Ancaman Mundur Robert Alberts dan 5 Pemain Asing Arema 10 Tahun Silam

Ancaman Mundur Robert Alberts dan 5 Pemain Asing Arema 10 Tahun Silam
Robert Alberts (C) DANI KRISTIAN

Ancaman mundur pelatih Robert Alberts dan lima pemain asing Arema mewarnai kisah juara Indonesia Super League (ISL) 2009-2010. Momen ini terjadi saat kompetisi memasuki jeda paruh musim.

Sejumlah media nasional melaporkan jika masa depan Arema, tim pelatih, dan pemain Arema terkatung-katung usai putaran pertama berakhir. Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah masalah klasik tim-tim di Indonesia, yakni bayaran yang tertunggak.

Robert mewakili timnya mengaku kecewa dengan manajemen Arema dan mengancam mengundurkan diri dan tak mau melanjutkan sisa laga di putaran kedua. Begitu pula dengan kelima pemain asing Arema, yakni Pierre Njanka, Noh Alam Shah, Muhammad Ridhuan, Roman Chmelo, dan Landry Poulangoye.

Hal itu diungkapkan Robert kepada awak media usai Arema mengalahkan Sriwijaya FC 3-0, Rabu (23/12/2009) di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang. Mereka mengancam tak akan melanjutkan sisa laga ISL 2009-2010 di putaran kedua usai libur paruh musim.

“Ini laga terakhir saya. Saya tidak akan kembali jika manajemen tidak memberikan hak kami sesuai kontrak mereka yang telah dijanjikan,” kata Robert, seperti dilansir Kompas.

Ancaman Mundur Robert Alberts Diikuti Pemain Asing

Robert Alberts tak sendirian, karena kelima pemain asing Arema ikut menebar ancaman mogok. Kapten tim, Pierre Njanka pun turut buka suara.

“Kami ini tidak butuh banyak. Kami hanya butuh respect dari manajemen. Kami ingin janji yang sudah diberikan ditepati,” ujar Njanka.

Alam Shah pun hanya ingin kontrak yang menjadi komitmen pihak manajemen dan pemain dipenuhi. Pemain yang akrab disapa Along itu mengancam tak mau melanjutkan sebelum hak-hak mereka diselesaikan oleh manajemen PT Arema Indonesia.

“Mungkin usai libur panjang nanti saya bersama Ridhuan tetap akan kembali ke Malang. Namun, kami tidak akan mau bermain saat melawan Persema nantinya selama kontrak kami tidak ditaati,” tegas Along.

Manajemen Arema Angkat Suara

Presiden Direktur PT Arema Indonesia, Gunadi Handoko menyayangkan bocornya masalah internal klub ini ke publik. Yang dikhawatirkannya masalah ini akan mengganggu konsentrasi tim untuk memertahankan posisi puncak klasemen yang diduduki hingga paruh musim dengan 27 poin hasil dari delapan kali menang, tiga kali imbang dan dua kali kalah.

Gunadi mengklaim pembagian gaji dan bonus sudah lunas, bahkan gaji untuk Robert bulan Januari sudah dibayar separuh pada Desember lantaran pelatih asal Belanda itu memintanya untuk pulang saat libur Natal.

“Yang kurang hanyalah penyelesaian down payment sebesar 25 persen dari kontrak awal. Mengenai mobil untuk pemain, selama ini memang hanya Alam Shah yang mendapat mobil pribadi, sedangkan pemain asing lainnya memakai kendaraan secara kolektif,” ungkap Gunadi.

Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena memang sejak awal PT Arema Indonesia menerima pengelolaan Arema dari PT Bentoel dalam keadaan kas kosong. Sponsor senilai Rp7,5 miliar dari Bentoel pun cairnya bertahap.

“Selama ini kami menggunakan uang ticketing untuk berbagai keperluan pemain termasuk pihak ketiga. Seharusnya ini disadari bersama. Bisa jadi, persoalan ini mencuat karena ulah pihak ketiga yang mengadu domba tim dengan manajemen. Ada pihak-pihak yang tidak ingin Arema berhasil, sehingga mengadu domba tim dan manajemen. Ini yang saya pikirkan saat ini,” tandasnya.