blog

Mengenang Momen Indah Arema Meruntuhkan Kandang Persela

Meski dalam dua musim terakhir di Liga 1 selalu kalah dengan skor mencolok 4-0 saat melawat ke Stadion Surajaya Lamongan, namun ada momen indah Arema meruntuhkan kandang Persela Lamongan. Menarik mengenang laga tersebut jelang pertemuan ke-36 kedua tim di pekan ke-19 Liga 1 2019, Jumat (20/9/2019) mendatang.

Kemenangan Arema di kandang Persela itu terjadi di pekan kesepuluh Indonesia Soccer Championship (ISC) A 2016, 18 Juli 2016 lalu. Kala itu, skuat Singo Edan menang dengan skor 2-0 atas tim tuan rumah.

Sepuluh menit babak pertama berjalan tanpa peluang berarti dari kedua tim. Baik Arema maupun Persela sama-sama mencoba bermain hati-hati.

Permainan keras Persela selain membuahkan kartu kuning untuk Taufiq Kasrun juga berakibat cederanya Ahmad Nufiandani. Sunarto yang dimasukkan sebagai pemain pengganti di menit 33 membuat sisi sayap Arema lebih berkembang.

Dua Gol di Babak Kedua

Sunarto akhirnya memecah kebuntuan dengan torehan golnya di menit 64 yang membungkam publik Stadion Surajaya. Sebuah skema serangan balik dimanfaatkannya untuk mengecoh dua bek Persela sebelum menceploskan bola ke gawang lawan yang dijaga mendiang Choirul Huda.

Unggul 1-0 membuat Arema semakin nyaman dan leluasa bermain. Namun, kubu tuan rumah tim berjuluk Laskar Joko Tingkir yang enggan dipermalukan di kandang sendiri juga kerap melancarkan serangan.

Menit 82 menjadi puncak kejayaan Arema meruntuhkan kandang Persela setelah Cristian Gonzales mampu membawa Arema unggul 2-0. Lewat skema sebuah serangan balik, Antoni Putro Nugroho melepaskan cut back yang membuat Gonzales leluasa menceploskan bola ke gawang Persela.

Mengulang Momen Indah

Di Liga 1 2019 kali ini, Arema akan bertandang kembali ke Stadion Surajaya Lamongan. Menariknya, skuat Singo Edan kembali dipimpin pelatih Milomir Seslija yang di ISC A 2016 menghadirkan kemenangan tandang 2-0 atas Persela.

Sanggupkah pelatih yang akrab disapa Milo itu mengulang momen indah Arema meruntuhkan kandang Persela? Menarik untuk dinantikan hasilnya di akhir pekan nanti.

 

Ponaryo Astaman: Arema Memenuhi Persyaratan Jadi Tim Juara

Ponaryo Astaman turut angkat bicara terkait peluang Arema menjadi juara di Liga 1 2019. Pesepak bola kelahiran Balikpapan itu menilai Arema memenuhi persyaratan jadi tim juara.

Diam-diam, Ponaryo yang pernah memperkuat lini tengah Arema di musim 2007-2008 itu masih mengamati performa Arema. Menurutnya, penampilan skuat Singo Edan beberapa musim terakhir masih konstan.

Namun, menurutnya ada beberapa hal yang masih harus diperbaiki oleh tim pelatih. Meski demikian, peluang untuk menjadi juara kompetisi musim ini masih terbuka lebar.

“Saya pikir, kalau dari materi pemain semua sudah baik, tim pelatih juga. Saya rasa Arema memenuhi persyaratan jadi tim juara. Tinggal bagaimana mempertahankan konsistensi saja,” ungkap Ponaryo ditemui di Stadion Kanjuruhan Malang.

Pentingnya Menjaga Konsistensi

Ponaryo yang ke Malang untuk memberikan penghargaan pemain terbaik kepada gelandang Arema, Makan Konate, mengungkapkan pentingnya menjaga konsistensi. Selain menjadi tugas pelatih, Ponaryo menegaskan dibutuhkan peran dan komitmen dari pemain agar tim bisa tampil konsisten.

