Cerita Menarik Ruddy Widodo Menjadi Seorang Aremania

Cerita Menarik Ruddy Widodo Menjadi Seorang Aremania
Ruddy Widodo (C) WEAREMANIA

Sebelum menjadi General Manager Arema seperti sekarang ini, Ruddy Widodo pernah menjadi seorang Aremania. Momen itu dialaminya sejak tahun 1990 silam saat hijrah dari Kota Surabaya ke Kota Malang untuk berkuliah di salah satu perguruan tinggi swasta.

Karena jarang ada jadwal kuliah, maka diputuskannya untuk mencari kesibukan lain. Awalnya, Ruddy kerap mendengar nama Arema dari teman-temannya, dan baru tahu kalu itu adalah nama klub sepak bola di Malang.

Manajer kelahiran Madiun itu akhirnya nonton pertandingan Arema di Stadion Gajayana, Kota Malang di usia yang masih 19 tahun. Tribune belakang gawang, sebelah utara maupun selatan menjadi tempat favoritnya karena terbilang lebih sepi.

“Suatu ketika, saya lihat di tribune bawah papan skor kok sepertinya asyik. Akhirnya saya mencoba di situ satu-dua kali, ternyata enak juga, dan terbiasa nonton Arema di tribune itu,” kata Ruddy kepada WEAREMANIA.

Pertandingan Paling Berkesan Selama Menjadi Seorang Aremania

Sejak Arema menjadi juara Galatama 1992-1993, Ruddy Widodo selalu mendukung Arema di laga kandang maupun tandang. Bahkan, hadir di Stadion Tambaksari, Surabaya menyaksikan laga derby Persebaya Surabaya vs Arema menjadi pertandingan yang paling berkesan baginya.

Pria berusia 48 tahun itu kebetulan pernah bersekolah SMA di Surabaya sebelum berkuliah di Malang. Ruddy pun kerap ikut saudaranya nonton laga kandang Persebaya.

“Waktu itu saya pakai kostum netral, tidak pakai atribut Arema maupun Persebaya. Kebetulan saya pernah tinggal dan bersekolah di Surabaya, jadi sedikit banyak saya tahu seluk-beluk Stadion Tambaksari seperti apa,” imbuhnya.

Pengalaman yang Tak Terlupakan di Stadion Gajayana

Ruddy Widodo juga punya pengalaman yang tak bisa dilupakannya selama mendukung Arema di Stadion Gajayana. Salah satunya adalah menyogok petugas keamanan karena uangnya tak cukup untuk membeli tiket seharga Rp10 ribu.

Menurutnya, dulu aura Stadion Gajayana sangat angker untuk tim lawan yang begitu memasuki lapangan seakan gentar duluan mendengar nyanyian Aremania di tribune. Tujuan Ruddy ke stadion kala itu selain mendukung Arema juga untuk menyaksikan atraksi-atraksi Aremania di tribune.

“Waktu itu tiket kan susah, harganya juga mahal, suatu ketika saya pernah menyogok petugas keamanan. Kalau tidak salah, waktu itu saya beri Rp4500 atau Rp5000, sudah bisa masuk dengan diaku sebagai keluarganya. Dua-tiga kali lah saya mengalaminya,” sambungnya.

Perkenalannya dengan Iwan Budianto dan Lucky Acub Zaenal

Ruddy Widodo juga mengisahkan perkenalannya dengan Iwan Budianto yang saat ini menjadi salah satu pemegang saham perusahaan pengelola Arema, dan mendiang Lucky Acum Zaenal yang dulu juga mengelola Arema. Perkenalan itu yang kemudian membawanya menjadi pengurus Arema.

Setahun setelah kenal dengan Lucky, Ruddy masuk ke Arema tahun 1998, Ruddy dan dipercaya menjadi Bendahara Umum merangkap Ketua Panpel, dan Iwan menjabat sebagai manajer. Sempat keluar di tahun 2000, pada musim 2001-2002 masuk lagi, lalu hengkang ke Persik Kediri, sebelum akhirnya panggilan jiwa yang membawanya kembali ke Arema di musim 2011-2012.

Perkenalannya dengan Iwan dimulai tahun 1996, di mana Ruddy diajak nonton Arema di tribune VIP Stadion Gajayana. Awalnya, Ruddy mengira kalau di VIP itu tidak bisa teriak-teriak seperti yang biasa dilakukannya di tribune ekonomi.

“Ternyata, justru kami menjadi orang yang paling keras saat berteriak mendukung Arema. VIP Stadion Gajayana waktu itu tidak seperti di Stadion Kanjuruhan sekarang ini. VIP-nya dihuni kebanyakan penonton yang santun-santun. Akhirnya, kami yang memulai teriak-teriak,” tambahnya.

Pernah Disangka Sebagai Investor Anyar Arema

Saat belum menjadi pengurus Arema, bersama Iwan Budianto, Ruddy Widodo pernah disangka sebagai investor anyar Arema. Waktu itu, memang gosipnya Arema yang sementara dilatih oleh Rudy Keltjes hendak diakuisisi oleh seseorang bernama Suroso.

Suatu hari, karena tidak ada kegiatan di sore hari, Iwan mengajak Ruddy ke Lapangan Udara Abdulrachman Saleh, Pakis, Kabupaten Malang untuk menonton Arema latihan. Tak disangka, saat turun dari mobil BMW, keduanya langsung dipanggil Rudy dan diperkenalkan kepada tim.

“Setelah diperkenalkan, kami bersalaman dengan para pemain Arema, seperti Joko Susilo, Kuncoro, dan lain-lain. Ya saya senang bisa bersalaman dengan mereka. Mungkin, dikiranya kami ini investor yang baru, padahal niatnya cuma mau nonton latihan. Kami bukan siapa-siapa, kami juga merasa sebagai Aremania saja,” pungkasnya.

 

Subscribe channel Youtube kami, ikuti kami di Instagram dan gabunglah bersama kami di Facebook untuk menjadi bagian dari komunitas Arema dan Aremania.