{"version":"1.0","provider_name":"Ngalam Wearemania","provider_url":"https:\/\/www.wearemania.net\/ngalam","author_name":"Ngalam Wearemania","author_url":"https:\/\/www.wearemania.net\/ngalam\/author\/ngadmin","title":"Sejarah Makam Mbah Mbatu (BAtu)","type":"rich","width":600,"height":338,"html":"<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"X3RwLTwqTN\"><a href=\"https:\/\/www.wearemania.net\/ngalam\/berita\/sejarah-makam-mbah-mbatu-batu\/18183\">Sejarah Makam Mbah Mbatu (BAtu)<\/a><\/blockquote><iframe sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" src=\"https:\/\/www.wearemania.net\/ngalam\/berita\/sejarah-makam-mbah-mbatu-batu\/18183\/embed#?secret=X3RwLTwqTN\" width=\"600\" height=\"338\" title=\"&#8220;Sejarah Makam Mbah Mbatu (BAtu)&#8221; &#8212; Ngalam Wearemania\" data-secret=\"X3RwLTwqTN\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\" class=\"wp-embedded-content\"><\/iframe><script type=\"text\/javascript\">\n\/* <![CDATA[ *\/\n\/*! This file is auto-generated *\/\n!function(d,l){\"use strict\";l.querySelector&&d.addEventListener&&\"undefined\"!=typeof URL&&(d.wp=d.wp||{},d.wp.receiveEmbedMessage||(d.wp.receiveEmbedMessage=function(e){var t=e.data;if((t||t.secret||t.message||t.value)&&!\/[^a-zA-Z0-9]\/.test(t.secret)){for(var s,r,n,a=l.querySelectorAll('iframe[data-secret=\"'+t.secret+'\"]'),o=l.querySelectorAll('blockquote[data-secret=\"'+t.secret+'\"]'),c=new RegExp(\"^https?:$\",\"i\"),i=0;i<o.length;i++)o[i].style.display=\"none\";for(i=0;i<a.length;i++)s=a[i],e.source===s.contentWindow&&(s.removeAttribute(\"style\"),\"height\"===t.message?(1e3<(r=parseInt(t.value,10))?r=1e3:~~r<200&&(r=200),s.height=r):\"link\"===t.message&&(r=new URL(s.getAttribute(\"src\")),n=new URL(t.value),c.test(n.protocol))&&n.host===r.host&&l.activeElement===s&&(d.top.location.href=t.value))}},d.addEventListener(\"message\",d.wp.receiveEmbedMessage,!1),l.addEventListener(\"DOMContentLoaded\",function(){for(var e,t,s=l.querySelectorAll(\"iframe.wp-embedded-content\"),r=0;r<s.length;r++)(t=(e=s[r]).getAttribute(\"data-secret\"))||(t=Math.random().toString(36).substring(2,12),e.src+=\"#?secret=\"+t,e.setAttribute(\"data-secret\",t)),e.contentWindow.postMessage({message:\"ready\",secret:t},\"*\")},!1)))}(window,document);\n\/* ]]> *\/\n<\/script>\n","thumbnail_url":"https:\/\/www.wearemania.net\/ngalam\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/makam-mbh-batu.jpg","thumbnail_width":3264,"thumbnail_height":1840,"description":"Dalam pelarian tersebut, Mbah Wastu mendirikan sebuah padepokan di kaki Gunung Panderman sebagai tempat untuk mengajarkan berbagai ilmu, termasuk menyebarkan Islam kepada masyarakat, hingga meninggal pada tahun 1830.Mbah TuTak hanya panggilan pada Pangeran Ronojoyo, Mbah Mbatu juga dismatkan untuk istrinya, Dewi Condro Asmoro. Ia merupakan salah seorang keturunan Kerajaan Majapahit, tepatnya putri Prabu Suito Kerto dan Dewi Anjasmoro.Soal nama panggilan Mbatu pada Dewi Condro Asmoro, itu berawal dari panggilan Pangeran Rojoyo kepadanya, yakni Mbok Tuwo. Para santri Pangeran Rojoyo pun memanggilnya Mbok Tu untuk menyingkat nama panggilan tersebut. Lama-kelamaan panggilan Mbok Tu itu menjadi Mbah Tu, hingga akhirnya menjadi nama Mbatu. Sekali lagi, hal itu dipengaruhi oleh kebiasaan masyarakat Jawa memperpendek nama.Mbah Tu sendiri melakukan syiar agama Islam tak hanya di Batu. Bahkan, perjuangannya sampai ke ranah Lumajang, Pasuruan, dan Jember. Hingga akhir hayatnya pada tahun 1781, Mbah Tu tetap menyebarkan syiar Islam bersama sang suami. Konon, menariknya, ia meninggal saat melantunkan lafadz pujian miftakhul jannah.Kompleks Makam Mbah MbatuSelain Makam \u2018duo\u2019 Mbah Mbatu itu, dalam komplek ini terdapat pula makam dua tokoh lainnya. Mereka adalah Dewi Mutmainah, dan Kyai Naim. Dewi Mutmainah merupakan istri muda dari Pangeran Rojoyo. Ia merupakan putri Syekh Maulana Muhammad, putra Sunan Gunung Jati. Dewi Mutmainah yang juga seorang istri yang selalu mendampingi dan mendukung perjuangan syiar Islam sang suami akhirnya meninggal dunia pada tahun 1847.Sementara itu, Kyai Naim adalah salah seorang teman seperjuangan Pangeran Rojoyo yang berasal dari Mataram. Ia datang ke Batu untuk memberitahukan soal perang di Mataram. Kemudian, ia diminta Pangeran Rojoyo untuk tinggal menetap untuk membantu mengajar mengaji di pondoknya. Selang beberapa lama, saat memutuskan ingin kembali ke Mataram, Kyai Naim meninggal dunia karena terjatuh dari kuda."}