Dalam beberapa kesempatan, menurutnya penampilan Arema bisa sangat bagus, dengan serentetan kemenangan. Namun, seperti tiga pekan terakhir, grafik penampilan Arema bisa terlihat menurun, dengan menderita satu kekalahan di laga tandang dan dua kali hasil imbang saat bermain di kandang sendiri.

“Sekarang bagaimana menjaga grafik performa sepanjang musim. Selain tugas pelatih, pemain Arema juga harus punya target yang tinggi sesuai dengan target yang diberikan kepada pelatih. Motivasi tidak datang dari manajemen atau pelatih saja, tapi dari pemain sendiri.

Waspadai Pesaing di Lima Besar

Ponaryo menyebut peluang Arema untuk menjadi juara masih sangat terbuka, karena masih ada banyak pertandingan di sisa putaran kedua. Nanun tantangan akan datang dari tim-tim penghuni lima besar klasemen sementara saat ini.

“Melihat performa tim saya rasa Arema bisa bersaing sebagai salah satu tim yang bisa diperhitungkan untuk bisa menjadi juara musim ini. Tapi persaingan ketat akan datang dari tim-tim di lima besar. Kalau mampu menjaga konsistensi, Arema bisa bersaing mendapatkan gelar juara,” tegas pria 40 tahun itu.

Milo: Kalah dari Persela Bukan Tradisi Arema

Milomir Seslija tak mau Arema kalah lagi dari Persela Lamongan di Stadion Surajaya Lamongan, pada pekan ke-19 Liga 1 2019, Jumat (20/9/2019) malam. Pelatih yang akrab disapa Milo itu menegaskan kalah dari Persela bukan tradisi Arema.

Melihat ke belakang, Arema sudah delapan kali melawat ke kandang Persela. Selama bertemu, skuat Singo Edan mengalami empat kekalahan dan mampu memaksakan empat hasil imbang.

Sialnya, dua pertemuan terakhir di Lamongan, Arema kalah dengan skor besar, 0-4. Kekalahan empat gol tanpa balas itu terjadi di Liga 1 2017 saat dilatih Aji Santoso dan Liga 1 2018 saat dilatih Milan Petrovic.

“Di dua musim terakhir kami memang punya hasil buruk, tapi kalah dari Persela bukan tradisi Arema, kami harus bangkit,” kata Milo.

Catatan Buruk Jadi Tekanan

Milo khawatir catatan buruk ini akan menjadi tekanan bagi timnya. Namun, pelatih asal Bosnia itu percaya pemainnya mampu mengatasi tekanan tersebut.

Apalagi, dalam tiga pertandingan terakhir, Arema menuai hasil minor. Mereka cuma mampu mengumpulkan dua poin lantaran kalah 1-2 di kandang Bali United dan dua kali bermain imbang di kandang, 1-1 dengan PSIS Semarang dan 2-2 dengan Borneo FC.

“Mungkin akan banyak tekanan dari semua pihak, ini normal. Tapi, kami harus yakin, dan melanjutkan kerja keras. Maka, hasil positif akan datang dengan sendirinya,” imbuhnya.

Bermodal Kemenangan di Tahun 2016

Saat masih menangani Arema di Indonesia Soccer Championship 2016 lalu, Milo punya catatan bagus atas Persela. Bahkan, klub berjuluk Laskar Joko Tingkir itu mampu digasak tiga kali, 3-0 di Malang, 2-0 di Lamongan, dan 3-1 di ajang Piala Gubernur Kaltim 2016.

Pertandingan ini bukan soal kemenangan dan kekalahan kemarin, semua itu hanya sejarah. Kami akan melakukan yang terbaik untuk mendapatkan poin di kandang Persela,” tandas pelatih 55 tahun ini.

