Jaenal Ikhwan yang Rela Tempati Posisi Aneh Demi Arema

Jaenal Ikhwan yang Rela Tempati Posisi Aneh Demi Arema
Jaenal Ikhwan

Mengerjakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kemampuan yang dimiliki memang menjengkelkan. Hal itu pernah dialami oleh Muhammad Jaenal Ikhwan yang hari ini (1/5/2020) genap berusia 43 tahun.

Lahir di Banyuwangi, 1 Mei 1977, Jaenal bergabung dengan Arema di kompetisi Liga Indonesia (Ligina) 2007-2008. Di kompetisi edisi terakhir sebelum berganti nama menjadi Indonesia Super League (ISL) itu, Arema dilatih oleh Miroslav Janu.

Pelatih asal Cekoslovakia itulah yang menjadi “malapetaka” bagi Jaenal. Di tangan pelatih yang akrab disapa Miro tersebut, Jaenal mengalami reposisi ketika bermain di lapangan.

Sebelumnya, saat masih memperkuat Petrokimia Putra Gresik (1999-2003), Deltras Sidoarjo (2004), Persija Jakarta (2005), maupun Persita Tangerang (2006), Jaenal menempati posisi penyerang. Pemain bertinggi badan 165 cm itu kerap berduet dengan satu striker lainnya di lini depan.

Jaenal Ikhwan yang Rela Tak Lagi Jadi Penyerang

Miroslav Janu lah yang menyulap Jaenal Ikhwan yang tadinya penyerang menjadi pemain sayap. Sepanjang gelaran Ligina 2007-2008, maupun di Copa Indonesia 2007, dan Liga Champions Asia 2007, Jaenal lebih akrab dengan posisi barunya itu.

Bahkan, bukan cuma menjadi pemain sayap, Miro pun suatu ketika pernah memainkannya sebagai bek sayap kanan. Seiring berjalannya waktu, proses adaptasinya membuahkan hasil.

Dua gol pernah dibuatnya selama mengenakan jersey Arema bernomor punggung 13. Gol perdananya untuk Arema dibuat ke gawang PKT Bontang (17/2/2007) saat bermain imbang 1-1, dan satu gol lainnya ke gawang Persiwa Wamena (22/11/2007) ketika menang 2-1.

Kalah Bersaing dengan Striker Asing

Reposisi dari penyerang ke pemain sayap yang dialami Jaenal Ikhwan tak lepas dari keberadaan para penyerang asing. Saat itu, sejak awal musim lini depan Arema sudah diperkuat oleh Basile Essa Mvondo dan Emaleu Serge (yang akhirnya digantikan Patricio Morales karena cedera).

Jaenal dinilai kalah bersaing jika tetap memaksa bermain sebagai penyerang, sehingga Miro memasangnya sebagai pemain sayap. Terlebih setelah kehadiran Emile Mbamba yang menggantikan Essa di putaran kedua.