Malang Raya

Tekad Ryan Gozali, Untuk Memajukan Liga Mahasiswa Indonesia

Ryan Gozali (tengah menggunakan jas) bersama awak media di Malang

Tidak banyak publik olahraga Indoensia yang mengenal LIMA atau Liga Mahasiswa. Padahal event yang digelar untuk kalangan Mahasiswa ini sudah berlangsung hingga tujuh tahun lamanya. Dibalik itu semua, ada Ryan Gozali sang CEO yang terus mempromosikan ajang untuk mengembangkan bakat Mahasiswa di bidang olahraga tersebut.

Bertempat di sebuah kafe di Malang, Ryan kepada awak media di Malang menceritakan tekadnya untuk memperbaiki citra atlet di Indonesia. Banyak diantara atlet tersebut yang setelah menjalani sekolah reguler pendidikan 12 tahun berhenti begitu saja.

Keberadaan LIMA diperuntukkan untuk membuka diri bagi kampus memberikan beasiswa kepada atlet.

“Banyak diantara atlet yang ketika sudah melewati masa emasnya kesulitan dalam masalah finansial. Mereka turun di pekerjaan profesional ya tidak bisa karena tidak memiliki ijazah S1,” ungkap Ryan.

“Karena itu, kami ingin kampus membuka beasiswa untuk atlet. Nah, kampus tentu tidak akan membukan beasiswa jika peruntukannya tidak sesuai. Sehingga kami menyediakan kompetisinya. Kampus bisa saling bertarung untuk menjadi pemenang.”

Ryan sendiri tidak sungkan menyatakan jika dia berkiblat kepada Amerika Serikat yang sangat menonjol kompetisi Mahasiswanya.

“Kami perlu banyak belajar, memang budayanya berbeda. Tetapi kami ingin mengambil gairah berkompetisi antar kampus ke Indonesia. Sejauh ini berjalan lancar dan selalu melakukan perbaikan dan evaluasi. Kompetisi mahasiswa Amerika sudah berjalan ratusan tahun sementara kita baru tujuh tahun,” sambungnya.

Saat ini, kompetisi yang tersedia di LIMA adalah Bulutangkis, Basket, Sepakbola, Futsal, dan Bola Voli. Tahun depan akan bertambah dengan kompetisi E Sports.

“Keberadaan kami juga membuat beberapa Kampus kini mulai menggalakkan UKM olahraga. Awalnya UKM ini hanya kebutuhan untuk mencari keringat, tetapi kini sudah mencapai kebutuhan untuk berprestasi. Bahkan beberapa Kampus cukup senang dengan kehadiran LIMA karena kini kampusnya makin diketahui orang. Ya saya ikut senang karena lewat ajang olahraga akhirnya bisa mengenal kampus,” tegasnya.

“Saya terus memberikan pengetahuan kepada kampus tentang keberadaan LIMA ini, seperti UIN Malang yang saat ini sudah mulai membuka diri untuk beasiswa atlet. Awalnya saat LIMA hadir, ada empat kampus yang menyediakan beasiswa, kini sudah meningkat menjadi 44 kampus,”

Soal pendanaan, Ryan menyatakan jika LIMA ini adalah indipenden dan terbebas dari dana pemerintah. Dia berujar tidak ingin membebani pemerintah. Sehingga lewat tim organisasinya, LIMA akan mencari sponsor.

“Ini adalah proyek jangka panjang. Bukan tidak mungkin kami kemudian akan menggelar ajang antar negara ASEAN. Jika saat ini sudah ada antar negara, maka kami seperti Piala AFC atau Liga Championnya yaitu antar Kampus,” sambungnya.

Exit mobile version