Siapa yang tak kenal putu. Jajanan tradisional dengan rasa dominan manis ini terbuat dari bahan dasar tepung beras yang lengkap dengan parutan kelapa dan isi gula merah. Tak heran, kudapan yang enak selagi hangat ini ngangenin bagi siapa saja yang pernah mencobanya.
Penjual kue tradisional ini sangat khas dengan gaya ‘gerobak’-nya, dan suara kecil nan melengking dari kompornya. Dari suara khas ini, semua orang pasti tahu jika itu penjual putu sedang lewat.

Berbentuk Cangkir
Jika membahas dari bentuknya, ada beragam varian yang ada se-Indonesia. Tak hanya berbentuk pipa, yang satu ini berbentuk cangkir, dan bernama Putu Cangkir. Makanan yang berasal dari suku Bugis, Sulawesi Selatan tak berwarna putih atau hijau, namun berwarna coklat. Bukan karna pewarna makanan, warna coklat merupaan hasil dari bahan dasar yang berbeda. Bukan menggunakan tepung beras putih, namun menggunakan beras ketan hitam tanpa gula. Penyajiannya biasa dengan taburan parutan kelapa dan sambal.

Masih dengan bentuk yang hampir sama namun berbeda warna, makanan berwarna putih dan berbentuk cangkir ini terkenal di Ambon dengan nama ‘Putu Ambon’.

Berbentuk Piring dan Mangkok
Jika sebelumnya berbentuk pipa maupun cangkir, putu satu ini malah berbentuk piring. Selain berbeda bentuknya, kuliner satu ini juga berbeda ukurannya. Dari jajanan biasanya, makanan dari Sumatera Utara ini berukuran relatif lebih besar. Dari daerah asalnya, makanan ini terkenal dengan nama Putu Tarutung.

Apabila ada yang berbentuk seperti piring, lalu ada juga yang berbentuk seperti mangkuk teman teman!

Seperti Bihun
Dengan bahan yang sama tapi menghasilkan bentuk yang berbeda-beda, rupanya makanan ini memang begitu banyak variasi. Ternyata ada juga yang bentuknya seperti mie atau bihun yang juga populer sebagai Putu Mayang.

Lalu, apa bedanya dengan Petulo?
Memang benar hampir mirip, namun Petulo yang khas Malang ini berbentuk bulat, bukan bebeas seperti bihun. Petulo ini lebih sering bersanding dengan santan lengkap dengan kucur atau serabi. Sedangkan Putu Mayang cara mengonsumsinya tanpa kuah alias kering.
Makanan tradisional tak ada habisnya ya! Ingat soal gulali? Baca juga: Throwback! 4 Gulali Populer Tempo Dulu

