Revitalisasi Bozem atau kolam penangkal banjir di realisasikan lebih cepat jika tidak ada kendala jalan sempit. Dalam pengerjaannya memang membutuhkan alat-alat berat sehingga akses yang mudah juga menjadi hal penting untuk dapat dilakukan. Sehingga masalah ini masih menjadi kesulitan untuk dapat menyelesaikan proyek tersebut.
Dilansir dari Jawa Pos Radar Malang, kini kendala tersebut sudah mulai terurai. Hal ini dikarenakan warga sekitar dan khususnya pada pedagang Pasar Belimbing telah mendukung untuk realisasi proyek ini. Sebab akses untuk dilaluinya alat-alat berat perlu melewati area Pasar Blimbing. Menurut salah satu pedagang pasar, mereka perlu mempersiapkan agar kendaraan berat tersebut dapat melintas, karena agar tidak terganggunya nanti para pedagang dan juga masyarakan yang berbelanja.
”Sebenarnya bisa saja masuk, tapi kami juga perlu persiapan agar tidak mengganggu kegiatan pedagang dan warga yang belanja,” kata Muhamad Imron.
Imron dan juga masyarakat berharap agar pembuatan bozem penangkal banjir ini akan bermanfaat dan dapat benar-benar mengurangi masalah banjir yang selalu terjadi di area Blimbing ini saat hujan deras mengguyur. Saat hujan turun dengan intensitas tinggi, luapan air dari Jalan Borobudur kerap menggenangi Pasar Blimbing. Meski tak begitu parah, tetap saja itu mengganggu kenyamanan dia dan pedagang di sana.
”Kami pedagang dan warga lain intinya sepakat, memang perlu ada solusi penanganan banjir,” harap Imron kepada Radar Malang.
Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang Diah Ayu Kusumadewi turut memastikan bila revitalisasi bozem memang diagendakan mulai akhir pekan ini. Sebab pihaknya baru mendapat izin dari warga dan pedagang pasar untuk akses keluar masuk alat berat. Sehingga agar tidak terlalu lama lagi, pengerjaan akan segera dilakukan percepatan realisasi. Untuk langkah pertama, pihaknya bakal mengeruk kolam tersebut karena telah mengalami pendangkalan. ”Kami bakal mulai mengangkat teratai dan mengeruk sedimen lumpur sedalam empat meter” bebernya.
Diah juga menambahkan, proyek tersebut menghabiskan anggaran sebesar Rp 776 juta. Hal itu ditarget akan selesai pada bulan Oktober nanti. Jika telah selesai, maka keberadaan bozem tersebut bakal menjadi tempat cadangan air tanah. Sama seperti yang diterapkan pada sistem tata ruang era kolonial. Tak hanya itu, di tempat tersebut juga akan dibangun kolam renang anak. Itu menjadi bagian dari permintaan warga sekitar, yang ingin dibangunkan wahana ramah anak.
Sehingga dengan dibangunnya bozem ini, masyarakat juga ingin agar pemerintah juga menyediakan tempat bermain anak dan sebagai wahana di kampung tersebut yang menjadi tempat hiburan masyarakat sekitar. Kolam renang yang dibuat adalah dengan ukuran kecil, yaitu 15 x 4 meter, sesuai dengan penjelasan dari Diah.





