Pemain Malut United, Yakob Sayuri merasa diteriaki rasis di kandang Arema saat kedua tim bersua di Pekan 26 Super League 2025-2026, Jumat (3/4/2026). Pelatih Marcos Santos mengaku tak mengetahui langsung kejadiannya, tapi meminta isu rasisme dihentikan jika memang benar itu terjadi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang.
Sebelumnya, Pelatih Malut, Hendri Susilo bersaksi Yakob mengatakan kepadanya di pengujung babak pertama bahwa telah diteriaki monyet dari arah tribune saat situasi sepak pojok. Koordinator Presidium Aremania, Ali Rifki sempat memberikan imbauan melalui pengeras suara agar tak ada kata-kata rasis dalam pertandingan.
Namun, tudingan rasis kepada Yakob itu masih belum terbukti adanya. Meski demikian, Marcos berharap tak ada ruang untuk aksi rasisme yang bisa merusak sepak bola.
“Mengenai isu rasisme, saya gak mendengar langsung. Namun hal seperti itu harus dihentikan, gak boleh ada lagi dalam dunia sepak bola. Itu hanya merusak sepak bola. Kita semua sama, tanpa memandang warna kulit. Kita semua setara dan saling membutuhkan,” kata Marcos usai laga.
Pemain Malut United Merasa Diteriaki Rasis, Marcos Santos Minta Maaf
Meski belum ada pembuktian kebenaran isu rasisme itu, Marcos dengan rendah hati meminta maaf kepada Yakob dan Malut. Namun, pelatih asal Brasil itu tetap meyakini bahwa Aremania bukanlah suporter rasis.
“Saya bahkan mendatangi bangku cadangan lawan dan berbicara dengan mereka serta manajemen, untuk menyampaikan permintaan maaf,” imbuh pelatih berlisensi CONMEBOL Pro ini.
“Saya tahu rasis bukan sikap mayoritas suporter, karena mereka adalah suporter yang baik dan datang ke stadion untuk mendukung tim,” pungkasnya.
