Pelatih Arema Putri Maksimalkan Persiapan Sebelum ke Bandung

Pelatih Arema Putri Maksimalkan Persiapan Sebelum ke Bandung
Alief Syafrizal (C) DANI KRISTIAN

Pelatih Arema Putri, Alief Syafrizal akan memaksimalkan persiapan timnya sebelum ke Bandung. Mereka akan menantang tuan rumah Persib Putri di leg pertama Babak Semifinal Liga 1 Putri 2019, Minggu (1/12/2019) sore.

Arema Putri sudah menggelar persiapan sejak Senin (25/11/2019) sore kemarin di Lapangan Denmatra, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Sebelum berangkat ke Bandung, Kamis (28/11/2019), setidaknya Alief masih punya waktu untuk menggelar sesi latihan.

Waktu yang ada akan dimanfaatkan pelatih asal Gresik itu untuk membenahi kekurangan timnya. Harapannya, kekurangan itu tak lagi terlihat saat laga melawan Persib Putri di Bandung.

“Saya pikir home-away sudah ideal, cuma jaraknya dari pertandingan terakhir di Seri Keempat kemarin ke babak semifinal terlalu mepet. Agak banyak yang harus kami benahi, karenanya kami akan maksimalkan tiga hari persiapan, sebelum Kamis berangkat,” kata Alief kepada WEAREMANIA.

Sudah Terbiasa Menjalani Laga dengan Jadwal Padat

Sebagai pelatih Arema Putri, Alief merasa kasihan dengan kondisi fisik anak asuhnya yang dikuras jadwal padat. Namun, setidaknya mereka beruntung sudah terbiasa dengan situasi tersebut di Seri Pertama hingga Seri Keempat.

Pada empat seri yang digelar di Kota Batu, Bali, Biak Numfor dan Kota Malang, jadwal padat selalu menghantui semua tim peserta di Grup B. Recovery dinilai kurang, mengingat mereka bermain dalam dua hari, lalu istrirahat sehari, kemudian bermain lagi dua hari, sebelum istirahat sehari dan bermain sehari lagi.

“Mungkin, anak-anak sudah beradaptasi dengan situasi pertandingan dengan jadwal yang ketat. Tapi, ke depannya saya harap kompetisi ini kalau benar-benar untuk pembinaan harus ada penjadwalan yang teratur,” imbuhnya.

Takut Laga Semifinal dan Final Tak Menarik

Ada kekhawatiran juga dibenah Alief jika ke depannya jadwal padat tetap diberlakukan. Menurutnya, bisa-bisa laga di babak Semifinal dan Final tak menarik lagi.

“Kasihan pemain, tenaganya capek dan terkuras di empat seri. Takutnya, pada babak semifinal dan final menjadi puncak habisnya fisik mereka. Akibarnya, pertandingan menjadi tak menarik lagi karena pemain kecapekan semuanya, ini yang saya khawatirkan,” tandas pelatih 24 tahun ini.