Malang kaya akan seni dan budaya yang sarat makna. Salah satu seni khas Malang yang wajib dilestarikan yakni Udeng Kemplengan. Udeng alias pengikat kepala yang populer di daerah Karangkates ini memiliki bentuk unik yang penuh filosofi. Seperti bentuk gunungan, jeprakan, puteran, dan tali wangsul.
Filosofi Bentuk Udeng Kemplengan
Udeng adalah lembaran kain kecil yang digunakan untuk mengikat kepala. Kain ini dapat berbentuk persegi maupun segitiga. Pada Udeng Kemplengan, kain mula-mula dibentuk menjadi segitiga sebelum dikenakan. Bentuk segitiga memiliki makna tersendiri, yakni 3 hubungan yang wajib dijaga. Hubungan horizontal antara manusia dan alam, serta hubungan vertikal dengan Tuhan.
Gunungan
Bentuk gunungan terletak pada belakang kepala. Pilihan bentuk Gunungan ini mencerminkan kekuatan masyarakat Malang. Bentuknya yang menjulang tinggi juga menggambarkan harapan yang tinggi.
Jeprakan
Jeprakan terdapat pada kedua sisi udeng. Seperti letaknya yang seimbang si sisi kanan dan kiri, bentuk satu ini mencerminkan keseimbangan hidup. Tak hanya itu, jeprakan juga melambangkan keadilan dalam pengambilan suatu keputusan.
Puteran
Puteran terletak pada bagian depan udeng, dan berbentuk seperti benjolan. Benjolan ini didapatkan saat memutar ujung udeng di depan, untuk dibawa ke arah belakang, sehingga menghasilkan benjolan. Puteran melambangkan 2 hal yang berhubungan dan saling berbalikan. Seperti dalam hidup ini, selalu ada 2 sisi, baik dan buruk, siang dan malam, dan sebagainya.
Wangsul
Wangsul adalah simpul akhir dalam pemakaian udeng. Secara harfiah, wangsul dalam bahasa jawa berarti pulang. Maka dapat disimpulkan bahwa Wangsul menggambarkan manusia itu sendiri, yang akan pulang kepada Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Kuasa.
Cara Pemakaian Udeng Kemplengan
- Siapkan kain kecil yang sudah dibentuk menjadi segitiga.
- Letakkan bagian segitiga di belakag kepala, dengan ujungnya menghadap ke atas.
- Lipat bagian yang panjang selebar 5 cm secara berlapis, sesuaikan.
- Bawa kedua ujung kain ke depan, lalu silangkan bagian kanan ke diri, dan sebaliknya sehingga membentuk Puteran.
- Bawa kedua ujunganya ke belakang.
- Sebelum ditali di belakang, lebarkan bagian samping kain sehingga membentuk seperti tepian, bentuk menjadi Jeprakan.
- Setelah itu, tali ujungnya di belakang dengan simpul yang mudah dibuka dengan sekali tarikan.
Baca Juga: Kembali pada Masa Kolonial di Kampung Heritage
Subscribe channel Youtube kami, ikuti kami di Instagram dan gabunglah bersama kami di Facebook untuk menjadi bagian dari komunitas Arema dan Aremania.

