Sebelum pemerintah batasi akun medsos (media sosial) anak di bawah 16 tahun, pemain Arema Putri U-15 lebih dulu merasakannya. Sebab, Pelatih Nanang Habibi telah melakukan pembatasan pengggunaan handphone di kalangan pasukannya.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyatakan, pemerintah menunda akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun sebagai upaya melindungi mereka dari berbagai risiko di ruang digital, seperti kecanduan gawai, paparan konten berbahaya, perundungan siber, hingga penipuan daring. Menurutnya, kebijakan ini tidak bertujuan melarang anak menggunakan teknologi, melainkan memastikan mereka memiliki kesiapan mental dan psikologis sebelum memasuki ruang media sosial yang kompleks.
Pelatih yang akrab disapa Pepe itu mengakui mayoritas pasukannya merupakan pemain dengan usia di bawah 16 tahun, termasuk yang ada di Akademi Arema Putri Semarang. Artinya, mereka bakal merasakan dampak penerapan aturan baru pengguna sosmed tersebut.
Sebagai pelatih, Pepe setuju dengan aturan baru yang diterapkan Kementrian Komunikasi dan Digital mulai 28 Maret 2026 tersebut. Sebab, aturan itu dinilai bakal membawa dampak positif bagi pasukan mudanya, khususnya yang membangun karier sejak usia dini.
“Saya setuju usia di bawah 16 tahun dibatasi untuk memiliki akun di platform media sosial, karena sangat berdampak. Di usia mereka gak perlu sibuk membentuk branding diri sendiri di media sosial. Biarkan mereka dikenal karena branding prestasinya dengan platform official atau tim medsos klub,” kata Pepe kepada WEAREMANIA.
Pemerintah Batasi Akun Medsos Anak, Pemain U-16 Bisa Fokus Meraih Prestasi
Pepe menegaskan, pembatasan akun medsos ini bakal berdampak positif bagi pemain Arema Putri. Para pemain di bawah usia 16 tahun bisa fokus meraih prestasi, baik di sepak bola maupun di sekolah.
“Kalau memang sudah di atas 16 tahun, mereka akan banyak mengalami masa untuk tumbuh berkembang sesuai usia. Ketika sudah dewasa, mereka sudah matang untuk bermedsos. Yang di bawah 16 tahun akan ada titik fokus mereka menjalani aktivitasnya untuk bermain dan mencapai prestasinya,” imbuhnya.
“Kalau sudah 17 tahun, mungkin sudah gak menjadi masalah, mereka bermedsos karena sudah punya bekal dan kemampuan untuk berpikir. Jadi, mereka akan matang berpikir sesuai usianya, gak matang duluan. Jadi, mereka akan bisa fokus dalam menjalani aktivitas belajar, baik sepak bola ataupun aktivitas lainnya,” jelas pelatih asli Banyuwangi ini.
Pepe mengaku, selama ini telah menerapkan pembatasan waktu penggunaan ponsel terhadap seluruh penggawa Arema Putri semua level. P3pe menerapkan jam malam, di mana pukul 21.00 waktu setempat, pemain harus menon-aktifkan ponselnya.
“Anak-anak boleh pegang HP lagi pada pagi hari setelah aktivitas beres-beres. Kalau untuk bermedsos dan game online, hanya saya batasi untuk gak berinteraksi berlebihan, karena kalau sudah keasyikan, mereka akan kehilangan waktu beribadah, belajar, istirahat, dan waktu bersama keluarga untuk mengobrol, dan akan banyak aktivitas menyendiri. Ini yang sangat bahaya, kurangnya interaksi di dunia nyata,” terang Pepe.
Selain itu, pembatasan medsos ini menurutnya bisa menyelamatkan mental para pemain Arema Putri. Pepe sudah sering melihat anak di bawah 16 tahun merasakan dampak tekanan psikis ketika mereka melihat atau membaca atau bahkan mengalami sendiri, sehingga mentalnya akan terganggu.
“Pasti ada dampak negatif-nya juga, apalagi kebiasaan bermedsos ini kan sudah lama, baru sekarang ada peraturan tersebut, pastinya kebiasaan seperti interkasi dengan teman melalui medsos atau game. Anak-anak akan merasakan satu stuasi di mana mereka akan meresa kehilangan, dan akan merasakan branding dirinya akan hilang. Tapi, InsyaAllah berjalan waktu dalam masa transisi itu pasti anak-anak akan bisa memahami kenapa ada peraturan tersebut,” tambahnya.
Sosialisasi ke Pemain
Pepe mengaku telah melakukan sosialisasi terkait aturan baru ini ke pemain Arema Putri. Bahkan, hal itu selalu dilakukan staf pelatih, khususnya di asrama Akademi Arema Putri Semarang.
“Terlihat dampaknya anak-anak ketika ada TC atau latihan intens dengan tim, mereka sangat takut dengan saya. Yang jadi masalah itu ketika di rumah saat gak ada TC atau latihan intens dengan tim, pasti akan ada kelemahan pengawasan di luar aktivitas tim,” ujar pelatih kelahiran 30 Januari 1990 itu.
Terkait hal ini, Pepe berharap kerja sama dengan orang tua atau wali pemain. Harapannya, mereka juga turut berperan aktif bersama-sama memperhatikan aktivitas digital para pemain di bawah usia 16 tahun.
“Ini yang harus berjalan bersma antara pelatih dan para orangtua untuk bisq juga menegakkan aturan dengan memonitor pemakaian HP anak-anak,” tuturnya.
“Jadi harus ekstra, anak-anak bisa saja takut dengan saya, tapi pengawasan di luar tim juga sangat penting, harus jalan bersama, khususnya anak-anak usia di bawah 16 tahun,” pungkasnya.
