Bambang Nurdiansyah Ungkap Kenangan Indah di Arema

Bambang Nurdiansyah Ungkap Banyak Kenangan Indah di Arema
Bambang Nurdiansyah Ungkap Banyak Kenangan Indah di Arema (C) ABI YAZID

Bambang Nurdiansyah kembali ke Malang sebagai pelatih PSIS Semarang untuk menghadapi mantan timnya di era Galatama tersebut. Jelang laga pekan ke-17 Liga 1 2019 yang dihelat di Stadion Kanjuruhan Malang, Sabtu (31/8/2019) malam itu sang legenda mengungkapkan banyak kenangan indah di Arema.

Sebelum ke Arema, pelatih yang akrab disapa Banur itu lebih dulu menjadi pemain besar di Pelita Jaya. Saat itu, bahkan statu sebagai pemain Tim Nasional Indonesia sudah disandangnya.

Waktu masih aktif bermain, Banur adalah seorang penyerang haus gol. Hal itu menarik minat Acub Zaenal sebagai pendiri Arema merekrutnya di musim 1988-1989. Kebetulan waktu itu adalah musim kedua Arema berkompetisi setelah didirikan pada 11 Agustus 1987.

“Saya ini bermain di Arema ketika klub ini belum menjadi apa-apa, waktu itu saya pemain tim nasional di Pelita. Karena kedekatan Pak Acub dengan Pak Nirwan (Bakrie, pemilik Pelita), Pindahlah saya dari Pelita ke Arema dengan status pemain pinjaman,” kata Banur.

Terkenang Teman Lama di Arema

Bambang Nurdiansyah masih sangat fasih menyebutkan nama-nama mantan rekan satu timnya di Arema dulu. Bahkan, banyak kenangan yang tak bisa dilupakannya bersama mereka.

Sambil mengingat-ingat, Banur menyebut nama Mukrim Akbar, Hilal Lahji, Mahdi Haris, Micky Tata, Aji Santoso, dan Singgih Pitono. Yang diingatnya lagi, waktu itu Arema masih bermain di Stadion Gajayana, dan mes pemainnya ada di daerah Tanjung, Kota Malang.

“Aji (Santoso) itu dulu waktu main di Arema masih berstatus pelajar, makanya kalau latihan suka bawa buku pelajaran. Kalau Singgih (Pitono) yang sekarang jadi asisten pelatih Arema itu memang pemain top, dulu diambil dari Tulungagung,” imbuhnya.

Harus Tetap Profesional

Bambang Nurdiansyah mengakui Arema adalah rumah keduanya setelah tempat tinggalnya di Jakarta. Namun, datang bersama PSIS kali ini, pelatih kelahiran Malang itu menegaskan akan tetap profesional.

“Saya profesional, sekarang saya melawan Arema, tetap saya ‘bunuh’. Tidak peduli, saya sekarang melatih PSIS, meski hati saya di Arema, kalau bisa ya saya akan mengalahkan Arema,” tegas pria yang juga pernah melatih Arema di Indonesia Super League 2008-2009 tersebut.