Jika Surabaya pernah punya Dolly, maka Kecamatan Gondanglegi punya Lokalisasi Girun, tempat yang menjadi salah satu sisi kelam Malang selatan. Meski sudah resmi tutup sejak 24 November 2014, nama Girun telah melegenda dalam masyarakat umum.
Sejarah lokalisasi yang konon tebesar se-Asia Tenggara, Gang Dolly Surabaya rupanya lekat dengan seorang tokoh. Ia adalah Dolly Advonco Chavid atau lebih populer dengan panggilan Tante Dolly. Nama ini kemudian diabadikan menjadi nama lokalisasi Surabaya yang sudah resmi ditutup pada 18 Juni 2014.
Ternyata, kisah serupa menghiasi sejarah adanya Lokaliasi Girun Malang. Kisah ini bermula saat tokoh pendiri bisnis esek-esek yang kemudian namanya melegenda menjadi nama sebuah gang yang tenar akan prostitusinya. Namanya Girun, pendiri lokalisasi ternama pada Desa Gondanglegi Wetan, Kecamatan Gondanglegi.
Awal Mula Lokalisasi Girun
Melansir dari Malang-Merdeka.com, tokoh masyarakat Lokalisasi Girun, Sukartadji Nugroho, menceritakan sejarah berdirinya tempat prostitusi tersebut. Sejatinya, pendiri awalnya bukanlah Girun. Awalnya, sekitar tahun 1980 seseorang bernama Buaman menampung tuna wisma di rumahnya. Kemudian, ia membuat petak-petak rumah sebagai tempat tinggal mereka. Lokasinya masih berada pada tanah kosong, selatan Pasar Gondanglegi. Karena dirasa mengganggu kenyamanan, Buaman dan anak buahnya diusir warga setempat. Mereka pun memutuskan pindah ke sebelah selatan kuburan.
Bisnis prostitusi itu tak bertahan lama, karena dengan alasan pembongkaran, kemudian mereka pindah ke tanah milik PT KAI sekitar tahun 1983. Dari sini lah momen peralihan kepemilikan dari Buaman ke Girun si pemilik tanah. Sejak saat itu, lokalisasi ini berubah nama menjai Lokalisasi Girun.
Pada saat awal beroperasinya lokalisasi ini, Girun punya delapan rumah dengan dua wanita tiap rumahnya. Meski akhirnya bisnis ini berkembang dan menjadi milik beberapa orang, nama Girun tidak berubah dan tetap melegenda.
Bersama tutupnya Lokalisasi Girun, ada enam lokalisasi Malang lain yang juga tutup. Keenam lokaliasi ini adalah Suko (Kecamatan Sumberpucung), Slorok (Kromengan), Kebobang (Wonosari), Kalikudu (Pujon), Embong Miring (Ngantang) dan Pulau Bidadari (Sumbermanjing Wetan). Dari data yang dikumpulkan, ada 89 orang PSK (Pekerja Seks Komersial) yang dibebastugaskan. Namun, bisa jadi ada lebih banyak lagi jumlah yang belum terdata, lantaran mereka memang kerap berpindah-pindah dari satu lokalisasi ke lokalisasi lain.
Salah satu lokalisasi Malang bernama Kebobang (Wonosari). Sudah tahu sejarah daerah Malang bernama Kebobang? Baca: Hewan Keramat dalam Sejarah Desa Kebobang Malang

