Tak banyak yang tahu tentang makam Mbah Setyo dan Mbah Setuhu, kecuali orang-orang tertentu yang mengenal dua sosok bawah pusara kaki Gunung Semeru ini. Warga sekitar dan para peziarah menyakini bahwa Mbah Setyo dan Mbah Setuhu adalah tokoh legenda yang keduanya merupakan pengikut Ajisaka. Konon, kematian kedua pengikutnya inilah yang menginspirasi lahirnya aksara Jawa, Hanacaraka.
Berada pada Dusun Kramat, Desa Patokpicis, Kecamatan Wajak, kompleks makam Setyo Setuhu berada pada lereng Gunung Semeru.
Lokasinya juga jauh dari permukiman penduduk. Hanya ada beberapa rumah tak jauh dari makam. Menurut informasi dari Seleman, Kepala Desa (Kades) Patokpicis, hanya terdapat 25 Kepala Keluarga pada Dusun Kramat. Melalui pantauan, memang tampak beberapa rumah yang berada pada bagian luar kompleks makam.
Seleman menuturkan, cerita yang turun menurun beredar antara masyarakat setempat secara turun temurun bahwa Setyo dan Setuhu merupakan sosok yang memiliki kesaktian tinggi. Keduanya bertarung berebut pusaka hingga akhirnya sama-sama mati pada lokasi yang kini menjadi makamnya.
Perebutan pusaka milik Ajisaka ini lantaran keduanya sama sama memegang teguh perintah sang Ajisaka. Karena kesetiaan dan kepatuhan terhadap Ajisaka pula mereka meninggal.
Biasanya pada malam Jumat legi, makam Setyo Setuhu banyak berkunjung para peziarah untuk melaksanakan aktivitas spiritual. Setiap akan melaksanakan tradisi “Upacada Karo” warga dari Ngadas dan pegunungan Tengger terlebih dulu mendatangi ini.
Untuk lokasi makamnya juga terpisah dengan dua bangunan lainnya menjadi tempat untuk beristirahat, tertutup dan terbuka. Sedangkan satu bangunan lagi, kata Seleman, merupakan tempat dikuburkan barang-barang yang tidak diketahui isinya.
Banyaknya pengunjung Makam Setyo Setuhu untuk berziarah, membuat tempat ini menjadi objek wisata religi. Bahkan pihak pemerintahan desa juga telah menyediakan buku tamu bagi para pengunjung yang akan datang ke makan Mbah Setyo Setuhu ini.
Baca juga: 5 Tempat Misterius di Gunung Semeru





