Rasionalisasi Kontrak Bisa Bikin Arema Kehilangan Pelatih dan Pemain

Rasionalisasi Kontrak Bisa Bikin Arema Kehilangan Pelatih dan Pemain
Mario Gomez (C) DANI KRISTIAN

Ruddy Widodo dengan tegas meminta adanya regulasi dari PSSI yang mengatur rasionalisasi kontrak pelatih dan pemain sebagai salah satu syarat jika Liga 1 2020 digulirkan kembali. Meski demikian, General Manager Arema itu tak memungkiri ada risiko kehialngan pelatih dan pemain.

Menurutnya, jika mengacu pada surat dari FIFA sebagai otoritas tertinggi sepak bola dunia, dengan ditetapkannya status force majeure untuk kompetisi, sebenarnya segala hak dan kewajiban klub gugur. Kontrak pelatih, pemain, dan seluruh offisial tim batal demi hukum, begitu pula dengan potensi pemasukan klub yang diikat kontrak dengan pihak sponsor.

Namun demikian, FIFA memberikan kelonggaran pada klub-klub untuk melakukan negosiasi ulang dengan pelatih dan pemain. Untuk yang satu ini, pihak klub harus menemukan kata sepakat sebelum menggunakan jasa mereka dalam lanjutan kompetisi resmi.

“FIFA meminta agar pihak klub dan pelatih, juga pemain bertemu, membahas ulang nilai kontrak. Harus mencapai titik temu, bahkan negosiasi itu bisa dilakukan maksimal tiga kali,” kata Ruddy.

Dampak Rasionalisasi Kontrak Pelatih dan Pemain Arema

Ruddy Widodo menjelaskan, kontrak pelatih atau pemain bisa tertunda jika dalam tiga kali proses negosiasi menemui jalan buntu. Risikonya, pelatih dan pemain itu tidak bisa dipakai dalam lanjutan Liga 1 2020 nanti.

Menurutnya, teknis negosiasi itu berlaku untuk seluruh pelatih dan pemain, baik lokal maupun asing. Bukan cuma klub yang tidak bisa memakai jasa mereka, para pelatih dan pemain yang tidak bersepakat renegosiasi nilai kontrak itu pun tidak bisa bergabung dengan klub lain manapun.

“Misalnya nanti tidak ada kata sepakat dengan Mario Gomez (pelatih Arema), akan ada negosiasi sampai tiga kali. Kalau masih tidak ada kata sepakat, ya dipending. Dia tidak bisa melatih Arema atau tim manapun, menunggu instruksi FIFA,” tegasnya.