Geng Argentina Pergi, Geng Brasil Jadi Pengganti (Part 1)

Jauh-jauh hari sebelum kompetisi Liga 1 2020 digulirkan, manajemen Arema menerima invasi dari geng Argentina.

Jauh-jauh hari sebelum kompetisi Liga 1 2020 digulirkan, manajemen Arema menerima invasi dari geng Argentina. Namun, setelah kompetisi vakum sekira enam bulan, satu persatu mereka pergi.

Invasi geng Amerika Latin ini dimulai dari penunjukan Mario Gomez selaku pelatih kepala oleh General Manager Arema, Ruddy Widodo. Pelatih 62 tahun itu ditunjuk lantaran memiliki gaya melatih yang Latin banget, sesuai yang diinginkan direksi klub.

Gomez tiba tak sendiri, lantaran membawa serta mantan nawak kentelnya di Johor Darul Takzim Malaysia, Marcos Gonzalez. Pria yang juga berasal dari Argentina itu ditunjuk menjadi pelatih fisik.

Di saat yang bersamaan, diperkenalkan pula seorang Brasil, negara tetangga Gomez dan Marcos di benua mereka. Pria bernama Felipe Americo itu didapuk melengkapi staf kepelatihan di bawah pimpinan Gomez menjadi pelatih kiper.

Geng Argentina Memperkuat Dominasi di Arema

Tak cukup membawa Marcos Gonzalez, Gomez pun mengajak dua pemain asal Argentina lainnya. Keleluasaan itu tak lepas dari kepercayaan penuh yang diberikan manajemen Arema kepadanya untuk memilih komposisi empat pemain asing.

Setelah memastikan satu slot pemain Asia diisi oleh Oh In-kyun, mantan anak buahnya di Persib Bandung, Gomez mendatangkan Matias Malvino dari Uruguay. Untuk dua slot pemain asing non-Asia lainnya, Gomez memboyong duo Argentina, Jonathan Bauman, anak emasnya di Persib, dan satu pemain orbitan, Elias Alderete.

Ketika Masa Resesi Datang Menghampiri

Sejak Liga 1 2020 dihentikan sementara pada pertengahan Maret, sempat ada keputusasaan di benak pengurus 18 klub peserta untuk bisa melanjutkan kompetisi. Bisa dibilang Indonesia memasuki masa resesi dalam sepakbola gara-gara pandemi covid-19 yang melanda.

Arema yang sempat lempar handuk, banting setir memutuskan kompetisi harus tetap dilanjutkan meski dalam kondisi keuangan yang terpuruk. Harapanan itu bak gayung bersambut setelah PSSI dan PT Liga Indonesia memutuskan Liga 1 2020 dilanjutkan pada 1 Oktober dengan sejumlah penyesuaian dalam segi regulasi dan teknis di lapangan.

Salah satu penyesuaian, yang juga menjadi tuntutan Arema, adalah penyesuaian kontrak (termasuk gaji) bagi pelatih dan pemain. PSSI kemudian menerbitkan Surat Keputusan No. 48 untuk penyesuaian gaji bulan Maret-Juni maksimal 25 persen, yang kemudian diperpanjang untuk Juli-Agustus.

Menyusul kemudian, terbit pula SK No. 53 untuk penyesuaian gaji bulan September hingga kompetisi berakhir di bulan Februari 2021. Dua SK itu yang dijadikan senjata klub untuk melakukan penghematan di tengah pandemi.

Namun, itulah yang menjadi awal dari perginya orang-orang Argentina dari Arema. Penyesuaian kontrak yang disodorkan manajemen klub tak diamini oleh mereka.

Diawali Perginya Mario Gomez

Kepergian orang-orang Argentina itu diawali dengan mangkirnya Mario Gomez, Marcos Gonzalez, Jonathan Bauman dan tiga pemain asing lainnya dalam rapid test yang digelar Arema. Mereka pun tak tampak dalam sesi latihan perdana yang digelar Arema di masa pandemi pada awal Agustus.

Akhirnya diketahui jika Gomez, dan Marcos mundur dari kursi kepelatihan. Langkah itu diikuti Bauman pekan berikutnya, sehingga menyisakan satu orang Argentina di skuad Arema, Elias Alderete yang masih ‘setia’ mengikuti latihan.

Elias Alderete Akan Menyusul?

Meski mengikuti sesi latihan Arema hingga kini, Elias Alderete berpotensi menyusul ketiga kompatriotnya ke pintu keluar Arema. Sebab, terungkap fakta jika penyerang 25 tahun itu belum taken draft rekontrak.

Elias mengaku mengikuti sesi latihan selama ini karena menghormati kontraknya dengan Arema yang meminjamnya dari Chacharita. Namun, diketahui Elias mengajukan permintaan gaji 50 persen untuk bulan Maret hingga Agustus, meski sudah menerima 25 persen.

Manajemen Arema memberikan tenggat hingga awal September ini kepada Elias untuk segera menandatangani perbaruan kontraknya. Jika memang tak setuju dengan skema rekontrak yang disodorkan, maka pemilik jersey bernomor punggung 33 itu bebas pergi sebelum kontraknya habis di bulan November mendatang.

Subscribe channel Youtube kami, ikuti kami di Instagram dan gabunglah bersama kami di Facebook untuk menjadi bagian dari komunitas Arema dan Aremania.