Berdasarkan data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang, Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kota pelajar ini mencapai 3.468 orang. Kebanyakan dari mereka putus sekolah karena alasan memilih menikah muda.
Jumlah ATS itu diklaim menurun drastis dari angka tahun sebelumnya yang mencapai 5.534 anak. Penurunan jumlah yang signifikan ini tak lepas dari perhatian dari Pemerintah Kota (Pemkot) Malang di mana penanganan ATS menjadi prioritas.
Kepala Disdikbud Kota Malang, Suwarjana, mengatakan, persoalan ATS cukup kompleks. Masalah inipun tak bisa dilepaskan dari pengaruh faktor sosial.
Data itu sekaligus menegaskan jika faktor penyebab utama Anak Tidak Sekolah bukanlah kemiskinan. Sebab, faktor terbayak kedua yang bikin anak putus sekolah adalah memilijh bekerja.
“Banyak anak putus sekolah karena sudah menikah atau bekerja. Dengan penghasilan yang mereka dapatkan, mereka merasa tidak perlu melanjutkan pendidikan. Rata-rata, mereka berhenti setelah lulus SMP dan tidak melanjutkan ke SMA,” kata Suwarjana, seperti dikutip SUARA.
Tantangan Menekan Angka Anak Tidak Sekolah di Kota Malang
Suwarjana menambahkan, pihaknya punya beberapa tantangan dalam menekan angka Anak Tidak Sekolah ini. Salah satunya datang dari pihak keluarga si anak itu sendiri.
“Beberapa anak perempuan yang menikah tidak diizinkan suaminya untuk melanjutkan pendidikan di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Ini salah satu tantangan yang harus dihadapi,” imbuhnya.
Selain itu, adanya data ATS yang kurang sinkron dengan kondisi lapangan juga menjadi kendala tersendiri. Beberapa anak yang sudah tidak berada di wilayah Kota Malang ternyata masih tercatat sebagai ATS di pusat data.
Sebagai jalan keluar, Disdikbud Kota Malang bekerja sama dengan instansi terkait, seperti Kementerian Agama (Kemenag) dan Cabang Dinas Pendidikan, untuk menjangkau anak-anak yang bersekolah di madrasah atau SMA.
“Kami juga mengerahkan tim untuk turun langsung ke kelurahan, mengidentifikasi dan mendata ATS yang belum terjangkau,” jelasnya.
Disdikbud Kota Malang Tetap Optimistis
Sejumlah tantangan di depat mata itu tak membuat Disdikbud Kota Malang kehilangan raa optimistis dalam terus menekan angka Anak Tidak Sekolah di wilayahnya. Pihaknya meyakini, angka itu akan terus menurun mencapai nol.
“Kami siap jemput bola, turun langsung ke masyarakat, dan memastikan anak-anak mendapatkan hak pendidikan mereka,” tandasnya.

