Aremanita Blitar yang Biasa Dipanggil Bu Guru Arema

Aremanita Blitar yang Biasa Dipanggil Bu Guru Arema

Varesca Ektiarnanti sukses memberi sentuhan warna biru pada anak didiknya di salah satu SMK swasta di Desa Gandekan, Kecamatan Wonodadi, Kabupaten Blitar. Bahkan, Aremanita Blitar ini kemudian mendapatkan julukan Bu Guru Arema atas perubahan kecil tersebut.

Setiap akan memulai pelajaran, siswa-siswi yang diajarnya selalu memintanya untuk menyanyikan chant-chant Arema lebih dahulu. Kalau Varesca tidak mengiyakan, mereka bahkan ‘mengancam’ tidak mau memulai pelajaran.

Awalnya, mereka tahu jati diri Varesca sebagai Aremanita ketika pertama memperkenalkan diri di depan kelas. Kebetulan, gadis yang asli lahir di Blitar ini keceplosan bercerita kalau dirinya seorang Aremanita.

“Lantas murid saya sorak-sorak, saya Arema juga Bu, saya juga suka Arema Akhirnya sejak saat itu saya jadi terkenal dengan sebutan Bu Guru Arema di sekolah urid-murid memanggil saya Bu Guru Arema,” kata Varesca kepada WEAREMANIA.

Menyelipkan Pesan Moril Sebagai Suporter

Seiring berjalannya waktu, Varesca selalu menyelipkan pesan-pesan moril sebagai Aremanita kepada murid-muridnya di sela-sela pelajaran. Dara kelahiran 2 Maret 1995 itu sering bercerita tentang Arema, da pengalaman pribadinya neribun kepada anak didiknya yang 80 persen adalah fans Arema.

Varesca juga sering mengajari mereka tentang bagaimana mendukung klub sepak bola dengan baik dan benar. Termasuk bagaimana menerima sebuah kekalahan dalam pertandingan yang disebutnya sebagai sesuatu yang biasa saja.

“Aremania harus bisa menjadi suporter yang cerdas, dan mengambil manfaat yang positif dari kecintaan terhadap Arema,” imbuh wanita lulusan Jurusan Perbankan Syariah, IAIN Tulunggung pada Mei 2018 lalu itu.

Solusi untuk Murid-muridnya

Sebelum Varesca mengajar di sekolah tersebut, konon murid-muridnya kerap membolos hanya demi menonton Arema langsung ke Stadion Kanjuruhan Malang. Gadis 24 tahun itu kemudian memberikan solusi.

Menurutnya, sebagai pelajar, sebaiknya dukung Arema di waktu akhir pekan saja. Dengan demikian, mereka tidak perlu meninggalkan pelajaran di sekolah, karena mencintai Arema bisa dilakukan di dalam lapangan maupun di luar lapangan.

“Ada pula sebagian murid saya yang takut kalau menonton Arema di stadion tidak bisa menunaikan sholat Saya juga memberitahu mereka bahwa di stadion itu banyak mushola di pintu-pintu gate Saya pun selalu mencontohkan tiap ke stadion membawa mukena, sehingga masih bisa melaksanakan sholat di mushola stadion,” wanita yang akrab disapa Riska itu menambahkan.

Tak Ada Komentar Negatif

Sejauh ini menurutnya tak ada komentar negatif dari pihak yayasan pengelola sekolah, teman-temannya sesama guru, maupun murid-murid lain. Varesca menegaskan, niatnya memberikan warna lain di sekolah tersebut murni hanya sebagai upaya menjaga jati dirinya sebagai Aremanita meskipun kini berprofesi sebagai guru.

“Kebetulan saya ini kan mengajar di sekolah terpadu, ada MTs dan SMK, murid-murid MTs juga banyak yang suka Arema, mereka pun memanggil saya Bu Guru Arema, padahal saya tidak mengajar mereka,” tuturnya.

Menjadi Aremanita Sejak 2002

Menjadi Aremanita memang bukan hal baru bagi Varesca, karena sudah sejak tahun 2002 lalu ia mencintai Arema. Varesca mengenal Arema lewat televisi saat masih bersekolah kelas 2 Sekolah Dasar (SD).

“Bahkan, ketika besoknya mau ujian, kalau saya tahu nanti Arema bertanding, saya belajarnya belakangan, saya berpikir akan bisa belajar karena Arema, kalau belajar dulu saya tidak bisa konsentrasi, itu terbawa sampai sekarang ketika sudah berprofesi sebagai seorang guru,” tegasnya.

Tidak punya darah keturunan Malang, sebenarnya Varesca juga bingung kenapa ia bisa jatuh cinta pada Arema. Namun, menurut pengakuannya, ia mencintai karena loyalitas Aremanianya, sehingga menjadikan Arema sebagai jatidiri hingga sekarang.

Pembuktian Cinta pada Arema

Sebagai pembuktian rasa cintanya pada Arema, tur dari Blitar ke Malang untuk sekadar mendukung Arema dilakoninya bersama teman atau saudara. Awalnya, orang tuanya sempat tidak memberinya izin, karena menurut mereka aneh sebagai anak cewek suka sepakbola dan datang ke stadion, lalu pulang malam.

“Kalau tidak diizinkan oleh orang tua saya tidak berani. Soalnya saya pernah mengalami kecelakaan di jalan saat berangkat mendukung Arema Tapi setelah kecelakaan itu saya tetap berangkat ke stadion tanpa memikirkan badan sakit atau apa, sakitnya baru terasa keesokan harinya,” kata Varesca

Kecelakaan itu dialami Varesca ketika Arema menjalani laga tandang ke Stadion Gajayana Malang melawan Persija Jakarta di ISC 2016. Baginya, fisik yang sakit tidak masalah, asal bisa senang-senang menonton Arema.

Akhirnya Diizinkan Orang Tua

Penjelasan demi penjelasan diberikannya kepada kedua orang tuanya terkait keputusannya menjadi seorang Aremanita. Bukan memberontak, tapi menunjukkan bahwa apa yang dilakoninya itu bukanlah sesuatu yang salah. Lambat laun, mereka pun mengerti dan paham seperti apa keinginan anak perempuannya itu.

“Karenanya, saya selalu berpesan untuk murid-murid, agar menjadi suporter yang cerdas, yang punya jati diri, mendukung tim sepenuhnya. Tapi tidak lupa kewajiban, dan yang paling utama bisa menjadikan hobi dan kecintaan sebagai motivasi untuk menjalani langkah ke arah yang lebih baik,” tandas pengidola Hanif Sjahbandi tersebut.