Stopper Arema Putri, Devi Radina Safitri ungkap peran keluarga dalam karier sepak bolanya. Namun, di awal perjalanannya, pemain asal Sidoarjo itu mengaku sempat dilarang bermain sepak bola.
Dari usia delapan tahun, Devi sudah memulai menekuni olahraga yang lazimnya dilakukan kaum adam ini. Pemain kelahiran 25 Oktober 2005 itu tak menyerah begitu saja ketika hobinya ditentang orang tua, dan tetap bermain sepak bola.
Beruntung, keinginannya untuk fokus ke sepak bola disambut baik oleh sang kakek. Bahkan, kakeknya yang memasukkan ke Sekolah Sepak Bola (SSB) Sikatan Muda pada tahun 2013.
“Awal-awal dulu ada penolakan dari orang tua, karena takut dan jarang juga anak cewek main bola. Tapi kakek saya awalnya yang support, saya dibelikan sepatu. Akhinya saya ikut latihan di SSB dan bisa main di turnamen,” kata Devi kepada WEAREMANIA.
Peran Keluarga dalam Karier Sepak Bolanya Sangat Penting
Devi menilai peran orang tuanya sangat penting dalam mengiringi perjalanan kariernya di sepan bola. Pemain berusia 20 tahun itu bersyukur memiliki mereka, meski kini tengah berjauhan lantaran bermain di Liga Wanita Timor Leste bersama Maudoko FC.
Menurutnya, ada satu momen yang akhirnya membuka pintu hati kedua orang tuanya untuk mengizinkannya bermain bola. Momen bahagia baginya itu terjadi dalam sebuah turnamen di Sidoarjo.
“Momennya saat saya meraih juara harapan 1 di sebuah turnamen di daerah Sidoarjo. Akhirnya mereke support saya sampai sekarang. Menurut saya mereka hal yang paling penting bagi saya, karena tanpa mereka saya tidak akan menjadi apa-apa,” tegas eks pemain Akademi Arema Putri itu.
Selalu Ingat Pesan Orang Tua
Devi selalu mengingat semua pesan yang disampaikan orang tua demi kelancaran karier sepak bolanya. Ada satu pesan paling penting yang terus dilakukannya meski bermain jauh dari rumah.
“Pesan mereka, jangan pernah lupa dengan sholat dan berdoa, itu penting selain juga menjaga kesehatan,” pungkasnya.
