengadilan nanti.

“Sample toksikologi yang ada pada kedua korban sudah kami kumpulkan kepada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kami dapatkan tidak terdeteksi adanya kandungan gas air mata tersebut. Untuk lebih jelasnya, nanti di pengadilan bisa didatangkan ahli dari BRIN yang memeriksa hasil sample tersebut,” kata Nabil.

“Untuk pemeriksaan toksikologi, kami fokus mendeteksi kandungan gas air mata, tapi tidak ditemukan. Untuk uji patologi anatomi, kami fokus pada keradangannya.”

Kematian 2 Korban Kanjuruhan Disaster 2 yang Diautopsi Diklaim Karena Mengalami Patah Tulang

Dokter Nabil menyebut kesimpulan hasil autopsi yang dilakukan timnya kepada NDR dan NDA, penyebab kematian keduanya bukanlah gas air mata. Diklaim, kedua jenazah mati karena trauma patah tulang akibat benda tumpul.

“Pada jenazah NDR, didapatkan kekerasan benda tumpul, ada patah tulang iga, sekitar 5 buah, juga mendapatkan perdarahan yang banyak, sehingga itu menjadikan sebab kematiannya,” imbuhnya.

“Untuk adiknya (NDA) sama, tapi yang patah di tulang dadanya, dan sebagian tulang iga di sebelah kanan. Di dunia kedokteran forensik, kita tidak bisa mengatakan itu patah karena apa, hanya karena kekerasan benda tumpul. Untuk pastinya, ada di penyidik yang lebih tahu.”

Kesulitan Selama Proses Autopsi

Dokter Nabil membeberkan kesulitan tim PDFI Jawa Timur selama proses autopsi selama kurang lebih tiga pekan ini. Kondisi jenazah menjadi salah satu tantangan terbear mereka saat mengambil sample.

“Kedua jenazah korban ini kan sudah mengalami proses pembusukan lanjut ketika dilakukan ekshumasi. Bisa dibayangkan, bagian-bagian yang masih tersisa yang bisa kami ambil, tidak semuanya. Ada yang membusuk dan tidak bsia kita ambil, itu ada di hasil visum,” tegasnya.

“Untuk memastikan patah tulang sebagai penyebab kematiannya pasti bisa kalau kita melihat tulang-tulang yang patah itu mengenai organ-organ vital di daerah dada. Kalau pun korban masih hidup, pasti dibutuhkan penanganan yang cepat, ini emergensi sekali.”