Pelatih Arema Putri Nanang Habibi mengaku bangga melihat salah satu anak asuhnya, Ratri Cahyawati Titania, mulai merintis karier sebagai pelatih Sekolah Sepak Bola (SSB). Menurutnya, langkah tersebut menjadi aktivitas positif di tengah minimnya kompetisi sepak bola putri, sekaligus bisa menjadi bekal untuk masa depan.
Tito, sapaan akrab Ratri Cahyawati Titania, mulai dipercaya melatih tim putri U-10 dan U-12 Brugge Soccer Academy sejak April 2026, sepulang dari menjalani karier di Liga Wanita Timor Leste. Di usia 27 tahun, ia sudah memimpin timnya tampil di ajang MilkLife antar-SD se-Malang Raya dan Soccer for Equality. Bahkan, videonya saat memberikan instruksi kepada pemain sempat viral di media sosial.
Habibi mengetahui bahwa selain berstatus sebagai pesepak bola profesional, Tito juga berprofesi sebagai guru olahraga. Karena itu, ia menyambut baik keputusan anak asuhnya memanfaatkan waktu luang untuk mengembangkan kemampuan di dunia kepelatihan.
“Tentunya sangat senang dan bangga Tito bisa meluangkan waktu untuk jadi pelatih. Siapa tahu juga bisa jadi passion dia, walaupun sejujurnya anak-anak masih sangat ingin bermain bola. Intinya saya sangat senang dan bangga melihat dia masih beraktivitas mengembangkan profesi barunya,” kata Pepe kepada WEAREMANIA.
Pelatih Arema Putri Nilai Pengalaman Melatih Jadi Bekal Berharga
Pelatih yang akrab disapa Pepe itu mengungkapkan, beberapa pemain Arema Putri yang mulai menekuni dunia kepelatihan kerap berdiskusi dengannya. Menurutnya, pengalaman sebagai pemain dan pelatih akan saling melengkapi dalam membentuk pemahaman sepak bola.
“Anak-anak yang mulai merintis karier kepelatihan sering sharing juga sama saya. Tapi mereka sebenarnya bisa menerjemahkan ketika berada di posisi jadi pemain, ketika sama saya. Jadi yang didapatkan dobel. Selain pengetahuan terkait pembentukan progres sebagai pemain dan tim, pasti anak-anak juga mengamati cara dan situasi yang mereka jalani,” imbuhnya.
Pepe optimistis semakin banyak pemain Arema Putri yang memiliki potensi menjadi pelatih di masa mendatang. Kedekatan antara pelatih dan pemain selama ini dinilainya menjadi modal penting dalam proses transfer ilmu.
“Jadi saya yakin para pemain Arema Putri juga akan banyak yang bisa melatih, karena saya dan mereka sangat dekat dan saling sharing situasi sesungguhnya di kepelatihan yang saya jalani,” jelas pelatih berusia 36 tahun itu.
Di sisi lain, pelatih asal Banyuwangi ini berharap kompetisi Liga Putri Indonesia segera kembali bergulir agar para pemain, termasuk Tito, tetap memiliki kesempatan mengembangkan karier sebagai pesepak bola profesional.
“Semoga Liga Putri segera digelar. Usia Tito dan para pemain Arema Putri lainnya masih sangat muda dan masih layak bermain. Karena untuk menjadi pelatih harus punya bekal kuat, selain pengalaman dan mengetahui dinamika serta cara melatih membentuk tim dengan proses,” pungkasnya.