Joko Susilo Buka Peluang Kembali ke Arema Tahun Depan

Joko Susilo menikmati perannya di tahun 2019 ini sebagai asisten pelatih Tim Nasional Indonesia mendampingi pelatih kepala, Simon McMenemy. Namun, pria yang akrab disapa Gethuk itu masih membuka peluang untuk kembali melatih klub, termasuk kembali ke Arema.

Sebelum mengejar lisensi kepelatihan AFC A Pro, Gethuk terakhir melatih Arema di awal Liga 1 2018. Lalu, perannya dikembalikan sebagai asisten pelatih setelah Arema menjadikan Milan Petrovic pelatih kepala.

Sempat bergulir rumor, ada kerinduan terhadap sosok Gethuk yang dinilai sebagai asisten pelatih terbaik yang dimiliki Arema. Tak heran, karena pria asli Cepu itu sejak tahun 2007-2008 sudah mengerneti sejumlah pelatih, seperti Miroslav Janu, Robert Alberts, Wolfgang Pikal, Suharno, Rahmad Darmawan, Milomir Seslija, dan Aji Santoso.

“Saat ini saya ingin membentuk karakter saya dulu, agar saya tidak menjadi kacangan. Saya masih dalam proses belajar menjadi pelatih dengan karakter yang kuat. Saya sudah berusaha menempa diri selama satu tahun ini, semoga di tahun 2020 saya sudah siap kembali,” kata Gethuk.

Sinyal Kembali ke Arema?

Sayangnya, Joko Susilo tak mau memastikan sinyal kembali yang dimaksud itu apakah kembali ke Arema atau ke klub lain. Yang jelas, saat ini, pelatih 49 tahun itu tak ingin memikirkannya sekarang.

Gethuk menegaskan, saat ini masih berkonsentrasi di timnas Indonesia, sambil berusaha menjadi pelatih yang lebih baik dari musim 2018 lalu. Selama setahun terakhir ini, Gethuk bersyukur bisa belajar banyak dengan para pelatih senior yang sama-sama mencari lisensi A Pro yang jadi modalnya kembali di tahun 2020.

“Tentunya saya tidak berpikir akan ke klub A, B atau C, biar nasib yang berkata. Kalau pun nanti saya berkesempatan kembali ke Arema, melatih klub lain, klub Liga 1 atau Liga 2 sekali pun, yang terpenting saya harus bisa menunjukkan bagaimana karakter saya,” imbuhnya.

Ada Perang Batin

Jika boleh jujur, Joko Susilo mengaku saat ini sedang ada perang batin di dirinya. Sebab, di satu sisi bapak empat anak itu ingin sekali melatih klub, tapi di sisi lain ingin berbagi ilmu kepelatihan kepada pelatih-pelatih lain sebagai seorang instruktur kepelatihan memanfaatkan lisensi AFC A Pro-nya.

“Saya ingin membagi ilmu ini, tapi di hati saya sebagai seorang panglima, saya tidak tenang juga kalau tidak ikut perang dengan cara melatih klub. Semoga di tahun 2020 saya punya keputusan yang tepat,” tegas Gethuk.

LIMA Bola Voli: Tuan Rumah UIN Maliki Tumbang

Malang kembali menjadi tuan rumah ajang LIMA (Liga Mahasiswa) yang tahun ini sudah memasuki edisi ketujuh. Kali ini Kota Malang dijadikan tuan rumah untuk ajang Bola Voli dengan nama kompetisi LIMA Volleyball: McDonald’s East Java Conference Season 7.

Sebagai ajang penyisihan untuk Jawa Timur, Universitas Islam Maulana Malik Ibrahim ditunjuk sebagai tuan rumah pada ajang yang berlangsung pada 16-20 September ini.

Meskipun menjadi tuan rumah, hasil negatif dipetik UIN Maliki. Mereka harus mengakui keunggulan UINSA (Sunan Ampel) Surabaya pada laga perdana dengan skor 3-1.

