Jayus Hariono Ajak Aremania Hargai Perjuangan Tenaga Kesehatan

Jayus Hariono Ajak Aremania Hargai Perjuangan Tenaga Kesehatan
Jayus Hariono (C) DANI KRISTIAN

Jayus Hariono ajak Aremania hargai perjuangan tenaga kesehatan (nakes) di garga terdepat penanganan pasien covid-19 (virus corona). Sebagai salah satu bentuk kepedulian, gelandang Arema itu turut serta menyumbangkan Alat Pelindung Diri (APD) kepada RSUD Kanjuruhan Kepanjen bersama Dokjreng FC, Rabu (20/5/2020).

Sebelumnya, komunitas pesepak bola Malang Raya itu menggelar lelang jersey di akun Instagram mereka, @dokjrengfc. Jayus pun menyumbangkan salah satu jersey miliknya untuk dilelang, dan laku Rp1,1 juta, yang digabung dengan hasil lelang jersey lainnya untuk disumbangkan.

Selain berupa APD untuk tenaga kesehatan, Dokjreng FC menyerahkan paket bantuan berupa empat kardus susu dan dua kardus snack. Bantuan itu diserahkan Jayus bersama Yanuar Tri Firmanda dan Edy Gunawan, dan diterima langsung oleh Wakil Direktur Bidang Administrasi dan Keuangan, dr Benediktus Setyo Untoro.

“Kita semua harus bisa menghargai perjuangan tenaga kesehatan. Mereka sudah banyak berkorban dalam perjuangan menghadapi virus corona ini. Masyarakat harus bisa sama-sama menjaga kesehatan. Kalau tidak ada keperluan mendesak, sebaiknya tidak usah keluar rumah,” kata Jayus.

Alasan Jayus Hariono Ajak Aremania

Jayus Hariono mengajak Aremania menghargai tenaga kesehatan bukannya tanpa alasan. Pemain 22 tahun itu sudah merasakan sendiri bagaimana ‘menjadi’ nakes yang mengenakan APD.

Saat menyerahkan bantuan Dokjreng FC kepada pihak RSUD Kanjuruhan, Jayus mencoba mengenakan APD berupa hazmat suit. Baru satu-dua menit memakainya, pemilik jersey bernomor punggung 14 itu mengaku sudah gerah dan sesak.

“Dengan mengenakan langsung APD ini, saya bisa membayangkan beratnya perjuangan tenaga kesehatan yang harus mengenakan hazmat suit selama tujuh sampai delapan jam nonstop. Saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Selain gerah, mengenakan APD ini sulit mau beraktivitas sulit, mau makan susah, minum susah, buang air susah. Apalagi, mereka harus fokus merawat pasien, di sisi lain kepikiran keluarga,” tegasnya.