Memori Arema

Wawancara Nanang Supriyadi, Sang Legenda Arema 11 Tahun

Wawancara Nanang Supriadi, Sang Legenda Arema 11 Tahun
Nanang Supriadi yang menjebol gawang Persiraja Banda Aceh (C) IST

Pecinta Arema di era Galatama 1993-1994, hingga Liga Indonesia 2004 pasti mengenal sosok Nanang Supriyadi yang kerap mengisi lini tengah. Pemain asli Malang itu tercatat 11 tahun memperkuat skuad Singo Edan.

Saat ini, di usianya yang sudah 47 tahun, Nanang masih menjalani kesibukan kerja di luar lingkungan sepak bola. Meski demikian, pemain kelahiran 26 Maret 1973 itu mengaku masih bermain sepak bola di kampung setiap akhir pekan.

Beberapa waktu lalu, pemain sayap Arema, Dendi Santoso mendatangi rumahnya di Gang Sumpil, Kota Malang untuk melakukan wawancara. Hasilnya bisa dilihat dalam channel YouTube si pemain, Dendi 41 Santoso.

Kapan Pertama Kali Nanang Supriyadi Bermain Sepak Bola?

Saya pertama kali bermain sepak bola di usia 10 tahun. Pertama kali bergabung dengan Sekolah Sepak Bola (SSB) Indonesia Muda (IM), klub internal Persema Malang. Saya masuk SSB tersebut bukan karena banyak teman di kampung yang juga gabung di sana, melainkan karena keinginan saya sendiri.

Kalau klub profesional pertama saya adalah Persema. Waktu itu saya gabung masih era Perserikatan, tepatnya pada musim 1991-1992 (di usia 18 tahun).

Nanang juga sempat tergabung dalam tim sepak bola Jawa TImur di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) 1996 di Jakarta. Saat itu, Nanang satu tim dengan pemain-pemain profesional lainnya seperti I Putu Gede, Kuncoro, Bejo Sugiantoro, dan lain-lain.

Pernah Ditawari Kontrak Tinggi, Kenapa Menolak?

Saya pernah mendapat tawaran tinggi dari klub lain saat masih membela Arema, tapi saya tolak. Alasannya saya berat meninggalkan Arema, karena Aremania. Saya betah di tim ini, makanya saya tolak tawaran besar itu. Bagi saya, Aremania itu bukan cuma suporter, tapi juga ikut dalam tim, sebagai pemain ke-12.

Saya di Arema sejak tahun 1993 sampai 2004, terhitung 11 tahun. Saya tidak pernah merasa jenuh, karena memang kadung suka dengan Arema. Bagi saya, Arema itu tim besar, apalagi saya orang asli Malang, bermain di Arema tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya.

Banyak kenangan yang berkesan di Arema, waktu bermain di kandang ataupun tandang. Ketika mendapatkan satu poin di kandang lawan rasanaya senang sekali, rasanya seperti menang. Kalau gol pertama, yang saya ingat gol ke gawang Petrokimia Putra Gresik, saat bermain di Stadion Gajayana.

Kebiasaan Nanang Supriyadi Saat Menjadi Pemain dan Teman Dekat?

Saya punya kebiasaan kalau tur naik bus bersama tim, saya selalu duduk di kursi bagian paling belakang. Mau saya datang terakhir, teman-teman pasti menyisakan satu kursi di bagian belakang untuk saya. Saya tidak suka duduk di tengah atau depan. Teman-teman sudah tahu karena saya biasa duduk di belakang, makanya dikosongi.

Kalau teman dekat, di mes pemain saya cenderung akrab dengan Charis Yulianto. Biasanya kami satu kamar, baik di mes ataupun saat tur tandang. Charis masuk Arema dua tahun setelah saya gabung.

Ada Cerita di Balik Nomor Punggung 8?

Nomor punggung 8 bukanlah nomor punggung pertama yang saya pakai di Arema. Nomor punggung itu juga tidak identik dengan saya. Pertama kali saya pakai nomor punggung 12. Lalu, saya ganti nomor punggung 11, kemudian nomor punggung 7.

Suatu ketika saya ganti lagi pakai nomor punggung 8. Setelah saya pakai di lapangan rasanya kok enak, nyaman, akhirnya saya putuskan terus memakai nomor punggung 8 saja, dan saya pakai terus.

Pesan Buat Pemain Muda Asli Malang?

Jangan malas berlatih, meskipun pelatih sudah memberikan porsi latihan setiap harinya. Cobalah menambah porsi latihan sendiri seperti saya dulu.

Saya dulu bersama pemain Arema lainnya, seperti Aji Santoso dan Singgih Pitono, setiap hari selalu menambah porsi latihan sendiri. Ketika pemain lain sudah istirahat tidur siang, kami menjalani latihan sendiri.

Exit mobile version