Menarik untuk menyimak cerita Devania Filda Rahmawati yang gantung sarung tangan usai kalah telak. Kini, pemain asli Malang itu bangkit bersama Arema Putri U-18 di Hydro Plus Soccer League 2025-2026.
Vania, begitu panggilan akrabnya, diplot menjadi seorang penjaga gawang oleh ayahnya, Yanuar Tri Firmanda, yang memang pensiunan kiper. Di usianya yang masih 12 tahun, Vania berlatih keras di Goalkeeper School Indonesia (GSI), Sekolah Sepak Bola (SSB) khusus kiper yang diprakarsai sang ayah.
Pemain berusia 16 tahun itu mengaku awalnya tertarik ingin menjadi kiper setelah sempat melihat latihan GSI. Vania mencoba gabung latihan, lalu lanjut ke SSB Nenjap One di Kepanjen, Kabupaten Malang sebagai kiper.
“Waktu berlanjut ada turnamen Boonpring Cup, saya masih umur 12 tahun. SSB saya satu grup dengan Arema Putri (senior). Mungkin mental saya di situ belum terbentuk ya. Saya main sebagai starter waktu lawan Arema Putri, di situ saya grogi dan kemasukan banyak (empat gol). Setelah itu saya gak mau jadi kiper lagi. Lalu, saya ganti posisi jadi striker,” kata Vania kepada WEAREMANIA.

Keputusan Devania Filda Gantung Sarung Tangan Jadi Cara Terbaik untuk Bangkit
Vania menegaskan, keputusamnya beralih posisi dari kiper menjadi striker tak pernah disesalinya. Pemain kelahiran Malang, 3 Juni 2009 itu yakin keputusan itu cara terbaik untuk bangkit dari keterpurukan.
Mengingat keputusan itu, Vania terkenang masa-masa berlatih sebagai kiper di Lapangak Pakisaii dan Stadion Gajayana. Menurutnya, berlatih menjadi kiper atau striker sama-sama tidaklah mudah.
Meski cuma setahun, sejak 2020 sampai 2021, Vania merasakan bagaimana sulitnya menempa mental. Baginya, bermain sepak bola di posisi manapun, mental yang kuat adslah yang utama.
Disadarinya, menjadi kiper, blunder sekali langsung disalah-salahkan oleh suporter. Makanya, bagi Vania, ‘musuh’ terbesarnya adalah suporter yang alih-alih memberikan dukungan malah membuli pemain yang tampil di lapangan.
Dulu waktu Vania kebobolan empat gol di turnamen Boonpring Cup, di belakang gawang itu benar-benar banyak suara suporter. Ada yang bilang, ‘Kipernya gak bisa jatuh’, ‘Kipernya takut bola’, ‘Kipernya lawak’, ‘Kipernya diganti saja’, dan ‘Kipernya latihan dulu saja’.
Beberapa waktu berlalu, Vania berkesempatan gabung Akademi Arema di bulan September 2024. Vania dipanggil untuk ajang BLiSPI Youth Cup 2024 sebagai seorang penyerang.
“Saya percaya dari jaga gawang ke mengejar gol, itu cara saya bangkit. Itu keputusan buat berkembang, bukan nyerah. Saya cuma pindah cara berjuang. Ternyata saya gak salah melangkah. Alhamdulillah sudah sejauh ini saya berjuang dan berkembang, meski masih harus bekerja keras latihan agar jadi pemain yang terbaik,” jelasnya.

Didukung Sang Ayah
Vania merasa beruntung karena keputusannya ganti posisi didukung sang ayah. Menurut siswi SMA Negeri 1 Sumberpucung itu, kedua orang tuanya selalu mendukung karier sepak bolanya, meski tidak lagi mewarisi posisi sang ayah sebagai penjaga gawang.
“Ayah gak perna memaksa buat saya jadi kiper. Saya bilang kalau jadi kiper itu sulit, lalu saya bilang jadi pemain (di posisi lain) saja,” terang pemilik jersey bernomor punggung 24 ini.
Awalnya, Yanuar sempat kaget saat mendengar keputusan Vania itu. Namun, setelah mendengar penjelasan putrinya itu, mantan kiper Deltras Sidoarjo dan Persiba Balikpapan itu bisa menerima dengan legawa.
“Ayah saya sempat gak percaya kalau saya bisa jadi pemain (selain kiper), karena katanya jadi pemain itu banyak saingannya dan gak gampang,” papar pencetak satu gol di Hydro Plus Soccer League 2025-2026 ini.
“Alhamdulillah, pastinya Ayah saya selalu bangga dan support dengan hasil usaha saya di sepak bola, jadi apapun itu posisinya,” tandasnya.
