FIKSI: Maafkan Aku, Aremaniaku!

FIKSI: Maafkan Aku, Aremaniaku!

Sore itu, aku tenggelam dalam riuhnya Stadion Kanjuruhan Malang. Semua satu suara dalam mendukung tim kebanggaan kami, Arema FC yang tengah berlaga menjamu PSM Makassar di pekan ke-22 Liga 1 2019.

Sebagai Aremania, aku semakin semangat lantaran Arema bisa tampil dengan skuat terbaiknya malam ini. Terlebih Makan Konate sanggup membawa Arema unggul cepat 1-0 di awal babak pertama. Saking ramainya tribun stadion kala itu, suara notifikasi Whatsapp yang masuk ke handphone tak begitu terdengar di telingaku.

“Sayang, kamu dimana?” begitu bunyi pesan dari Cecil, kekasihku.

Pesan itu baru bisa kubaca pada saat istirahat turun minum. Hatiku agak emosi lantaran PSM berhasil menyamakan kedudukan 1-1 lewat tendagan penalti Ferdinand Sinaga.

“Kenapa?” balasku singkat karena malas.

“Aku kangen, sudah lama kita gak ketemu,” balas Cecil lagi, yang cuma kubaca saja, karena tak sengaja bertemu nawak lama di tribun. Kami pun bereuni tipis-tipis sampai babak kedua dimulai, dan pesan dari Cecil pun terlupakan.

“Sayang..”

“Ihhhh, kok gak dibales sih?”

“Kamu ke mana sih?”

Pesan dari Cecil masuk bertubi-tubi. Dan tetap tak kubalas, karena selain bunyi notifikasinya tidak terdengar, aku juga lebih fokus ke pertandingan. Sempat senang karena Sylvano Comvalius membuat Arema kembali unggul 2-1, cukup lah untuk lolos ke babak selanjutnya.

Saat penyerang asal Belanda itu melakukan selebrasi dengan berlari ke arah tribunku yang kebetulan berada di belakang gawang selatan, sambil menyilangkan kedua tangannya, aku pun ikut menyambut dengan suka cita bersama Aremania lainnya.

Sayangnya, di menit-menit terakhir, PSM mampu mencetak satu gol lagi melalui Zulham Zamrun. Hasil imbang 2-2 itu jelas membuatku dan Aremania lainnya sestadion kecewa, karena Arema gagal menuai poin penuh di kandang sendiri. Aku pun pulang dengan memendam kecewa, dan sama sekali tak membuka handphone sampai keesokan harinya.

Kamu ke Mana Lagi Sih?

Besoknya, kulihat aplikasi Whatsapp sudah penuh notifikasi. Ternyata banyak pesan yang masuk. Tak cuma dari grup-grup Aremania yang kuikuti, tapi juga dari Cecil.

“Sayang,”

“Kamu ke mana lagi sih?”

“Gak dibales lagi,”

“Aduuuh, kamu bawel banget, ketakutan amat sih, aku lagi nonton Arema kemarin, heran deh,” balasku sekitar pukul 10.00 siang.

“Ya ampun, bisa kan kamu kabarin, bilang kek lagi nonton Arema, ya sudah maaf aku kalau ganggu kamu,” kata Cecil.

“Ok,” balasku singkat.

“Ok doang ini?” tanyanya.

“Aku masih kecewa gara-gara Arema gagal menang kemarin, jadi jangan cari gara-gara ya,” balasku ketus.

“Maaf,” balasnya, yang cuma kubaca saja.

Kamu Sibuk Ya?

Keesokan harinya, Cecil kirim pesan Whatsapp lagi, “Sayang, lagi ngapain? Ada rencana ke mana hari ini?”

Pesan itu cuma kubaca saja.

“Kamu sibuk ya? Lagi nonton Arema lagi?”

Lagi-lagi cuma kubaca pesan itu.

“Ya ampun, kamu bener-bener deh, cuma dibaca saja, bales kenapa,”

Sejam kemudian baru aku balas.

“Sayang, coba deh kamu ubah sikapmu itu, kalau aku gak bisa bales atau cuma baca doang, itu tandanya aku lagi sibuk, aku tadi lagi main futsal dengan anak-anak komunitas Aremania-ku, handphone bunyi terus, teman-teman pada nyindir, cieee dicariin cieeee, kan malu aku diledekin, ketakutan amat sih pacarmu gak dibalas sampai spam begitu,” akhirnya kubalas panjang lebar agar dia puas.

“Sebenarnya kamu sayang gak sih sama aku? Kok sampai sebegitunya yah? Emang salah ya kalau aku khawatir? Kalau aku kangen? Kalau aku nyariin kamu?” balasnya.

“Sayang boleh, tapi gak usah sampai begitu juga kali, kayak ketakutan aku sama cewek lain saja, sudahlah, aku malas berantem, terserah kamu mau mikir apa, aku mau jalan pulang dulu,” kataku.

“Ok, kalau itu mau kamu, biar aku menghilang saja sekalian, biar kamu gak merasa terganggu karena ada aku, biar gak ada yang bawel-bawel lagi ke kamu, kamu bisa tenang. Bye!”

“Ya elah, ngambekan juga lagi,”

Masih ngambek?

Sesampainya di rumah, coba kubalas lagi pesan Whatsapp dari Cecil.

