Koordinator Presidium Aremania, Ali Rifki usulkan Arema FC pensiunkan nomor punggung Kuncoro yang telah berpulang, Minggu (18/1/2026). Menurutnya, ini menjadi salah satu langkah klub untuk merawat peninggalan almarhum sebagai asisten pelatih sekaligus legenda Arema.
Kuncoro meninggal dunia di usia 52 tahun karena serangan jantung, usai bermain di laga memperingati 100 tahun Stadion Gajayana, Kota Malang. Sempat mendapatkan pertolongan pertama di lapangan, Kuncoro meninggal di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit dr. Saiful Anwae (RSSA) Kota Malang Minggu petang.
“Saya usulkan ke manajemen Arema untuk menggantung atau memensiunkan nomor punggung Coach Kuncoro, sesuai dengan nomor punggungnya dulu di Arema,” kata Ali.
Arema Pensiunkan Nomor Punggung Kuncoro Sebagai Bentuk Penghargaan
Ali menilai, memensiunkan nomor punggung Kuncoro menjadi salah satu bentuk penghargaan bagi sang legenda. Sepanjang kariernya, Kuncoro sebagai pemain telah mempersembahkan gelar juara Galatama 1992-1993.
Kuncoro memperkuat Arema sebagai pemain sejak era Galatama 1991-1992 hingga Liga Indonesia (Ligina) 1995-1996, dan di Ligina 2001. Dalam catatan sejarah, nomor punggung 2 paling lama dipakainya selain nomor punggung 19 di awal kariernya di Arema.
Setelah pensiun, pria asal Kabupaten Malang itu memulai karier sebagai asisten pelatih di Arema sejak Indonesia Super League 2011-2012. Sebagai asisten pelatih, Kuncoro memberikan gelar juara Menpora Cup 2013,
Piala Gubernur Jatim 2013, Trofeo Persija Cup 2013, Trofeo Persija Cup 2015, SCM Cup 2015, Inter Island Cup 2014, Bali Island Cup 2015, Sunrise of Java Cup 2015, Piala Bhayangkara 2016, Bali Island Cup 2016, Trofeo Bhayangkara Cup 2017, Piala Presiden 2017, Piala Presiden 2019, Piala Presiden 2022, dan Piala Presiden 2024.
“Saya pikir Coach Kuncoro dengan apa yang sudah diberikannya kepada Arema layak mendapatkan penghargaan (pemensiunan nomor punggung) tersebut,” tandasnya.
