Trauma Psikis Pemain Arema Pasca Kanjuruhan Disaster 2 di Level Tidak Terlalu Parah

Trauma psikis pemain Arema pasca Kanjuruhan Disaster 2 ternyata ada di level yang tidak terlalu parah. Hal itu disampaikan Pelatih Arema, Javier Roca berdasarkan kesimpulan sementara tim psikolog yang mendampingi timnya.

Setidaknya, sudah 10 hari terakhir para penggawa Singo Edan berlatih secara tertutup pasca tragedi tersebut. Merek aberlatih masih dalam pendampingan tim psikolog dari Universitas Indonesia (UI).

Menurut Roca, program latihan yang disusunnya ada koneksi dengan apa yang tim psikolog UI usulkan. Tujuannya tentu agar tim Arema bisa segera ada kegiatan bersama di lapangan.

“Jadi, setelah mereka susun questioner, baru nanti saya meeting lagi sama tim psikolog. Kalau menurut saya, sebenarnya tidak terlalu parah, itu secara tim. Karena apa yang saya bisa lihat di lapangan, memang tim ini tidak seperti biasnya,a tapi menuju ke arah normal,” kata Roca.

Trauma Psikis Pemain Arema Berbeda-beda

Menurut keterangan tim psikolog, Javier Roca menjelaskan trauma psikis yang dialami para penggawa Arema berbeda-beda. Tiap pemain kondisinya tidak sama.

Karenanya, Johan Farizi dan kawan-kawan tak cuma menjalani sesi latihan bersama. Namun, tiap pemain kabarnya juga dipanggil satu persatu untuk menjalani sesi konseling privat.

“Traumanya beda-beda. Sudah terlihat gambaran lebih luas tentang kondisi psikis pemain Arema,” tandasnya.