FIKSI: Kesetiaan Sang Kapten

Sore ini suasana Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor masih seterik kemarin saat aku melakukan liputan sesi uji lapangan tim Arema yang akan bersua Bhayangkara FC di Liga 1 2021-2022 Pekan 2.

Seharusnya terik itu bisa sedikit diteduhkan oleh senyum gadis yang saat ini duduk di sebelahku, di tribune media. Sayang, saat ini paras manisnya tertutup mendung.

Kupandangi terus wajah gadis yang tatapannya tak lepas dari para pemain Bhayangkara FC yang sedang melakukan pemanasan di sisi lapangan sebelah utara. Matanya terus mengikuti sesosok pemain bernomor punggung 21.

“Nicky, sudahlah jangan dilihatin terus,” sapaku singkat, namun tak membuyarkan lekat tatapan hangatnya pada pria yang kupastikan hingga saat ini masih tersimpan indah dalam memori gadis tersebut.

“Move on Nicky,” sapaku lagi, kali ini sambil mencoba menyenggol bahu mungilnya. Namun gadis yang kupanggil Nicky itu tak bergeming.

“Aku masih gak percaya,” gumamnya pelan. “Loyalitasnya tergadaikan!!”

Kukernyitkan dahi, mencoba mencerna sepatah dua patah kata yang digumamkannya. Otakkku langsung tertuju pada semusim lalu, ketika pria pemilik nomor 21 itu masih sering kuwawancarai. Ya, semusim lalu kuingat dia mengemban ban kapten tim Arema U-20 di kompetisi Elite Pro Academy.

Aku sadar, aku pun yakin bahwa ucapan si Nicky bukan hanya sebatas kekecewaan sebagai seorang fans kepada bintang idolanya. Yang aku tahu, ada kisah kasih di antara mereka berdua, dulu. Setidaknya itu yang pernah kudengar dari cerita Mamanya.

Gengsi Dua Hati..

Suatu siang, saat tak sengaja aku mampir ke rumah si Nicky, ketika gadis itu masih berada di kampusnya, Mamanya menemuiku. Beliau banyak cerita tentang hubungan putrinya dengan si kapten, maksudnya mantan kapten tim Arema U-20 itu.

“Kadang saya bingung juga sama mereka berdua. Saya tahu kalau si Nicky masih sayang sama dia, bagitu juga mantannya itu. Tapi keduanya saling gengsi dengan prinsip dan ego masing-masing,” ungkap Mama Nicky.

Wanita paruh baya itu tak tahu jika putri cantiknya dan mantan yang diomongkannya itu bisa kenal dekat karena aku. Ya, sebenarnya itu hanya usahaku untuk balas budi pada si kapten yang membbuatku jadi dekat dengan seorang gadis. Kini gadis itu sudah menjadi kekasihku dan saat ini telah menjadi masa laluku.

“Yang saya tahu si Nicky itu berusaha membenci mantannya tersebut, tapi semakin dia berusaha membencinya maka dia akan semakin kangen. Itu kenapa sampai saat ini dia belum bisa membuka hatinya untuk cinta lain,” kata-kata Mama Nicky sejenak mengecilkan harapanku.

Mimpi yang Tak Terwujudkan..

Sentuhan tangan di pundak menyadarkanku dari lamunan. Tanpa kusadari seluruh pemain kedua kesebelasan yang akan bertanding malam ini telah masuk kembali ke ruang ganti. Sesi pemanasan telah usai.

“Nih DSP dari Pengawas Pertandingan,” ujar Nicky lembut sambil menyerahkan selembar kertas bertuliskan Daftar Susunan Pemain Arema vs Bhayangkara FC.

Kuambil lembaran putih itu dan kubaca. Ada nama Diego Bagus Armando di starting line-up Bhayangkara FC sore ini. Ya, penyerang muda eks kapten tim Arema U-20 yang disebut Nicky sebagai pengkhianat tersebut.

“Main juga dia rupanya,” kata Nicky sambil melirik DSP di tanganku. Wajahnya masih sedatar yang tadi. Aku hanya membalasnya dengan seutas senyuman.

“Seharusnya namanya ada di line-up tim Arema ya,” ujarku sejurus kemudian. Kerdipan mata si Nicky sudah cukup kumengerti bahwa dia pun setuju dengan kalimatku barusan.

Yang kutahu memang demikian. Dalam sebuah wawancara semusim lalu, Diego pernah bercerita tentang mimpi besarnya bermain di tim senior Arema kelak. Tak heran, karena memang Arema tim yang difavoritkannya sejak kecil. Bahkan untuk mewujudkan mimpinya itu, dia merintis karir sepak bola di Akademi Arema.

Kesempatan naik ke tim senior itu sebenarnya sudah didapatnya di masa pramusim di musim ini. Diego bersama sejumlah pemain Arema U-20 mendapatkan undangan untuk mengikuti sesi latihan bersama tim senior.

