Asisten Pelatih Arema, Kuncoro meninggal dunia usai tampil di laga 100 tahun Stadion Gajayana, Kota Malang, Minggu (18/1/2026) sore. Legenda hidup Singo Edan era Galatama itu mengalami serangan jantung.
Laga itu sejatinya menjadi momen reuni Kuncoro dengan para legenda sepak bola yang berkaitan dengan sejarah Stadion Gajayana, seperti Siswantoro, Hermawan, hingga Doni Suherman dan lain-lain. Kuncoro sempat bermain selama 20 menit di stadion yang turut menjadi saksi sebagian besar perjalanan kariernya itu.
Setelah bermain, Kuncoro duduk di bench pemain cadangan untuk beristirahat. Namun, tak berselang lama, situasi berubah panik karena Kuncoro mendadak kolaps dan tidak sadarkan diri.
Pertolongan pertama (RJP) pun diberikan kepada Kuncoro oleh tim medis. Kuncoro pun dilarikan dengam mobil ambulans ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Saiful Anwar, Kota Malang.
Sayangnya, nyawa Kuncoro tak tertolong meski telah mendapatkan penanganan di IGD. Pelatih berlisensi A AFC itu pun menghembuskan napas terakhirnya di usia 52 tahun.
General Manager Arema, Yusrinal Fitriandi, menyampaikan rasa duka yang mendalam. Baginya, kepergian Kuncoro terasa sangat cepat
“Kami semua sangat shock dan terpukul. Cak Kun memulai karier profesionalnya di Stadion Gajayana, tempat dia merajut mimpi masa mudanya. Hari ini, Allah memanggilnya pulang di stadion yang sama, tepat di momen 100 tahun stadion ini. Beliau ‘pulang’ saat sedang bahagia berkumpul dengan sahabat-sahabat lamanya di lapangan,” kata pria yang akrab disapa Inal itu.
Menurutnya, kepergian Kuncoro bukan hanya kehilangan bagi Arema, tapi bagi sepak bola Indonesia. Sosoknya yang humoris, tegas, dan setia kawan akan selalu dikenang.
“Beliau pergi di ‘rumahnya’ sendiri. Selamat jalan, Legenda. Loyalitasmu abadi. Mari kita doakan bersama, semoga Almarhum Kuncoro Husnul Khotimah, dilapangkan kuburnya, dan diterangkan jalannya menuju Surga-Mu, Ya Allah. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” tandasnya.
