9 Misi Joko Susilo Sebagai Direktur Teknik Akademi Arema

Arema Butuh Pelatih yang Filosofinya Sesuai dengan Aremania
Gethuk (C) AKAIBARA

Sebagai Direktur Teknik Akademi Arema, Joko Susilo tak ingin bekerja asal-asalan. Setidaknya, ada sembilan misi yang dicanangkannya demi perubahan menjadi yang lebih baik.

Presiden Klub Arema, Gilang Pramana sendiri yang menunjuknya sebagai Dirtek Akademi Arema yang anyar. Posisinya disebut-sebut menggantikan peran Agus Yuwono yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Pengembangan Kurikulum di Akademi Arema.

Kepada Gilang, pelatih yang akrab disapa Gethuk itu sudah mengutarakan misinya ke depan sebagai Dirtek. Harapannya, apa yang sudah direncanakannya itu bermuara pada prestasi yang ditargetkan manajemen Arema.

Inilah 9 Misi Joko Susilo Sebagai Direktur Teknik Akademi Arema

1. Prestasi di Segala Jenjang Kelompok Usia.

Nantinya, Gethuk akan membawahi empat tim sekaligus yang mejadi bagian dari pembinaan usia dini berjenjang di Akademi Arema. Mulai dari tim Arema U-14, U-16, U-18, dan U-20.

Semua tim tersebut ditargetkannya berprestasi di musim 2022. Setidaknya ada Elite Pro Academy yang bisa diikuti tahun ini, juga Piala Soeratin.

2. Menciptakan Pemain Berkualitas untuk Arema dan Timnas.

Selain prestasi tim di semua jenjang, Gethuk juga menargetkan Akademi Arema bisa mencetak prestasi individual. Yang dimaksudnya di sini adalah menjadikan bibit-bibit unggul di Akademi Arema bisa menembus tim senior Arema, bahkan level Timnas Indonesia.

3. Memperbaiki Sistem Pembinaan dan Manajerial.

Gethuk ingin memperbaiki sistem pembinaan yang ada di Akademi Arema saat ini. Termasuk pula sistem manajerialnya.

Segala sesuatunya yang dinilai masih bagus dan relevan akan dipertahankan. Namun, yang perlu dibenahi akan diperbaikinya.

4. Menata Program Latihan.

Sebagai Dirtek, Gethuk siap menata ulang program latihan Akademi Arema di semua jenjang. Kurikulum yang sudah dimilikinya dan sempat dipakai sewaktu menjadi Dirtek Akademi Arema sebelumnya, bakal diterapkannya.

Program dan kurikulum ini termasuk memengaruhi bagaimana filosofi dan cara bermain yang disiapkan ketika mereka naik kelas ke tim senior Arema. Menurutnya, seharusnya dari jenjang U-14 hingga senior harus sejalan.

5. Menyusun Rencana Kerja.

Rencana kerja untuk semua jenjang di Akademi Arema juga menjadi tugas Gethuk untuk menyusunnya. Rencana itu meliputi rencana tahunan, bulanan, sampai harian.

Terbaru, Gethuk akan menjadikan tim Arema U-20 sebagai muara sementara bagi para pemain berkualitas dari jenjang-jenjang di bawahnya. Mereka bisa bersaing di sana sebelum ditentukan layak atau tidak untuk naik ke tim senior.

6. Penunjukan Tim Kepelatihan.

Gethuk pun sudah diminta Gilang langsung untuk menunjuk ‘kabinet tim kepelatihan’ untuk U-14 hingga U-20. Menurutnya, pelatih-pelatih itu yang akan menjadi ujung tombak penyampai kurikulum dan program yang sudah disusunnya.

Sebagus-bagusnya kurikulum dan program yang sudah dibuat, tanpa penyampaian yang tepat oleh pelatih di tiap jenjang maka sia-sia saja. Karenanya, sebelum melepas mereka, sebagai pelatih berlisensi AFC Pro yang juga sudah layak menjadi instruktur kepelatihan, Gethuk bakal mengedukasi pelatih-pelatih itu.

7. Pemahaman Kepada Orang Tua Pemain.

Gethuk bakal menjelaskan apa saja program dan kurikulum yang diberikan kepada para pemain di Akademi Arema kepada orang tua masing-masing. Harapannya, ada sinergi yang terbangun antara tim pelatih dengan orang tua dalam mendukung si anak.

Selain itu, Gethuk akan meluruskan sesuatu yang selama ini salah kaprah. Selama ini ada anggapan setiap siswa Akademi Arema dengan otomatis bakal tampil di kompetisi Elite Pro Academy.

Menurut Gethuk, anggapan tersebut harus segera diluruskan, karena tak semua siswa yang jumlahnya bisa mencapai 50 pemain dalam satu angkatan bisa tampil di EPA. Di tangannya, hanya pemain yang punya kualitas yang bakal terpilih sesuai dengan kuota pemain dalam regulasi EPA nantinya.

8. Pemilihan Infrastruktur yang Tepat.

Belajar dari pengalamannya sewaktu menjadi Dirtek Akademi Arema sebelumnya, Gethuk ingin tim junior Arema ini tak dianaktirikan. Artinya, mereka harus merasakan infrastruktur yang layak pula, seperti tim senior.

Hal ini selaras dengan program kerja Gilang yang ingin mendirikan training ground untuk Arema. Kalau itu belum terwujud dalam waktu dekat, Gethuk meminta minimal ada lapangan standar dengan kualitas layak yang bisa dipakai Akademi Arema.

9. Kompetisi Internal.

Terakhir, Gethuk berharap Akademi Arema punya kompetisi internal di semua jenjang yang dimiliki. Untuk yang satu ini, Gethuk berkaca pada kesuksesan tim-tim Perserikatan zaman dahulu yang melahirkan pemain-pemain andalan dari kompetisi internal mereka.

Iklim kompetisi ini akan diciptakan di setiap jenjang, misalnya dengan membagi tiap jenjang menjadi dua tim, yakni tim inti yang bisa ikut EPA, dan reserve yang standby dengan tetap berlatih keras. Jadi, ada sistem promosi-degradasi pemain antara tim inti dan reserve tersebut.

Selain itu, bisa juga nantinya Akademi Arema menggandeng Sekolah Sepak Bola (SSB) lokal di Malang Raya untuk rencana kompetisi internal ini. Harapannya, di sini juga menjadi ajang pencarian bakat-bakat pesepak bola calon bintang tim senior Arema dan Timnas Indonesia.

Meski memiliki lisensi kepelatihan AFC Pro, Gethuk rela ‘turun kasta’ dengan menjadi Dirtek Akademi Arema. BACA: Inilah alasan Gethuk mau-maunya menerima tawaran kembali ke Akademi Arema yang membesarkan namanya.

---
Subscribe channel Youtube kami, ikuti kami di Instagram dan gabunglah bersama kami di Facebook untuk menjadi bagian dari komunitas Arema dan Aremania.