Kesempatan Itu Melayang Begitu Saja..

Sore ini adalah latihan terakhir tim Arema sebelum berangkat ke Solo untuk menjalani turnamen pramusim Piala Menpora 2021. Siapa saja pemain Arema yang diboyong untuk turnamen tersebut menjadi isu paling menarik dan membuat semua penasaran. Namun, bukan hanya itu yang membuatku penasaran.

Aku ingin mengetahui apakah di antara pemain yang dibawa serta ke Solo itu ada nama-nama pemain Arema U-20. Pikirku tak jauh-jauh, pasti salah satunya adalah si kapten, Diego. Tapi, ternyata pemain berusia 20 tahun itu tak ada dalam daftar nama pemain yang dirilis.

“Iya Sam, aku gak masuk proyeksi tim senior, padahal sudah dijanjikan sejak dua musim terakhir ini,” terang Diego kepadaku melalui WhatsApp.

“Terus rencanamu selanjutnya?” tanyaku singkat. Hening sejenak.

“Gak tahu Sam. Mungkin aku tetap akan bertahan di Malang, setidaknya sampai ada klub yang mau menampungku,” jawabnya.

Entah mengapa, tiba-tiba sehari setelah pengumuman itu ada kabar Diego mengundurkan diri. Selang sehari, ternyata namanya kemudian didaftarkan oleh Bhayangkara FC untuk ajang Piala Menpora 2021.

Rahasia yang Terpendam..

Rasa penasaranku pada kisah kasih Nicky dengan si mantan kapten tim Arema U-20 itu membuncah. Tanpa sadar bibirku mengeluarkan pertanyaan pada gadis berkaus biru yang masih setia duduk di sebelahku itu, “Kok bisa sih dia memilih menyeberang ke Bhayangkara FC, dan meninggalkan gadis yang sangat mencintainya ini?”

Sejenak Nicky terhenyak. Tatapan tajamnya kini beralih tertuju ke kedua bola mataku. Tersirat keengganan menjawab pertanyaanku yang membangkitkan kenangannya bersama sang mantan.

Sebenarnya, tanpa dijawab pun aku sudah tahu alasannya pergi meninggalkan Malang, Arema dan juga Nicky.

“Aku gak mau pacaran dulu Sam. Masih banyak tanggungan, harus menghidupi Ibu, apalagi Bapak sudah sakit-sakitan, adik-adik juga butuh biaya sekolah,” jawab Diego kala kutanya soal hubungannya dengan Nicky, sesaat sebelum dirinya memutuskan pergi ke Jakarta.

“Gak kasihan sama Nicky? Bukannya kamu sayang banget sama dia?” tandasku. Tapi tak ada respon dari Diego.

Gelegar suara MC pertandingan yang membacakan Daftar Susunan Pemain menggunakan sound system lagi-lagi membuyarkan lamunanku. Saat nama Diego Bagus Armando disebut, sekilas kulihat mimik wajah Nicky yang masih duduk di sebelahku tampak bercampur aduk antara benci dan rindu.

Ya, dia rindu masa-masa kebersamaan dengan mantannya itu, tapi dia benci karena sama sekali tak tahu alasan kenapa Diego meninggalkannya begitu saja tanpa ada kata putus atau sekedar berpamitan.

Tapi aku juga paham loyalitas dan cintanya berbenturan dengan pengabdiannya pada keluarga yang dicintainya. Dan itu yang tak dipahami, atau lebih tepatnya tak diketahui oleh Nicky sebagai orang yang sebenarnya sangat menyayanginya.

Mendadak udara malam Bogor berubah menjadi dingin dan kering. Kulepas jaket biruku dan kusangkutkan di kedua bahu Nicky. Gadis berbibir mungil itu kembali terhenyak.

“Aduh, gak usah, Sam,” ujarnya seraya menepis uluran tanganku. “Pakai saja, aku biasa seperti ini kalau di stadion.”

“Gak. Lebih baik aku yang kedinginan daripada gadis yang kusayangi yang kedinginan,” jawabku singkat. Nicky kembali terhenyak, seolah tak menyangka aku bakal berkata demikian.

“Aku memang belum bisa menggantikan sosoknya di hatimu, tapi tolong jangan tolak niat baikku untuk mengobati rasa sakit hatimu,” ucapku lirih sambil kembali memakaikan jaket ke badan Nicky seiring peluit wasit tanda kick-off babak pertama laga Arema vs Bhayangkara FC sore ini.

TAMAT

Cerita ini cuma fiksi karangan saja. Jika ada kesamaan nama tokoh dan tempat, itu hanya kebetulan belaka.

 

Subscribe channel Youtube kami, ikuti kami di Instagram dan gabunglah bersama kami di Facebook untuk menjadi bagian dari komunitas Arema dan Aremania.