Bermain di Sport Center UIN, pertandingan set pertama berjalan dengan sangat ketat. Tuan rumah yang didukung oleh suporternya mampu menang dengan skor 25-20.

Sayang penampilan UIN Maliki menurun di set kedua hingga keempat. Mereka kalah dengan skor yang sama yaitu 25-15.

Pelatih UIN Maliki menyatakan jika kekalahan anak asuhnya karena memiliki stamina yang tidak cukup baik sehingga kelelahan di pertandingan. Sedangkan pelatih UINSA menyatakan kemenangan anak asuhnya karena kerja keras dan mental yang baik meskipun sempat tertinggal di set pertama.

“Kedua tim saling membalas poin di pertandingan ini. Alhamdulillah UINSA bisa memenangi laga pertama di kompetisi LIMA ini. Meski sempat tertinggal di set pertama, kami tetap berusaha dengan melakukan perubahan taktik dan membangkitkan semangat para pemain. Kami masih akan terus melakukan latihan rutin karena masih ada pertandingan selanjutnya melawan UII,” ujar pelatih UINSA, Surya Alam.

Universitas Brawijaya Tumbangkan Wakil Bangkalan

Dari grup B, Universitas Brawijaya (UB) berhasil menumbangkan perlawanan tim asal Madura STKIP PGRI Bangkalan dengan skor 3-1. Meskipun kemenangan telak dimiliki UB, jalannya pertandingan sendiri mengindikasikan laga yang sangat ketat.

Di set pertama permainan taktis UB menyudahi lawannya dengan skor 25-20.

Pada set kedua, STKIP bermain dengan semangat tinggi untuk kemudian memenangi set tersebut dengan skor 25-18. UB kemudian kembali membalas di set ketiga dengan skor 25-15.

Pada set penentuan, UB harus berjuang ektra keras untuk memungkasi pertandingan dengan skor tipis 25-23.

“Berkat semangat, kerja sama dan kekompakan tim, kami bisa memenangi pertandingan pertama ini. Kami sempat tertinggal di set kedua karena mereka terlalu percaya diri. Sikap tersebut menjadi evaluasi untuk mereka agar bisa lebih baik lagi. Kami bisa bangkit lagi di set selanjutnya berkat ketenangan anak-anak. Untuk pertandingan selanjutnya kami berharap mereka bisa tetap semangat dan kompak,” kata Johanes, pelatih UB.

Unisma Tidak Berkutik di Tangan UM

Laga ketiga yang masih mempertemukan grup B yaitu Unisma melawan UM seperti berjalan tidak imbang. UM yang banyak memiliki postur pemain yang tinggi tanpa kesulitan menghempaskan lawannya dengan skor akhir 3-0.

Pada set pertama, Yoga Pramudya mampu memimpin rekan-rekannya dengan kemenangan 25-18. Di set kedua UM makin tidak terbendung dengan masing-masing keunggulan dengan skor 25-17 dan 25-10.

“Masih ada kekurangan yang perlu dibenahi setelah pertandingan ini agar ke depannya bisa lebih baik lagi. Teknik passing dan block para pemain kami masih harus diperbaiki. Namun, saya cukup bangga mereka bisa memenangi pertandingan ini meski masih ada yang terlihat ragu di lapangan tadi,” ucap Stevanus Freedy, pelatih UM.

Begal Bocorkan Kelemahan Kiper Utama Persela

Jelang timnya menantang Persela Lamongan di pekan ke-19 Liga 1 2019, Jumat (20/9/2019) malam, Yanuar Hermansyah bocorkan kelemahan kiper utama Persela, Dwi Kuswanto. Pelatih kiper Arema itu tahu betul karena pernah lama satu tim dengannya, termasuk di Arema.

