Jenang ketan merupakan makanan khas yang banyak ditemui pada masyarakat yang di pulau Jawa. Makanan ini banyak ditemui pada saat masyarakat sedang mengadakan hajatan atau selamatan tertentu, seperti pesta pernikahan, sunatan atau selamatan 1000 hari orang meninggal dalam tradisi masyarakat Jawa.
Segala macam acara tersebut tidak pernah lepas dari kehadiran jenang dan makanan ini diyakini muncul dari kreativitas masyarakat setempat.
Filosofi Jenang Ketan dalam acara nikahan
Berdasarkan nasihat para sesepuh dan orang yang paham dengan pernikahan adat Jawa Filosofi jenang ketan diambil dari sifat beras ketan yang lengket. Sifat tersebut diharapkan bisa menjadi pelajaran bagi setiap pengantin agar keduanya juga senantiasa lengket atau memiliki hubungan erat dan susah dipisahkan.
Artinya, suami istri yang baru saja mengikat perjanjian agung diharapkan berkaca kepada beras ketan. Lengket dan saling melengketkan diri serta sulit untuk dipisahkan. Begitulah kiranya mereka merajut rumah tangga. Langgeng abadi sampai mati. Karena satu sama lain saling rekat dan merekatkan diri. Tidak mudah putus atau bercerai ketika badai menghempas bahtera rumah tangga.
Proses pembuatan tidak mudah
Proses pengolahan jenang ketan membutuhkan waktu yang cukup lama, dibutuhkan waktu kurang lebih 3-4 jam untuk membuat jenang ketan dengan kualitas maksimal.
Selain waktu panjang juga dibutuhkan energi fisik yang baik, karena harus mengaduk jenang yang lama serta berat karena lengket di atas perapian sedang.
Tingkat kematangan maksimal ditandai dengan jenang ketan yang menggumpal dan tidak lengket. Hal itu akan mempengaruhi tingkat keawetan jenang sehingga bisa bertahan dalam beberapa hari atau mungkin lebih dari satu minggu tanpa menggunakan pengawet makanan.
Baca juga: Kuliner Legendaris di Kota Malang yang Wajib Banget Kalian Coba
Subscribe channel Youtube kami, ikuti kami di Instagram dan gabunglah bersama kami di Facebook untuk menjadi bagian dari komunitas Arema dan Aremania.





