Saturday, July 4, 2026
  • Kontak
  • Iklan
Ngalam Wearemania
  • Terbaru
  • Destinasi
  • Malangan
  • Kuliner
  • Info Penting
  • Arema FC
No Result
View All Result
Ngalam Wearemania
No Result
View All Result
Home Sejarah

Astana Karaeng Galesong Ngantang, Makam Pejuang di Jalan Allah

Ongis Mbois by Ongis Mbois
27 October 2024
in Sejarah, Tokoh
0 0
0
Gerbang Astana Karaeng Galesong  © Imam Malik

Gerbang Astana Karaeng Galesong © Imam Malik

Dikisahkan seorang pejuang dari Bugis, Makassar, Sulawesi Selatan melakukan perlawanan terhadap Belanda di masa VOC. Ia tak gentar melakukan perlawanan laut dari Bugis hingga akhirnya “berakhir” di Malang. Pejuang gigih ini tak lain dan tak bukan adalah Karaeng Galesong, pahlawan dengan makam yang dikenal dengan Astana Karaeng Galasong.

Laksamana Angkatan Laut Kerajaan Gowa

Pemilik nama panjang I Maninrori I Kare Tojeng Karaeng Galesong adalah seorang laksamana angkatan laut Kerajaan Gowa. Galesong merupakan anak Sultan Hasanuddin dari kerajaan Gowa. Dokumen Lontara menyebutkan, pada masa itu Kerajaan Gowa menyerah pada VOC yang bersekutu dengan Kerajaan Bone. Hal ini ditandai dengan adanya Perjanjian Bongaya.

ArtikelTerkait

Sejarah Pabrik Gula Kebonagung Malang, Berdiri Sejak 1905

Sejarah SMA Negeri 1 Malang, Berawal dari Sekolah Liar hingga Jadi SMA Favorit di Kota Malang

Sejarah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Romantisme di Balik Sejarah Nama Kasembon

ADVERTISEMENT

Namun, Karaeng Galasong berpendapat bahwa yang menyerah adalah Raja Gowa, aka bukan berarti peperangan menghadapi VOC harus berakhir. Alasan ini lah yang membawa Galesong dan rekannya yang bernama Karaeng Bontomarannu terus memperjuangkan apa yang dianggapnya benar. Keduanya bergabung dengan pasukan Sultan Agung Tirtayasa dan Pangeran Trunojoyo yang juga melakukan pemberontakan terhadap VOC.

Sebagai laksamana angkatan laut, Galesong berfokus pada peperangan di lautan, terutama di perairan sekitar pulau Jawa. Saat terdesak dan mengalami kekalahan, Karaeng Galesong dan rekan-rekannya memutuskan untuk pergi ke daeran yang tinggi. Singkat cerita, dalam perjalanannya, Galesong meninggal dunia di kawasan Ngantang, Kabupaten Malang. Kejadian ini tepat pada tanggal 21 November 1679, atau waktu sebelum Trunojoyo tertangkap dan dibunuh VOC. Karaeng Galesong dan Trunojoyo akhirnya dimakamkan di Ngantang, kabupaten Malang.

Astana Karaeng Galesong

Kompleks pemakaman pejuang ini dikenal dengan nama Astana Karaeng Galesong. Tempat yang cukup asri ini berukuran kurang lebih 100 meter persegi yang dikelilingi pohon-pohon Kamboja. Di tempat yang sunyi ini terdapat beberapa batu nisan dilengkapi dengan susunan beberapa batu bata tua yang nampak berlumut. Selain itu, terdapat pula gundukan tanah di posisi memojok lengkap dengan nisan yang sudah usang dan berlumut. Masyarakat meyakini, makan-makan ini merupakan milik kerabat Karaeng Galesong.

Makam Karaeng Galesong sendiri berada tidak jauh dari gundukan terebut. Istimewanya, terdapat nisan yang terbuat dari marmer pada makam ini. Berbeda dengan makam yang lain dengan nisan berlumut dan berupa gundukan tanah saja. Tak hanya itu, pada makam Galesong terdapat tiang setinggi kurang lebih satu meter dengan replika bendera merah putih kecil seolah sedang berkibar, dan di bawahnya, terdapat tulisan “Pejuang”.

Sementara itu, pada batu marmer di makam tersebut, terukir tulisan Arab berwarna emas, yang jika diterjemahkan berarti, “Di sinilah dimakamkan seorang pejuang yang berjuang di jalan Allah”. Di bawah batu marmer ini terdapat tulisan nama sebuah kelompok pengajian, yang menyebut diri mereka “Warga Malang keturunan Galesong”.

Makam Karaeng galesong ini menjadi simbol kepahlawanan rakyat Bugis terhadap penjajah. Keberadaan makam ini pula menjadi suatu kebanggaan bagi masyarakat Bugis, Makassar yang memang banyak bermukim di Malang dan sekitarnya. Makam ini sering dikunjungi para muslim Bugis dan warga keturunan Makassar, seperti masyarakat yang tergabung dalam Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa Indonesia Sulawesi-Selatan (IKAMI Sul-Sel Cabang Malang) dan Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS Malang Raya).

Bahkan, Wakil Presiden RI Jusuf Kalla pun pernah berziarah ke Astana Karaeng Galesong pada tahun 2013 silam.

Ketahui asal usul nama bandara di Kota Malang melalui sejarah: Sosok Inspiratif Abdulrachman Saleh yang Abadi di Malang
Tags: Astana Karaeng Galesongmakam pahlawanmakam pahlawan malangmakam pejuangmakam pejuang malangngantangngantang malangpejuang di jalan Allahpemakaman Galesong
ShareTweetSend
Previous Post

Jembatan Mojopahit, Saksi Bisu Sejarah Malang

Next Post

Profil Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang

Ongis Mbois

Ongis Mbois

Kuli tinta yang mendedikasikan diri untuk Bhumi Arema

Related Posts

Sejarah

Prasasti Hantang di Daerah Warga Ngantang

22 January 2024
Lapangan Tedjo Sadewo Desa Ngantru, Ngantang (Foto:  Imam Malik)
Sejarah

Kisah Bedah Kerawang Desa Ngantru, Ngantang

13 December 2021

Arema FC

    Ngalam Wearemania

    Berita dan Destinasi Wisata Malang Raya dari Wearemania Network

    KATEGORI

    • Akomodasi
    • Berita Terbaru
    • Destinasi
    • Event
    • Fakta dan Mitos
    • Info Penting
    • Kuliner
    • Malangan
    • Ngalampedia
    • Ramadan
    • Sejarah
    • Tokoh
    • Wisata

    WEAREMANIA NGALAM

    Redaksi
    Kebijakan Privasi
    Pedoman Media Siber
    Pengaduan

     

    Disclaimer
    Hak Jawab & Koreksi Berita
    Ketentuan Pengguna
    Kontak dan Iklan

    © 2021 Ngalam Wearemania by Wearemania Network.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In
    No Result
    View All Result
    • Terbaru
    • Destinasi
    • Malangan
    • Kuliner
    • Info Penting
    • Arema FC

    © 2021 Ngalam Wearemania by Wearemania Network.