Dwi pun pernah memperkuat Arema di Liga 1 2017 lalu. Bahkan, kiper asal Sidoarjo itu sempat dijadikan kiper utama sepeninggal Kurnia Meiga yang mundur di pertengahan musim karena diduga menderita penyakit misterius.

Tentu saja, sedikit banyak Yanuar mengetahui kelemahan kiper utama Persela tersebut. Begitu pula dengan keunggulan-keunggulan yang dimiliki Dwi.

“Saya sudah bicara dengan pelatih kepala, saya ungkapkan semua titik lemahnya di mana, juga keunggulan dia apa. Semuanya saya ungkapkan, agar kami bisa mencari solusi bagaimana mencetak gol ke gawang Persela,” kata Begal, sapaan akrab sang pelatih kiper kepada WEAREMANIA.

Juga Pelajari Bagaimana Persela Menyerang

Selain membocorkan kelemahan kiper utama Persela, Begal punya tugas yang lebih penting. Eks pelatih kiper Persela itu harus mempelajari bagaimana Persela menyerang.

Terlebih Persela punya pemain depan sekelas Alex dos Santos dan Rafael Gomes de Oliveira alias Rafinha. Meski demikian, Begal ogah kiper atau pertahanan Arema terkonsentrasi pada satu dua pemain saja yang diwaspadai.

“Kami mempelajari bagaimana cara si penyerang melakukan tembakan, penetrasi, pergerakan, juga aliran bola padanya. Lalu, kami siapkan antisipasinya bagaimana untuk kiper,” imbuhnya.

Sarankan Nonton Video

Begal punya cara tersendiri agar kiper-kiper Arema seperti Utam Rusdiyana, kart, Sandi Firmansyah, dan Andryas Francisco dapat memahami keunggulan barisan penyerang Persela. Pelatih asli Malang itu kerap mengajak mereka saling bertukar pendapat.

“Selain itu, kami juga langsung mengaplikasikannya ke dalam sesi latihan. Kiper-kiper Arema juga saya sarankan untuk melihat video rekaman pertandingan lawan, itu pun sangat membantu,” tandasnya.

Makan Konate Jadi Pemain Terbaik Bulan Agustus Versi APPI

Ada yang spesial sebelum pemain Arema menjalani sesi latihan di Stadion Kanjuruhan Malang, Senin (16/9/2019) sore. Gelandang Arema, Makan Konate mendapat penghargaan sebagai pemain terbaik bulan Agustus versi Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI).

Penghargaan itu diberikan langsung oleh General Manager APPI, Ponaryo Astaman. Konate diganjar hadiah voucher Fisik Sport senilai 3 juta rupiah dan satu unit jam tangan dari Garmin.

Menurut Ponaryo, pemilihan nama Konate bukan asal-asalan, karena berdasarkan data statistik si pemain selama bulan Agustus kemarin. Kriteria yang dinilai pun beragam, mulai dari jumlah passing, chances created, gol, dan kontribusinya dalam membantu tim memenangkan pertandingan di bulan tersebut.

“Yang menilai ada Bima Sakti, Kurniawan Dwi Yulianto, dan Firman Utina. Mereka semua tergabung dalam APPI, dan tahu sendiri kapasitas mereka sebagai pemain sepak bola. Jadi kredibilitas penilaiannya bisa dipertanggungjawabkan,” kata Ponaryo.

Jadi Pemain Ketiga

Sepanjang penghargaan diberikan, Makan Konate menjadi pemain pertama Arema yang meraih penghargaan pemain terbaik versi APPI ini. Pemain 27 tahun itu juga tercatat sebagai pemain ketiga di Liga 1 2019 yang mendapatkan penghargaan serupa.

Ponaryo menyebut, sebelumnya, kiper Bali United, Wawan Hendrawan menjadi pemain terbaik untuk bulan Mei-Juni. Sementara, gelandang PS Tira-Persikabo, Ciro Alves menjadi pemain terbaik untuk bulan Juli.