“Ini aku baru sampai, kamu lagi apa?” kataku, namun lama sekali tak ada balasan darinya.

“Masih ngambek?”

Karena masih tak ada balasan hingga malam hari, ku-Whatsapp lagi si Cecil.

“Ya sudah, kalau masih ngambek, selamat malam Sayang, aku tidur duluan, sampai ketemu di mimpi,” kataku.

Pagi harinya kubuka Whatsapp lagi. Ternyata, belum ada balasan dari si Cecil. Jangankan dibalas, dibaca saja belum. Aku berpikir, si dia ini benar-benar ngambek.

“Ya ampun, ngambek sampai sebegitunya, sampai gak dibaca chatku,”

Cecil ada Mbak?

Karena merasa bersalah, akhirnya kuputuskan untuk ke rumahnya. Pikirku, sudah satu minggu juga kami gak ketemu. Sebelum sampai ke rumahnya, aku mampir dulu ke warung bakso urat langganan kami.

“Ini kubawakan bakso urat kesukaanmu,” kukirim pesan bersamaan dengan foto sebungkus bakso yang berisi dua bakso urat dengan ukuran sekepalan tangan.

Sesampainya di rumah Cecil, ternyata yang membukakan pintu adalah asisten rumah tangganya. Si Mbak agak heran melihatku.

“Cecil ada Mbak?” tanyaku.

“Lho, Den gak tahu? Non Cecil kan lagi dirawat di rumah sakit dari minggu lalu,” jawabnya.

“Hah, sakit? Kok bisa? Sakit apa?”

“Saya kurang tahu Den, Non Cecil sakit apa, coba saja Den ke rumah sakit deh, Non Cecil dirawat di Rumah Sakit Tentara Den,” ujar si Mbak.

“Ok Mbak, makasih, saya pamit dulu,” kataku sambil buru-buru memacu sepeda motor ke RST.

Cecil kenapa?

Sesampainya di RST, aku langsung menghubungi meja resepsionis kamar rawat inap untuk mencari tahu Cecil dirawat di ruangan mana.

“Maaf Mas, setelah saya cek, pasien atas nama Cecil Maharani sudah meninggal dunia, ini tadi baru saja dibawa pulang ke rumah duka,” betapa kagetnya aku mendengar jawaban si suster, tubuhku lemas.

Singkat cerita, aku kembali ke rumah Cecil, ternyata sudah ramai di sana. Jenazah kekasihku itu pun siap diberangkatkan menuju ke pemakaman. Aku pun menemui ibunya.

“Bu, Cecil kenapa? Kenapa bisa sampai meninggal begini Bu? Sakit apa dia?” tanyaku menyergah.

“Kita doakan saja supaya Cecil tenang di sana ya, dia sudah terbebas dari penyakitnya, sudah tidak merasakan sakit lagi sekarang, ini ada titipan surat dari Cecil buat kamu,” jawab ibu Cecil.

Jenazah kekasihku pun dibawa ke pemakaman. Aku pun ikut mengantarnya menuju ke tempat peristirahatan terakhirnya. Ketika seluruh pelayat pulang, dan tinggal tersisa aku seorang, kubuka surat dari Cecil, dan kubaca dengan seksama.

Apa Kabar?

“Sayang akuuu Dani, apa kabar? Maaf ya aku selalu bawel dan ganggu kamu. Hehe. Tapi, saat kamu baca surat ini, aku sudah gak bisa menemani kamu lagi, sudah gak bisa bawel-bawel lagi. Terakhir kita berantem itu karena aku sudah pengen pergi, pergi yang jauh, dan aku pengennya sebelum aku pergi jauh, aku bisa melihatmu untuk yang terakhir kali, tapi ternyata kamu sibuk, ya sudah gak papa deh.”

“Kamu jaga kesehatan selalu yah, kalau nonton Arema jangan lupa bawa jaket, kalau kangen aku, kamu bisa datang ke kuburan aku untuk ketemu aku. Hehe. Kalau kamu cari pacar lagi, carilah yang lebih baik dariku, yang gak bawel-bawel, yang gak nyariin kamu terus ya, biar kamu gak merasa pusing dan terganggu kayak waktu sama aku. Tapi aku mah jujur saja sayang banget sama kamu, makanya aku suka khawatir selalu.”

“Maaf kalau aku gak cerita tentang sakitku ini, aku kena kanker otak, kata dokter sudah gak ada kemungkinan sembuh, makanya aku gak mau kasih tahu kamu, aku cuma pingin di sisa hari-hariku bisa ketemu kamu, tapi kamu sibuk sih, jadi ya sudah gak papa deh. Aku pamit pergi ya. Kamu kuat kok. Maafkan aku, Aremaniaku.”

Astaga. Aku yang harusnya minta maaf sama kamu Sayang. Aku tahu, kamu bukanlah sosok Aremanita, gak suka sepak bola, gak pernah mau kuajak ke tribun stadion, tapi kamu gak pernah melarang aku mencintai sepak bola, mendukung tim kebanggaanku, atau datang ke stadion. Aku sayang banget sama kamu. Maafkan aku. Semoga surga menjadi tempat terbaikmu.

TAMAT

Cerita di atas hanyalah fiksi atau karangan, jika ada kesamaan nama tokoh dan tempat, hanyalah kebetulan belaka.