Kota Malang dengan segala bentuk pembangunan yang telah dilakukan juga merupakan bentuk untuk meningkatkan Kota Malang yang lebih baik dan meningkatkan daya tarik wisatawan dari luar daerah. Setelah selesainya pembangunan atau peningkatan daerah Kajoetangan, Kota Malang akhirnya telah memulai titik kebangkitan ekonomi dan sector pariwisata. Hal ini ditandai dengan multi event bertajuk Malang 108 Rise and Shine Kajoetangan Heritage yang digelar Pemkot Malang di sepanjang Jalan Jenderal Basuki Rachmat kemarin sore (5/6). Kawasan Kajoetangan telah dipenuhi oleh ribuan warga untuk menikmati sajian kreatif seni dan budaya yang dirayakan disini.
Perayaan kebangkitan ini dengan antusias masyarakat yang tinggi, juga banyaknya wisatawan yang ikut serta hadir disini membuat Kota Malang semakin dikenal dengan pariwisata dan perekonomiannya.
Dilansir drai Jawa Pos Radar Malang, wali Kota Malang, Sutiaji yang ikut hadir dalam event tersebut menjelaskan makna tema Rise and Shine. ”Bangkit dan bersinar. Kita kan sudah dua tahun tidak ada kegiatan. Event ini diharapkan menjadi titik awal kebangkitan ekonomi dan sektor pariwisata” ucap Sutiaji.
Sehingga harapannya setelah ini Kota Malang akan bangkit segala sektornya, terutama pariwisata dan perekonomiannya. Sutiaji juga menambahkan bahwa acara tersebut diinisiasi Malang Musik Bersatu Indonesia (MMBI) dan kolaborasi dari berbagai komunitas untuk unjuk kebolehan. Ketua umum MMBI Bagus Prakoso pun mengatakan bahwa acara One Zero Eight (108) merupakan momentum spesial yang dipersembahkan untuk warga malang dan juga para wisatawan yang ikut hadir meramaikan event tersebut.
Tidak hanya pariwisata, dengan kebangkitan perekonomian ini maka tak ketinggalan juga beberapa UMKM Kota Malang ikut serta dalam event tersebut. Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Ida Ayu Made Wahyuni mengungkapkan bahwa 40 UMKM lokal kota Malang turut serta meramaikan acara kemarin. Dia juga bersyukur ribuan warga kota Malang turut hadir untuk menikmati kemeriahan tersebut. ”Acara ini sudah di-publish jauh-jauh hari, jadi banyak yang datang. Lebih kurang ada 7 ribu hingga 8 ribu pengunjung,” katanya.
Setelah vakumnya perekonomian di Kota Malang selama sekitar 2 tahun akibat pandemic Covid-19, kini seluruh masyarakat kembali dapat menikmati event kota yang sangat dirindukan dan telah lama ditiadakan. Warga asal Oro-Oro Dowo, Nur Alfiani mengungkapkan rasa gembiranya karena event besar ini kembali dibuka dan seluruh masyarakat dapat datang untuk memeriahkan secara langsung. ”Senang sekali akhirnya ada acara seperti ini di ruang terbuka. Ada banyak jajanan dan berbagai penampilan. Kita sebagai masyarakat memang sudah haus hiburan,” ujar perempuan 29 tahun itu.
Event besar ini memang dipersiapkan dengan berbagai hiburan dan kesenian, selain itu, para pedagang juga ikut meramaikan di wilayah Kajoetangan yang dipenuhi oleh masyarakat tersebut. Hiburan yang ada tersebut mulai dari Malang Drummer Community, Guitarisick, Kumpulan Bassist Malang, Kibordis Malang, Voice of Malang (flashmob), Transisi Indonesia Raya, hingga Malang Youth Orchestra. Ada juga penampilan warga, pameran lukisan, bazar UMKM, voice over, lighting show, modern dance, fashion on the street, video mapping, hingga penampilan bebas komunitas Kota Malang.