“Dalam penilaian, kami tidak membeda-bedakan apakah itu pemain asing atau lokal. Kalau secara statistik bagus akan kami pilih. Jadi, ini bukan karena suka tidak suka atau terkenal tidak terkenal, tapi murni berdasarkan penampilannya dalam satu bulan,” imbuh pria yang juga legenda Arema tersebut.

Konate Senang Sekali

Makan Konate mengaku senang sekali atas penghargaan tersebut. Pemilik jersey bernomor punggung 10 ini tak menyangka, torehan tiga gol, enam assist, empat chances created per match, dan tiga shots on target per match-nya diganjar penghargaan itu.

“Saya senang sekali dapat gelar pemain terbaik bulan Agustus ini, tapi ke depannya saya harus tetap kerja keras lagi, memberikan yang maksimal untuk tim saya,” tegas Konate.

Inilah Alasan Arema Hanya Mendatangkan Satu Pemain Di Putaran Kedua

Manajemen menjawab sejumlah pertanyaan Aremania tentang kebutuhan tim untuk mendatangkan pemain baru. Arema menyambut putaran kedua hanya mendatangkan satu pemain saja.

Simak uraian langsung dari General Manajer Ruddy Widodo pada Video di atas.

Data dan Fakta Persela Lamongan vs Arema FC Liga 1 2019

Laga Persela Lamongan vs Arema FC akan tersaji di pekan ke-19 Liga 1 2019, Jumat (20/9/2019) sore di Stadion Surajaya Lamongan. Data dan Fakta berbicara bahwa itu adalah pertemuan ke-36 kedua tim di semua ajang.

Rekam Jejak Pertemuan

1. Persela Lamongan dan Arema sudah bertemu 35 kali di semua ajang. Arema mengalahkan Persela 18 kali, kalah sembilan kali, dan delapan laga lainnya berakhir imbang.

2. Pertemuan pertama Persela Lamongan dan Arema terjadi di sebuah laga uji coba pra-musim yang digelar di Lamongan, 23 Desember 2001. Saat itu, Arema menang 3-1 lewat dua gol Jaime Rojas dan satu gol Didit Thomas. Sementara, gol balasan Persela dibuat Abdulrachman.

3. Pertemuan terakhir Persela Lamongan dan Arema terjadi di laga pekan ke-3 Liga 1 2019 lalu, 27 Mei 2019. Arema menang 3-2 secara dramatis. Satu gol Arema dibuat Dendi Santoso ditambah dua gol Dedik Setiawan. Sementara, dua gol Persela dilesakkan Alex dos Santos dan Hambali Tolib.

Catatan Kemenangan

4. Kemenangan terbesar Arema atas Persela Lamongan terjadi di laga babak 8 besar Indonesia Super League (ISL) 2014, 25 Oktober 2014. Kala itu, Arema menang telak 4-0. Cristian Gonzales melesakkan dua gol untuk Arema. Dua gol lainnya disumbangkan oleh Samsul Arif dan Gustavo Lopez.

5. Kemenangan Arema atas Persela Lamongan dengan jumlah gol terbanyak satu laga terjadi di Piala Indonesia 2005, 15 Juni 2005. Saat itu Arema menang dengan skor 4-2. Dua gol Arema dilesakkan Marthen Tao, ditambah satu gol Emeleu Serge dan satu gol Junior Lima. Sementara dua gol balasan Persela dicetak Oscar Aravena dan Frederico Jose Preitas de Assis.

Catatan Kekalahan

6. Dari sembilan kekalahan yang diderita Arema dari Persela Lamongan, kekalahan 4-0 dua kali beruntun di Liga 1 2017 dan Liga 1 2018 paling menyakitkan.

7. Kekalahan terakhir Arema dari Persela Lamongan yang terjadi di ajang Piala Presiden 2019, 9 Maret 2019 lalu tak kalah menyesakkan. Pasalnya, kekalahan 0-1 itu terjadi di hadapan publik Stadion Kanjuruhan Malang. Washington Brandao kala itu yang menceploskan gol kemenangan untuk Persela.

