Ada penyesalan Joel Cornelli selama melatih Arema di Liga 1 2024-2025, yang membuatnya akhirnya tersingkir. Tiga laga tanpa kemenangan di Pekan 13 hingga Pekan 15 membuatnya dipaksa meninggalkan kursi pelatih kepala Skuad Singo Edan.
Menurutnya saat melawan Persebaya Surabaya di Pekan 13, sebenarnya Arema bisa setidaknya meraih hasil imbang 2-2. Namun, akhirnya Arema kalah 2-3 gara-gara gol penalti di menit akhir.
Sementara, ketika menjamu Persis Solo, Arema yang sudah unggul 1-0, harus rela berbagi satu poin setelah tim tamu bisa menyamakan skor 1-1 lewat gol di menit akhir pula. Begitu pun saat kalah 0-1 di kandang Persik Kediri, Arema kebobolan di menit akhir lagi, dan tak diberi hadiah penalti meski jelas ada pelanggaran di kotak terlarang.
“Mungkin kalau kita imbang lawan Persebaya, menang lawan Persis, dan imbang lawan Persik, kita punya lima poin lebih banyak, dan mungkin kita berada di posisi 4 sekarang,” kata Joel kepada WEAREMANIA.
Penyesalan Joel Cornelli Ketika Manajemen Arema Tak Mau Mengerti Sitasinya
Tiga laga tanpa kemenangan membuat posisi Arema melorot dari peringkat 6 ke posisi 9 di Pekan 15 lalu. Namun, Joel menilai situasi naik-turun performa di klasemen adalah sebuah hal yang normal bagi semua klub.
“Coba lihat Persija Jakarta atau Borneo FC di posisi 5 besar. Jarak poin Arema degan mereka tak terlalu jauh. Mereka juga mengalami masalah naik-turun di klasemen, karena memang persaingan di Liga 1 ini sangat ketat,” imbuhnya.
Seperti misalnya saat Arema bisa menang di tiga laga beruntun melawan Malut United, Madura United, dan Persita Tangerang. Maka, saat itu posisi Arema bisa naik terus.
“Oke sekarang kita hanya dapat satu poin dari tiga laga, tapi kalau kita berbenah, dengan cara yang sama, kita bisa bergerak naik lagi. Saya mengerti situasi itu, tapi manajemen Arema gak. Mereka berpikir akan lebih baik jika ada perubahan (pelatih),” tegas pelatih asal Brasil itu.
