FIKSI: Abadi Seperti Cinta Habibie

FIKSI: Abadi Seperti Cinta Habibie
FIKSI: Abadi Seperti Cinta Habibie (C) DANI KRISTIAN

Namaku Karina Natasha, atau sering dipanggil Arin oleh teman-teman sesama Pusamania. Ya, aku adalah wanita pendukung tim Borneo FC. Cintaku pada tim ini sangat dalam, seperti cinta Habibie kepada Ainun yang sempat difilemkan.

Awalnya, 100 persen cintaku hanya untuk Borneo FC. Bahkan, semasa sekolah di bangku SMA, aku kerap membolos demi memberikan dukungan langsung kepada Borneo FC di Stadion Segiri Samarinda. Jangankan omongan negatif dari tetangga, omongan orang tuaku saja masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Ya, mereka sering melarangku untuk pergi ke stadion. Tapi, bukan Arin jika tidak punya seribu akal dan jutaan kalimat sebagai alasan agar tetap bisa neribun.

Sampai akhirnya aku kenal dengan Joni, yang seorang Aremania. Dia pendukung klub Arema yang merupakan pesaing Borneo FC di pentas Liga 1 2019. Kami belum pernah bertemu, meski sudah berhubungan selama setengah musim kompetisi berjalan. Kami hanya berkomunikasi lewat media telepon dan Whatsapp.

Perkenalanku dengan Joni berawal dari saudaraku, Dhika, yang juga seorang Aremania, namun berdomisili di Samarinda. Sekadar tahu saja, aku lahir dari seorang ayah yang asli Malang, yang menikah dengan ibu asal Samarinda. Tak heran, banyak saudaraku yang seorang Aremania. Namun, aku memutuskan lebih menjadi seorang Pusamania ketimbang Aremanita karena kedekatan geografis saja. Tapi aku tetap cinta mati pada Borneo FC.

Petuah Tentang Cinta

Joni paling tidak suka dengan sikapku yang mendewakan Borneo FC. Dia tidak suka jika aku sering membolos, bahkan membantah kata-kata orang tua hanya demi klub yang kubanggakan. Petuah dan nasihat selalu meluncur dari mulutnya, melalui telepon tentunya, jika aku ketahuan membolos lagi.

“Boleh cinta klub sepak bola, tapi jangan sampai membutakan mata. Bahkan sampai melawan kata-kata orang tua, bisa-bisa celaka sendiri nanti,” kata Joni.

“Tanpa cinta buta, tak mungkin aku mencintaimu, orang yang belum pernah kutemui sama sekali, ya kan?” sanggahku.

Joni hanya dia, Aku pikir diamnya bukan karena menyetujui kata-kataku, tapi lebih pada berusaha tak berdebat denganku agar perselisihan tak berlanjut. Bagiku, kata-kata Joni tak ubahnya dengan omongan orang tuaku, yang cuma numpang lewat di telinga. Siapa pun tak mempan menasihatiku soal kecintaan pada Borneo FC.

Laga yang Dinanti

Laga Arema FC vs Borneo FC di pekan ke-18 Liga 1 2019 yang digelar di Stadion Kanjuruhan Malang menjadi momen yang sangat kunantikan sejak sebulan terakhir. Aku merasa punya kesempatan mendukung Borneo FC di laga away, karena kebetulan ayah hendak pulang kampung ke Malang bersamaan dengan jadwal pertandingan tersebut.

Oke, aku ikut ayah ke Malang. Tentu aku tidak bilang karena ingin nonton pertandingan sepak bola. Haha. Aku bilang saja sedang kangen ingin bertemu nenek di Malang.

Momen ke Malang ini sangat kunantikan, bukan hanya karena bisa mendukung Borneo FC di kandang Arema. Aku pun akan memanfaatkan kesempatan ini untuk menemui Joni, kekasih jarak jauh yang belum pernah kutemui selama setengah tahun ini.

“Maaf, Arin, sepertinya aku tidak bisa ke stadion. Kebetulan aku kerja masuk malam,” jawaban Joni ini tentu membuatku kecewa.

Aku mencoba merayunya. Aku meminta Joni untuk membolos kerja saja, atau minimal izin lah. Sayangnya, Joni bersikeras tetap masuk kerja dan melewatkan begitu saja laga Arema FC vs Borneo FC dan kesempatan bertemu denganku.

“Jadi, kamu tidak mau bertemu aku? Kenapa sih? Bukannya kemarin-kemarin kamu antusias bertemu denganku? tanyaku ketus.

“Bukan begitu. Oke kita ketemu, tapi tidak di stadion saat pertandingan, dan tidak pada saat aku kerja, tolonglah mengerti,” sanggahnya.

“Pokoknya, kutunggu di pintu tribun VIP. Aku sudah pesan dua tiket. Awas saja kalau tidak datang!” ancamku padanya.