Pencetak Gol

8. Hingga saat ini, Arema sudah melesakkan 50 gol ke gawang Persela Lamongan. Sosok Cristian Gonzales menjadi pencetak gol terbanyak Arema ke gawang Persela dengan enam golnya.

9. Di tim Arema yang bermain di Liga 1 2019 ini ada setidaknya tiga pemain yang pernah menjebol gawang Persela. Ada nama Dendi Santoso, Dedik Setiawan dengan tiga golnya, Hamka Hamzah yang punya lesakan dua gol, serta Sunarto yang mencetak satu gol.

Kondisi Terkini

10. Arema berada di peringkat 5 klasemen sementara Liga 1 2019 dengan 27 poin. Dari 17 laga yang dijalani, Arema mampu memenagi delapan laga, dan tiga hasil imbang. 35 gol mampu dicetak, dan kebobolan 27 gol.

11. Persela Lamongan menempati peringkat 16 klasemen sementara Liga 1 2019 dengan 16 poin. Dari 18 laga yang dijalani, Persela sanggup memenangi tiga laga, dan tujuh hasil imbang. 26 gol sanggup diceploskan dan kebobolan 31 gol.

Nah, itulah data dan fakta Persela Lamongan vs Arema FC jelang pertemuan ke-36 mereka di pekan ini. Tim manakah yang mampu bangkit dari tren negatif masing-masing?

Klasemen Liga 1 Pekan Ke-18, Arema Disalip PS Sleman

Selesai sudah pekan ke-18 Liga 1 2019, di papan atas tidak terjadi pergeseran posisi klasemen dengan Bali United, Tira, dan Madura United yang berurutan di peringkat 1-3.

Pada pekan ini posisi Arema tergeser dari peringkat kelima setelah bermain imbang 2-2 dengan Borneo FC. PSS Sleman yang memenangkan pertandingan melawan tuan rumah Semen Padang menyamai poin dari Singo Edan. PSS berhak ada di atas Arema karena unggul head to head.

Persipura langsung bergerak naik ke papan tengah setelah mengalahkan Persela Lamongan melalui dua gol yang dibuat Titus Bonai. Kekalahan ini juga membuat Persela terperosok ke zona degradasi.

Dari Lampung, PSM juga belum mampu mendapatkan kemenangan di kandang lawan. Sempat unggul melalui sundulan Amido Balde, PSM harus puas bermain imbang 1-1 setelah Johan Yoga menyamakan kedudukan.

Satu tim lain yang ada di zona degradasi adalah Barito Putera karena hanya bermain imbang 2-2 melawan Madura United.

Persija menjauhi zona degradasi (Foto: Liga Indonesia)
Persija menjauhi zona degradasi (Foto: Liga Indonesia)

Sementara, Persija Jakarta perlahan mulai naik meninggalkan zona degradasi. Pada pekan ke-18 kemarin mereka mampu menang dengan skor 2-1 melawan PSIS Semarang.

Hasil Pekan Ke-18

Bhayangkara 1-1 Bali United
Semen Padang 0-1 PS Sleman
Arema 2-2 Borneo
Kalteng Putra 1-1 Persebaya
Madura United 2-2 Barito Putera
Tira Persikabo 1-1 Persib
Persija 2-1 PSIS
Persipua 2-0 Persela
Perseru BL 1-1 PSM

Klasemen Sementara Liga 1

Klasemen Liga 1 2019

PosKlubPWDLFAGDPts
117132227111641
21897239271234
31887333171631
4178363527827
5187652523227
6167542316726
7176832723426
8186842723426
9157351915424
10184861926-720
11184772224-219
12185491421-719
13175392031-1118
14184681634-1818
15163851820-217
16183782631-516
17183782535-1016
181725101324-1111