Dalam tradisi Islam di Pulau Jawa, kue apem ternyata tak cuma hadir di acara selamatan orang meninggal saja. Jalanan tradisional ini juga biasa digunakan untuk selamatan dalam rangka menyambut bulan Ramadhan alias Megengan.
Apem adalah makanan yang terbuat dari tepung beras. Apem mempunyai rasa manis dan sedikit masam karena ada raginya. Bahan dasar itu dicetak menggunakan cetakan khusus terbuat dari logam berbentuk setengah bulat (seperti mangkok). Untuk membuatnya, adonan yang dituangkan di cetakan itu dipanaskan menggunakan api di bagian bawahnya hingga kue matang.
Dewasa ini, bentuk apem pun sudah semakin beragam, begitu pula rasanya. Selain setengah bulat, sekarang ini banyak juga apem berbentuk bintang, gepeng, dan sebagainya. Sementara untuk rasanya, sekarang ini bukan cuma rasa dengan aroma daun pandan, disertai irisan nangka yang ada di atasnya. Terdapat pula apem dengan aneka rasa buah-buahan, di mana di dalam adonan dicampurkan aneka perasa makanan.
Apa Filosofi Kue Apem?
Siapa sangka makanan yang fenomenal ini mempuyai filosofi yang istimewa. Filosofi itu berasal dari perpaduan pemahaman umat Muslim dan etnis Jawa pada masa lampau.
Konon, nama apem diambil dari bahasa arab yaitu ‘afuan’ atau ‘afuwun’ yang berarti maaf atau ampunan. Karenanya, pemberian kue ini kepada tetangga saat megengan dimaksudkan untuk meminta maaf terhadap kesalahan yang pernah diperbuat. Masyarakat Jawa pun menyederhanakan kata Afuan menjadi Apem karena mudah diucapkan lidah.
Sementara, filosofi beras dan santan sebagai bahan dasar kue yang berwarna putih kecoklatan ini bermakna kesucian. Konon, teori cocoklogi ala Jawa mengatakan jika santan yang diucap santen dalam Bahasa Jawa berati sagetho nyuwun pengapunten (bisa untuk meminta maaf).
Subscribe channel Youtube kami, ikuti kami di Instagram dan gabunglah bersama kami di Facebook untuk menjadi bagian dari komunitas Arema dan Aremania.