Hari Itu pun Tiba

Hari pertandingan pun tiba. Aku yang datang ke Malang bersama ayah sehari sebelumnya kini sudah dalam perjalanan ke Stadion Kanjuruhan. Pamitkah kepada ayah? Pamit dong. Tapi pamit ke rumah teman. Haha.

Semalam pun aku sudah mencoba memastikan Joni bakal datang ke stadion juga. Namun, belum ada kepastian darinya. Baru pagi harinya, dia bilang akan datang menemaninya.

Sudah sejam aku menunggu di depan pintu VIP. Dua tiket masuk sudah ada di tangan. Namun, Joni belum juga muncul. Padahal waktu kick-off pertandingan tinggal setengah jam lagi. Aku duduk-duduk di tangga dekat loket yang masih dipenuhi antrean suporter. Aku mencoba menghubungi Joni, namun kali ini handphonnya tidak aktif.

Sesaat sebelum kick-off berlangsung, kuputuskan masuk lebih dahulu. Sebelumnya kutinggalkan pesan chat pada Joni, “Kutunggu di tribun VIP. Semoga kamu bukan orang yang ingkar janji.”

Aku bergabung dengan para Pusamania yang sudah lebih dulu duduk di tribun VIP. Saat itu pemain kedua kesebelasan sudah ada di lapangan, karena kick-off hendak dilakukan.

Sepanjang babak pertama berlangsung, pikiranku tak bisa fokus memberikan dukungan pada Borneo FC. Di kepalaku masih kepikiran Joni kekasihku. Namun, di sisi lain hatiku kesal padanya yang tak datang-datang. Bahkan hingga jelang istirahat turun minum, batang hidungnya tak nongol juga.

Kabar Tak Terduga

Ketika istirahat setelah babak pertama berakhir 0-0, sayup-sayup terdengar pengumuman dari Master of Ceremony Arema, Ovan Tobing.

“Perhatian untuk Aremania semuanya. Mohon doanya untuk nawak kita sesama Aremania, Joni Susilo, Aremania dari Tumpang. Tadi dalam perjalanan menuju ke stadion mengalami kecelakaan parah di Pakisaji. Saat ini dia sedang dirawat di Rumah Sakit Wava Husada. Mari kita doakan atas kesembuhannya,” ujarnya.

Jantungku nyaris berhenti berdetak mendengar pengumuman tersebut. Kuraih handphon dan coba kuhubungi nomor Joni. Namun sama seperti tadi, tidak aktif.

Aku tak peduli lagi pada pertandingan yang masih menyisakan babak kedua. Aku pun segera berlari meninggalkan kerumunan di tribun VIP. Mencari informasi di nana letak rumah sakit yang dimaksud dalam pengumuman tadi. Sampai di parkiran, langsung kuambil motor dan tancap gas ke RS Wava Husada.

Pesan Mengejutkan

Sesampainya di Instalasi Gawat Darurat RS Wava Husada, kudapati kekasihku sudah terbaring lemah di atas kasur pasien. Dia dalam kondisi tak sadarkan diri.
Dokter jaga menghampiriku. Dia mencoba menenangkanku.

“Anda keluarga pasien ini? Kondisinya cukup parah, kedua kakinya patah dan harus diamputasi. Tadi kami berikan obat penenang, karena berteriak-teriak dan berupaya kabur,” kata dokter tersebut.

Tak lama berselang, Joni terjaga. Aku pun segera menyergapnya.

“Joni, kenapa bisa begini?” tanyaku.

“Maaf,” jawabnya singkat.

“Dia tadi kecelakaan Mbak, menabrak pohon karena menghindari mobil yang ngerem mendadak,” jawab seorang wanita yang juga mengenakan kaos Arema. “Saya ibunya,”

“Dia tadi pamitnya kerja, tapi entah kenapa dia mengalami kecelakaan di jalan menuju ke stadion,” imbuhnya.

“Tante, maaf gara-gara saya Joni jadi begini,” sesalku.

“Tidak. Aku yang salah, Ma. Aku yang tidak izin Mama dulu ketika mau ke stadion. Maafkan Joni,” tukas Joni dengan suara lirih.

Di sini aku baru tahu maksud Joni pentingnya mematuhi kata-kata orang tua. Aku bersyukur selama ini tak mengalami kejadian separah ini ketika melanggar larangan orang tuaku.

“Maafkan aku, Jon,” ujarku.

“Apa kamu masih mau menerimaku dengan kondisi yang seperti ini?” tanya Joni yang membuatku terperanjat. Aku mengangguk, mencoba meyakinkannya.

“Sekali aku cinta, aku akan tetap cinta, tak peduli seperti apa kondisimu. Aku ingin cintaku kepadamu seperti cinta Habibie kepada Ainun, abadi,” tegasku, yang disambut oleh senyuman olehnya.