Reta Arroyan, Fisioterapis di Semua Level Tim Arema

Reta Arroyan, Fisioterapis di Semua Level Tim Arema
Reta Arroyan (C) HABIBIE

Reta Arroyan bisa dibilang sebagai orang tersibuk di tim Arema. Sebab, pria asal Ponorogo itu menjadi fisioterapis di semua level tim Arema, dari akademi hingga tim senior.

Perkenalannya dengan Arema dimulai di musim 2016 kala Arema dilatih Milomir Seslija. Saat itu, Reta yang sedang ikut temannya bekerja di sebuah klinik terapi ternama di Malang mulai kenal dengan pemain Arema yang menjalani pemulihan cedera.

Diakuinya, pada saat itu, masa kuliah di salah satu kampus di Malang belum diselesaikannya. Dari sekadar membantu menangani pasien pemain cedera, Reta pun kenal dengan Ahmad Nufiandani, Anthoni Putro, Goran Gancev, Esteban Vizcarra, dan terakhir Dendi Santoso.

“Setelah itu, pada musim 2017 saya sempat gabung klub Liga 3 pada putaran kedua karena mereka sedang butuh fisioterapis. Lalu, pada pertengahan 2018 saya dihubungi lagi dan diajak untuk menjadi fisioterapis Arema U-16 oleh salah satu asisten dokter tim Arema,” ungkap Reta kepada WEAREMANIA.

Merangkap Semua Level Tim Akademi Arema

Sejak menjadi fisioterapis Arema U-16 itulah, kemudian Reta Arroyan merangkap di semua level tim Akademi Arema. Pria kelahiran 14 Maret 1995 itu juga menangani tim Arema U-18, dan U-20 di kompetisi Elite Pro.

Bahkan, musim lalu Reta pun bertugas menjadi fisioterapis tim Arema Putri di Liga 1 Putri 2019. Hal ini membuktikan kepercayaan manajemen Arema padanya cukup besar.

“Alhamdulillah saya dipercaya manajemen Arema junior untuk merangkap menjadi fisioterapis U-16, U-18, dan U-20, hingga di liga Liga 1 Putri 2019. Bahkan, kalau saya sedang bebas tugas juga kadang disuruh bantu di tim senior Arema,” imbuhnya.

Curhat Kesulitannya di Semua Level Tim Arema

Kesulitan utama Reta Arroyan sebagai fisioterapis di semua level tim Arema menurutnya adalah ketika banyak pasien pemain yang cedera, dan dikejar waktu pemulihan. Tentu harus bisa membagi waktu, yang untungnya jadwal kompetisi semua kelompok umur itu tidak bersamaan.

“Sering juga saya sharing dengan dokter Nanang (dokter tim Arema). Misal ada beberapa pemain di kelompok umur, bahkan di Arema Putri kemarin yang cedera serius, atau butuh penanganan dari dokter. Saya selalu berkomunikasi terus dengan dokter untuk berkonsultasi langsung, agar cedera pemain segera teratasi,” pungkas lulusan Universitas Muhammadiyah Malang itu.